ello : LoversoiX



Ketika Kau Memperoleh Keinginanmu Kau Kehilangan yang Kau Miliki

Tittle : Goloso Geloso
Penulis : Tanti Susilawati
Penerbit : GagasMedia

Sebelum aku ngejelasin panjang lebar Goloso Geloso, aku mau ngasih jawaban pada teman-teman yang nanya, “Mengapa buku dalam postingan Bilik Buka Buku (B3) di blog ini, nggak ada harganya sama jumlah halamannya,” kurang lebih pertanyaannya semacam itu. Harus kujawab dengan sederhana, aku sengaja nggak nampilin hal itu karena, dua substansi itu sering berubah, harga sering naik sewaktu-waktu, trus jumlah halaman sering bertambah (seperti penambahan lembaran khusus untuk endorsement bila suatu buku telah cetak ulang.)
Trus yang kedua, aku mau ngabarin buat teman-teman, salah satu buku terbaru dari GagasMedia yang baru terbit tahun ini, Moonlight Waltz karya Fenny Wong telah cetak ulang. Aku dapet infonya lewat twitter-nya GagasMedia. Aku turut bahagia, sekaligus maungabarin bahwa buku ini telah aku review di masa-masa awal penerbitannya (silahkan klik link Bilik Buka Buku: Moonlight Waltz di sebelah untuk melihat hasil review aku). Aku mengklaim hasil review aku terhadap novel Moonlight Waltz berhasil, sebab aku mampu menarik penulisnya sendiri Fenny Wong untuk komen di blog aku. “Thanks Allah, ternyata masih ada penulis hebat yang mengunjungi blog aku. Aku yakin apa yang terjadi pada Fenny Wong tertular padaku. (Tapi dalam hati sih aku pengin kalo hasil review aku dijadiin endorsement di novel Moonlight Waltz, hehehe…. Ngarep!)”
Eh, BTW, aku mau ngucapin selamat buat tim Gagas yang udah berhasil menelurkan Moonlight Waltz yang simpel, ringan, enak, renyah seperti Popcorn, namun menyedihkan itu.
Stop! Langsung masuk aja pada inti buku Goloso Geloso. Sorry ya aku mesti menjelaskan dua hal lain di luar topik Bilik Buka Buku kali ini. Nah, aku beli Goloso Geloso di kotaku, berhubung toko buku Gramedia yang sekaligus toko buku terbesar di Maluku baru di buka bulan lalu di mall terbesar di Ambon, jadi sekarang untuk nyari buku-buku GagasMedia nggak susah-susah lagi. Sebenarnya hari itu gue pengin beli buku Perahu Kertas-nya Dewi Lestari, tapi nggak ada. Kata penjaga kasirnya Perahu Kertas akan ada bulan depan, lama amat. Trus aku putar haluan bolak-balik nyari novel yang pas untuk mengganti Perahu Kertas. Akhirnya jatuh juga pilihan aku ke Goloso Geloso. Mungkin covernya yang klasik dengan dua buah cangkir yang imut (tapi satu cangkirnya mirip bakul nasi), membuatku mendeliknya dan mencomotnya dari rak novel. Hmmm… belum lagi sinopsisnya yang greget bikin aku penasaran. Aku mesti salut, Gagas Asli bener membuat sinopsis novel, sedemikian cantik seperti itu. Aku aja langsung jatuh cinta.
Cerita novel ini dimulai ketika Larasati, cewek asli Indonesia pindah dari Perugia ke Milan untuk melanjutkan study-nya. Di sana dia telah dinanti sosok pria Italia baik hati, Chicco. Sebelumnya mereka hanya bertemu lewat dunia chatting. Saat di Perugia, Larasati tinggal bersama Renata, cewek ini pula yang mengenalkannya pada Chicco karena hubungan Renata dan Chicco, sepupuan.
Bersama Chicco, Larasati dipekenalkan dengan keluarga Chicco/De Boni yang sangat memuja AC Milan. Namun ternyata cewek itu nggak bisa membohongi diri kalo sebenarnya dia adalah maniak Inter Milan. Bersama pria Italia itu juga dia mencicipi sudut demi sudut kota Milan.
Secara Itali terkenal dengan sepak bola, maka dalam cerita ini nggak jauh-jauh dari sepak bola. Hmm… berasa kayak novel cowok. Tahu nggak, ada pertarungan mengasikan dalam novel ini. Jadi buat kamu penggila AC Milan dan Inter Milan, atau penyuka Liga Italia, a must read!
Beberapa tokoh pendukung lain yang paling dominan memenuhi novel ini adalah Kayla. Cewek yang suka asal kalo ngomong itu––teman sekamar Larasati di apartemen. Wanita ini seperti harapan sekaligus pengganggu hubungannya dengan Chicco. Tapi yang mengesankan adalah tokoh Pippo yang begitu aku suka. Nggak tahu ya mungkin tokoh ini muncul di tengah-tengah kehidupan cinta Larasati, dengan secuil tragedi dan sekelimut kisah manis, sampai-sampai aku begitu menyukai tokoh ini.
Trus, aku salut kata-kata, kalimat-kalimat dalam Goloso Geloso, pokoke keren! Suntingan dari Gita Romadhona luar biasa edan, kata demi kata dalam novel ini menggetarkan, asik, brilian, percakapannya asik, dan nggak terduga. Satu lagi yang bikin novel ini spesial, di setiap lembarnya penuh dengan hiasan di setiap lembar novelnya, bikin kita nyaman melihatnya, berlama-lama membaca, bahkan dalam keadaan ngga mood baca sekalipun, kita seperti ingin terus memegangnya.
Dan yang udah bisa kebayang di otak kamu, setting di Italia-nya itu loh, bikin novel ini memliiki nilai marketable yang fuiiiiiih… Tinggi!

Masalah kekurangannya, apa ya… aku sama sekali nggak menemukan celah kelemahan dalam novel ini. Pokoknya nyaris sempurna.
Untuk bagiannya ending-nya ternyata Goloso Geloso lumayan manis untuk sebuah novel yang marketable seperti ini. Kamu akan menemukan sebuah kisah tragis yang berakhir manis.

Keunggulannya sendiri, novel ini menggabungkan semua kelebihan sebuah karya, mulai dari setting yang menakjubkan (seolah pembaca ikut merasakan kemegehan kota Milan), ide dengan memasukan Liga Italia sebagai unsur certita, kalimat-kalimat yang menggetarkan, asik, brilian hasil suntingan Gita Romadhona, desainya cover-nya yang menarik perhatian, isi halamnya yang penuh dengan hiasan dipadu sebuah sinopsis yanng menyimpan suatu rasa “penasaran”. Kamu nggak akan menyesal memiliki novel sebaik ini. Tunggu apa lagi, saat ini Goloso Geloso sedang menantimu…