Available on bookstore

Available on bookstore

05 July 2016

Selamat Idul Fitri 1437 Hijriah





Selamat Idul Fitri 1437 Hijriah, 1 Syawal 1437 Hijriah

Kehidupan adalah pohon yang kau tanam, air dan unsur hara (bisa jadi) amal dan perbuatan. Tinggal memilih, kau ingin berbuah dan bersemi di musim mana? Semoga di lebaran ini, syawal adalah waktu yang baik untuk memanen hasilnya. 

Buat teman-teman pengunjung blog ini:
Mohon maaf, jika ada salah-salah kata atau perbuatan saya, yang sengaja maupun tak sengaja.
Mudah-mudahan, kita semua bisa menjadi orang-orang tegar yang bisa mudah memaafkan orang lain

20 February 2016

Jasa Book Reviewer

Hai teman-teman penulis, yang sudah menerbitkan buku atau novel—yang mayor maupun indi, aku mengadakan jasa review buku, dengan tajuk “Book Reviewer”. Kebetulan memang aku senang me-review buku-buku penulis tanah air dalam #BilikBukaBuku yang sering aku posting ke dalam blog ini.
Buat teman-teman yang pengin, silakan kirim bukumu yang sudah terbit ke:

Jln. Tarmidzi Taher – Lrg. Aspun,
Kebun Cengkeh, Batu merah Atas
Ambon, 97128
Tlp. 081267605238
Atas nama: Ello Aris

Ingin tanya-tanya lebih lanjut, langsung aja ke twitter aku ya di @elloaris. Hasil review-nya juga nanti aku posting di twitter, facebook dan juga instagram. Ditunggu ya, teman-teman!

Salam,
Ello Aris

13 February 2016

Film Review: Tamasha

Film: Tamasha
Cast: Ranbir Kapoor, Deepika Padukone
Directed: Imtiaz Ali

Yeay, kali ini mau nge-post lagi salah satu film Hindi. Dan filmnya ini baru aku nonton sekitar 3 hari lalu. Judulnya Tamasha. Film ini direkomendasikan oleh Yathy, teman siaran aku. Dari trailer-nya di youtube, kelihatan menarik, tapi benarkah demikian? Let’s kita review saja.

Tamasha sendiri diperankan dua mega bintang Bollywood, Ranbir Kapoor dan Deepika Padukone. Di sini Ranbir Kapoor berperan sebagai Ved Vardhan Sahni, sementara Deepika Padukone berperan sebagai Tara Maheswari. Cerita ini, dimulai dari Ved kecil (yang diperankan Yas Sehgal) yang suka sekali dengan dongeng. Saking tergila-gilanya, Ved bahkan senantiasa membayar seorang bapak tua untuk mendongeng apa saja, agar dia bisa puas. Dari sinilah terbentuk kepribadian Ranbir yang benar-benar di luar pikiran anak-anak biasa. Penuh imajinatif, gaya bicara yang blakblakkan, serta bertingkah seperti pemain opera.

Sekian tahun kemudian, ketika dewasa, saat liburan ke Corsica (Prancis), Ved tak sengaja bertemu Tara. Saat itu Tara harus menelepon ke India karena paspor dan visanya hilang. Ved memberikan bantuan kepada Tara. Uniknya mereka berkenalan dengan nama lain. Ved mengaku namanya Don, dan Tara mengaku nama Mona Darling. Dari perkenalan itu, mereka merasa klop, apalagi Ved benar-benar pria yang penuh imajinatif, spontan, tahu banyak hal tentang dongeng, cerita, dan hikayat. Sifatnya yang seperti pemain opera membuat Tara jatuh hati.

Sayang, setelah menghabiskan waktu bersama, keduanya harus berpisah. Tara harus kembali ke Kalkota. Setelah beberapa tahun, Tara pindah ke Delhi. Di Delhi dia bertemu dengan Ved. Tapi kenyataan buruk menimpa Tara. Ved yang selama ini dikenal Tara di Corsica, berbeda dengan Ved yang ada di Delhi. Ved yang sekarang adalah pria kantoran biasa, kesehariannya datar, tidak punya rasa humor dan benar-benar garing. Tidak seperti apa yang ditemui di Corsica. Hal inilah yang membuat Tara menolak ajakan menikah dari Ved dan membuat Ved harus kembali ke Shimla. Di kampung halamannya, Ved membuat perhitungan dengan ayahnya. Ved merasa aturan ayahnyalah yang menjadi penyebab, dia harus mengubur sifat aslinya yang spontan, imajinatif, blakblakan.

Eksekusi ending-nya, memang tak mengecewakan tapi kurang gereget, meski pada akhirnya cita-cita Ved terwujud. Terlepas dari itu, sebenarnya, menurut aku filmnya sih oke, dan ide cerita di luar film drama romantis sejenis. Tapi agaknya Imtiaz Ali, sedikit membuat film ini agak monoton dan sunyi yang ‘tidak enak’. Aku pakai tanpa petik, karena ada beberapa film dengan scene-scene sunyi yang enak dijadikan jalan cerita. Aku suka bagian-bagian ketika di Corsica, acting Ranbir dan Deepika benar-benar hidup, liar, gila dan berkembang. Sayangnya ketika berpindah ke scene-scene di India karakter mereka benar-benar berubah, terutama Ranbir. Tapi memang begitulah cerita yang diskenariokan.

Untuk setting, aku suka di Corsica dan Shimla—sebab yang pernah aku bilang, untuk film aku kurang suka setting perkotaan, bosan! Jadi dalam fim ini, Corsica dan Shimla akan memanjakan matamu dengan pemandangan laut, gunung, dan rumah-rumah khas daerah setempat. Sementara musiknya cukup enak. Aku suka lagu Mohit Chauhan, judulnya Matargashti. Scene-nya Ranbir dan Deepika di Corsica. Keren—berasa terbawa ke dalam film Barfi.

Secara keseluruhan aku beri nilai 2,7 dari 5 Bintang untuk film ini. Karena jujur, aku agak kecewa dengan ceritanya yang datar, meski ide Imtiaz Ali menghadirkan karakter Ved yang spontan dan imajinatif memang luar biasa, tapi selebihnya kurang gereget, padahal acting Ranbir maupun Deepika juara sangat! Nah ini ada lirik keren dari soundtrack  Tamasha—yang kurasa mewakili karakter Ved yang menjadi sentral cerita:

Majulah ke depan, curahkanlah isi hatimu.


Jalur impianmu

09 February 2016

Film Review: Bajrangi Bhaijaan & Prem Ratan Dhan Payo

Film: Bajrangi Bhaijaan
Cast: Salman Khan, Kareena Kapoor, Harshaali Malhotra, Nawazuddin Siddiqui
Directed: Kabir Khan

Akhirnya, aku bisa kembali me-review film hindi, setelah bulan lalu me-review Dilwale. Jujur aja nih, aku adalah salah satu penggemar film Bollywood. Sudah hampir tiga tahun maniak film Hindi—sejak keracunan Chennai Express (walau dari zaman SD sudah suka sama jenis film ini, wkwkwkw).

Nah kali ini, aku coba review salah satu film Bollywood yang rilis tahun lalu, tepatnya 17 Juli 2015. Ya, aku baru sempat nontonnya Januari lalu, setelah direkomendasikan dari si film maker Rifky Husain. Film ini berjudul Bajrangi Bhaijaan. Dan sumpah, film ini menjadi film 2015 yang menguras empati sekaligus bikin sedih saking tersentuhnya. Tidak kehitung berapa kali aku meneteskan air mata sepanjang menonton film ini.

Cerita Bajrangi Bhaijaan sendiri dimulai dari hilangnya Shahida atau Munni yang diperankan Harshaali Malhotra, di perbatasan India – Pakistan. Shahida (Munni) sendiri dibawa ibunya dari Pakistan ke Delhi-India untuk berobat karena Shahida bisu. Sayang, saat ingin kembali ke Pakistan, Shahida terpisah dengan ibunya di perbatasan. Tinggalah Shahida terlantar sendirian di India. Pawan Kumar yang diperankan Salman Khan tak sengaja bertemu dengan Shahida setelah melakukan sebuah perayaan dalam agama Hindu. Pawan lantas memberikannya, makan dan minum karena kasihan.

Jalan cerita mulai berubah ketika Shahida diam-diam mengikuti Pawan kemanapun dia pergi. Alhasil, dengan terpaksa Pawan membawa Shahida ke rumah tunangannya. Pawan sendiri memang tinggal di rumah calon istrinya Rasika yang diperankan Kareena Kapoor. Masalah muncul ketika Shahida yang ternyata seorang muslim, sangat bertentangan dengan ayah Rasika yang seorang penganut Hindu. Karena tak ada kompromi dari ayah Rasika dan juga karena rasa humanis, Pawan yang taat pada agamanya, bertekad mengantar pulang Shahida (Munni) ke Pakistan. Dalam perjalanan inilah Salman Khan melewati terjangan rintang yang berliku. Kamu yang menonton di bagian ini, mungkin akan gereget, antuasias sekaligus bercucuran air mata.

Jujur film ber-genre Indian comedy-drama ini, adalah salah satu film India terbaik yang pernah aku tonton. Kabir Khan memang sengaja mengangkat cerita yang berlatar belakang kedua negara yang sempat berkonflik ke dalam sebuah cerita yang manis. Antara India dan Pakistan, Hindu dan Islam. Apalagi film ini dirilis pada tanggal 17 Juli bertepatan dengan Idul Fitri 2015. Sebuah toleransi yang baik ketika Kabir Khan ingin menghadirkan sebuah cerita indah dalam merayakan Idul Fitri di tengah-tengah mayoritas Hindu di India. Ada banyak adegan yang aku suka dalam film ini, terutama ketika Pawan sudah berhasil membawa Shahida ke perbatasan melewati Pakistan, juga pada bagian-bagian mendekati ending cerita yang melibatkan emosi dan antusias. Sementara untuk ending-nya meski sederhana, tapi luar biasa, K. V. Vijayendra Prasad sebagai penulis cerita dan Kabir Khan, sudah memikirkan setting dan situasi yang mewakili Pakistan dan India. Satu hal yang bisa kita ambil dari Bajrangi Bhaijaan adalah sisi humanisnya, apalagi kalau kita lihat, di zaman sekarang ini, kepedulian semakin surut dari sifat manusia modern. Sementara Bajrangi Bhaijaan benar-benar membawa kita merenung, betapa berharganya mengulurkan tangan kepada orang lain.

Untuk acting, Salman begitu apik bermain sebagai Pawan. Namun bagiku sifatnya yang tidak bisa berbohong, terlihat kurang realistis. Sementara Kareena Kapoor agaknya memang diberi porsi yang sedikit, terlihat sekali dari scene-scene-nya. Tak heran jika nanti kamu beranggapan kalau Kareena kurang meng-explore kemampuannya. Tapi…, semua terbayar dengan ceritanya yang luar biasa. Karakter yang paling aku suka, ya tentu karakter Harshaali Malhotra. Menjadi bocah bisu, dia seperti memberikan energi untuk orang-orang di sekitarnya.

Untuk urusan setting, aku suka setting di Pakistan—terutama ketika Salman Khan harus bersembunyi dari kejaran polisi Pakistan. View desa-nya cantik. Ini mengingatkan aku dengan setting Chennai Express, atau mungkin karena akhir-akhir ini aku memang lagi senang nonton film yang setting-nya pedesaan, (tempat terpencil) atau pegunungan—sebenarnya sih efek jenuh dengan kota. Sedangkan untuk musik, rata-ratalah, sebab Bajrangi Bhaijaan sendiri bukanlah film romantis yang mengharuskan full musik seperti film-film Bollywood kebanyakan.

Secara pribadi, aku sangat suka dengan film ini. Pokoknya buat kamu yang belum nonton, film ini aku rekomendasikan sebagai film yang patut kamu nonton. 100% recommended. Sekadar tips juga, selalu siapkan tisu jika kamu menonton film ini. Untuk itu, aku beri nilai 4,5 dari 5 Bintang untuk film ini. Mendekati sempurna kan? Mungkin inilah penggalan lirik dalam salah satu lagu film ini, yang barangkali bisa mewakili kisah Pawan dan Shahida:

Sejak kita bertemu, tujuanku jadi mudah. Karena aku jantungnya dan kau detaknya

***

Nah ada satu lagi film Salman Khan yang baru aku tonton semalam, aku ringkas ya.

Judul: Prem Ratan Dhan Payo
Cast: Salman Khan, Sonam Kapoor, Neil Nitin Mukesh
Directed: Sooraj R. Barjatya

Jujur bagiku, film Prem Ratan Dhan Payo, kurang gereget, meski film ini aku perkirakan menghabiskan banyak uang dalam pembuatannya. Sebab gilaaak, banyak set yang mewah dan melibatkan banyak penari dalam penggarapan adegan lagunya. Prem Ratan Dhan Payo sendiri bercerita tentang keluarga kerajaan di zaman modern, yang saling memperebutkan tahta dan harta. Jujur, ceritanya ala-ala dongeng—dimana ada seorang pria biasa, yang wajahnya mirip dengan pangeran—dan ide cerita seperti ini sudah bisa ditebak plotnya. Tapi di India sendiri, Prem Ratan Dhan Payo termasuk 10 film populis 2015 di India. Di sini, Salman berperan ganda sebagai Prem Dilwale dan juga berperan sebagai Yuraj Vijay Singh (Pangeran Pritampur). Sementara acting Sonam Kapoor, menurutku agak jelek—mungkin perannya sebagai putri Maithili membuatnya kaku. Bicaranya harus ditahan, gaya jalannya diatur, dan penuh perhitungan. Aku sih, lebih suka peran Sonam Kapoor dalam film Khoobsurat yang juga bertema kerajaan.

Tapi buat kamu yang ingin kembali mengenang masa-masa film India yang menghadirkan full tarian dan musik, mungkin film ini akan mengobati rasa kerinduan kamu akan film Bollywood zaman 90an hingga 2000an awal. Setting-nya kece badai sih ya, dan itu tadi kayaknya film ini memakan budget yang amat luar biasa banyak. Soalnya set-set kerajaannya wuidiiih indah bener! Untuk film Prem Ratan Dhan Payo, aku kasi 2,7 dari 5 Bintang.


04 February 2016

Bilik Buka Buku: Hujan

Kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa mengentikannya

Judul: Hujan
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia

Hai sahabat blogger, akhirnya aku bisa nge-post Bilik Buka Buku yang kedua tahun ini. Kali ini aku mau review salah satu novel yang terbit akhir Januari 2016 kemarin. Judulnya Hujan, karya Tere Liye—salah satu novelis yang melahirkan novel-novel laris.

Nah, aku sendiri memperoleh novel ini dengan cara pre-order di situs toko online gramedia. Lebih memilih beli online, karena cepat dan tidak buang tenaga juga sih, harus putar-putar toko offline. Lagian dapat potongan harga, tapi harusnya kalau pre-order, ada bagusnya ditandatangani oleh penulisnya sih—ya, sekedar saran aja buat gramedia dan Tere Liye.

Kita bedah dulu ya, dari sisi covernya. Novel Hujan sendiri menghadirkan gambar rintikan hujan atau titik air dengan warna biru pudar—yang memang menggambarkan hujan. Tapi bagi saya ini agak mengecewakan. Untuk sebuah cover dari judul yang tampak marketable ini, sangat datar, malah mirip gambar buku cerita anak. Kenapa tidak menggunakan gambar asli—foto hujan misalnya. Itu lebih terkesan hidup dan suasana romantisnya mungkin bisa saja akan terasa.

Awalnya aku pikir dengan judul Hujan ini—cerita di dalamnya, akan menghadirkan banyak plot-plot sentimental atau membawa orang-orang merasakan banyak kisah romantis—apalagi blurb-nya cukup simple dan ‘menjual’ kata-kata yang setidaknya bikin calon pembeli akan langsung jatuh hati. Tapi… tidak begitu kenyataannya, jadi mari kita mulai me-review novel Hujan ini.

Cerita Hujan dimulai ketika seorang gadis bernama Lail yang harus bertemu Elijah, seorang petugas medis untuk menghapus ingatannya terhadap hujan. Kenapa Hujan? Sebab menurut Lail banyak kejadian-kejadian penting dalam hidupnya banyak berhubungan dengan Hujan—termasuk hubungannya dengan Esok. Novel ini, menggunakan alur maju dan mundur, sehingga ketika awal membaca kita akan langsung ke setting tahun 2050.

Di tahun 2050 inilah, Lail mulai menceritakan kronologis kisah dalam hidupnya kepada Elijah, sebelum petugas medis itu benar-benar memutuskan untuk menghapus semua kenangan pasiennya tentang Hujan. Maka pembaca akan dibawa mundur dengan cerita-cerita Lail, dimulai dari tahun 2042, ketika dia harus menuju sekolah bersama ibunya. Jika kamu pernah menonton film Slumdog Millionaire, kira-kira begitulah alur dalam novel ini.

Ditahun 2042, ketika bencana letusan gunung berapi, yang memporak-porandakan seluruh dunia, Lail diselamatkan oleh seorang pria bernama Esok (Soke Bahtera). Pria inilah yang kemudian membantu Lail melewati hidupnya sebagai yatim piatu akibat bencana besar tersebut. Awal-awal bab dalam novel Hujan memang cukup membuatku terkejut. Harus kuakui, bahwa aku cukup kagum dengan isi cerita—dimana Tere Liye benar-benar melakukan riset tentang bencana gunung berapi dan cukup pintar memikirkan seperti apa nanti tahun 2042, mulai dari teknologinya, perubahan transportasinya dan pembangunannya, ya meski belum tentu akan sebagus itu perubahan di tahun 2042 jika kita masih bertahan hidup hingga tahun 2042. Selain itu, bab-bab awal ada nilai penting yang dihadirkan oleh Tere Liye, yaitu Empati. Bagaimana kita bersikap untuk bisa menolong dan bermanfaat untuk orang lain, serta peka terhadap orang di sekeliling. Ini sungguh-sungguh menyentuh, apalagi sosok Esok benar-benar seperti pahlawan dari negeri ‘antah-berantah’

Cerita-cerita selanjutnya, pembaca akan digiring dengan kisah Lail dan Esok yang menjalani hari-harinya di penampungan, kemudian di panti asuhan, dan kemudian mereka berpisah, lantaran Esok diadopsi oleh walikota karena kepintarannya. Jika kamu jenis pembaca yang mungkin mencari adegan-adegan romantis dalam novel yang terlanjur menjual cinta dalam blurb-nya, mungkin Hujan tidak banyak menghadirkan hal tersebut—tapi itu terbayar ketika kamu menikmati setiap cerita Tere Liye tentang kebersamaan Lail dan Esok di atas sepeda merah atau bagaimana mereka menuju lubang tangga kereta kapsul.

Untuk karakter Lail aku cukup suka, dia pemberani, mau menerima perpisahan dan tidak pernah menuntut. Sementara jujur, untuk Esok atau Soke Bahtera yang digambarkan cukup sempurna dalam novel ini, aku kurang suka, karena memang aku adalah jenis pembaca yang tidak terlalu suka dengan penggambaran karakter yang sempurna dalam sebuah novel. Seperti dongeng jatuhnya. Dan untuk sosok pembantu utama seperti Maryam, bagiku ini yang kelihatan riil. Kribo dan jerawatan. Aku suka. Dan seharusnya seperti ini, tidak melulu seorang tokoh digambarkan punya fisik dan karakter sempurna.

Untuk narasinya, memang tidak bisa diragukan, Tere Liye benar-benar juara dalam novel ini. Latar belakang cerita yang sepintas lewat isinya terasa berat, benar-benar bisa dibikin renyah oleh Tere, sehingga aku pribadi sangat-sangat suka. Kita seperti berada di situasi yang digambarkan oleh Tere Liye dalam Hujan. Bahkan satu minggu setelah membaca novel ini, aku masih merasa seperti berada di tahun sepanjang 2042 sampai 2050, merasakan letusan, ketegangan dan petualangan-petualangan Lail. Jarang-jarang aku meraskan demikian saat baca novel. Sayangnya, Tere Liye kurang menjelaskan sisi filosofis hujan—yang mungkin saja berbeda di kacamatanya.  Aku sih awalnya mengira akan ada banyak makna-makna hujan yang akan dijelaskan menggunakan narasi-narasi cantik di dalam novel ini, apalagi kalian tahu kan? Di luar sana, ada banyak penulis yang memuja hujan dalam cerita-cerita mereka.

Lalu bagaimana dengan ending-nya? Cukup mengejutkan sebab Lail tetap memilih untuk menghapus Hujan agar benar-benar melupakan sosok Esok.

Untuk penilaian, aku beri nilai 3,9 dari 5 bintang untuk novel yang cukup luar biasa ini. Segar secara ide, setting yang ajib (meski tak menyebutkan nama tempat), dan riset yang oke. Sebagai penutup aku beri quote lucu dari novel ini yang lumayan mengena di hati


Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita