17 May 2013

Pray For My 2nd Novel

Hehehehe, sahabat, kali ini saya coba posting lewat blackberry--karena memang koneksi internet di kantor lagi mual-mual.

Dan saat ditemani senja, inilah tulisanku di bulan Mei, khusus untuk kalian semua.

Sahabat, beberapa kali sudah saya dimintai revisi dari editor saya (namanya rahasia, yang pasti dia wanita yang amat cantik) untuk novel ke dua saya. Semoga revisi terakhir ini, jadi final ya sebelum terbit. Hehehehe. Tapi gak menutup kemungkinan, bakal ada revisi lagi. Tapi minta doanya ya sahabat, agar segera lahir novel kedua saya--dan pastikan buku saya, akan ada di rak bukumu.

Oke, sekian ya--saya takut terlalu lama menulis membuat saya lupa menikmati senja hari ini.

Best regards,
@elloaris


---
Powered by Telkomsel BlackBerry®

19 April 2013

The Next Project


Oke, menyambungi postingan saya sebelumnya, dengan judul With a New Story, mengenai ‘next project’  maka dengan ini saya kasih bocorannya. Kalian tahu, kini saya sudah mulai menulis novel yang saya rencanakan dalam ‘next project’ tersebut. Ceritanya seperti kalian tahu kan, saya coba mengangkat sisi religius dari kisah yang bakal saya bukukan, dan mungkin di setiap babnya dapat kita temukan cinta, hati, dan sisi kelembutan dengan balutan agamis yang tak terlalu fanatik.

Berlatar kota Amritsar di India, saya coba memadukan budaya, agama dan impian dari tiga tokoh yang memiliki cerita yang kuat mengenai kehidupan mereka di sebuah kota di provinsi Punjab. Dan bagaimana alurnya… sepertinya itu akan menjadi rahasia dulu, dan berikan saya kesempatan untuk menceritakannya di lain postingan.

Dan cerita inilah yang menyibukkanku selain ber-on air ria di RRI. Tapi Alhamdulillah pembuatan cerita ini, dapat menemaniku dalam menanti terbitnya novelku yang ke dua. Oke, sekian dulu ya… sebab aku tak mau terlihat cerewet dalam tulisanku kali ini.

04 April 2013

With A New Story




Wah, rasanya sudah lama ya saya tak membagi cerita baru—atau sekadar inspirasi lewat tulisan-tulisan di blog ini, dan kumohon jangan menvonis diri ini dengan sebutan ‘selingkuh’ dari dari dunia blog, karena sebetulnya word ‘selingkuh’ selalu berkonotasi negatif. Memang sih, waktu dari Agustus 2012, sampai hari ini bukanlah waktu yang singkat, dan itu membuat kalian bertanya-tanya selama 8 bulan saya ke mana? Saya masih di lingkunganku dan tak pernah terbersit melangkah kedunia antah-berantah, tetapi hanya saja saya lebih nyaman bermain di dunia burung-biru (kalian tahu, maksud saya, dengan akun @elloaris kan?) hingga aku merihatkan [sejenak] diary online-ku. Jadi…. lewat tulisan ini ada beberapa hal yang pengin aku sampaikan, semoga ini juga menjawab beberapa rasa penasaran ‘hebat’ yang mungkin sering kalian tanyakan padaku lewat twitter, sekaligus lewat tulisan ini saya coba sajikan khusus untuk mencurhati sedikit dunia baruku dan kehidupan menulisku tentunya… so siapkan popcorn-mu karena tulisan yang akan kalian selami ini, lebih nikmat daripada menonton film sekalipun.

Novel yang akan terbit.
Mungkin kumpulan kata ‘Novel yang akan terbit’ merupakan awal yang pas aku bercerita. Banyak teman-teman yang menanyakan hal itu kepadaku via twitter, dan sudah banyak kuladeni dengan mengatakan, “Bantu dengan doa ya…”. Perkataan tersebut dengan banyak versi kubalas kepada para follower-follower-ku yang sering menanyakan karya terbaruku. Dan lewat blog ini aku ingin memberikan kabar gembira, InsyaAllah tidak lama lagi novel saya akan terbit di sebuah penerbit mayor terkenal, saya telah melakukan komunikasi dengan editor novel tersebut. Dan jika kalian bertanya apa judulnya dan dimana penerbitnya, kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk membocorkannya, karena bagiku jika hal itu menjadi [sedikit] rahasia akan terkesan lebih ‘wow’, lagian rahasia itu selalu cantik ketika menjelma sebagai surprise bukan? Intinya adalah saya meminta doa teman-teman, terutama follower-ku yang sedang menanti. Dan… kumohonkan doa lagi dari kalian seluruh pembaca blog ini—semoga kalian tak pernah bosan menyediakan support padaku, sebab saya selalu yakin doa membantu segala hajat yang kita panjati. Semoga tahun ini juga terbit—dan kurasa itu menjadi kado terbaik sepanjang masa jika benar-benar terwujud, sebab cita-citaku terpenuhi untuk menerbitkan buku pada  penerbit ‘tersebut’—yang kalian tahu kan cover novel-novelnya saja bahkan dapat membuat readers melayang ke awan, apalagi saya yang sejak dulu jatuh cinta kepada terbitan-terbitan mereka. Tuhan… semoga penerbit ‘seksi’ ini selalu diberi keberkahan sepanjang tahun, Amin…!
Kucukupkan cerita ‘Novel yang akan terbit’ di sini ya, karena aku tak ingin membuat kalian lama menanti cerita yang sedang mengantri di bawah ini, hehehehehe.

Novel ‘waiting list’ lahir.
Mungkin tulisan ini membuat kening kalian akan terangkat seketika hehehehe. Menggarap novel lagi? Ya itulah yang kukerjakan di sela-sela pekerjaanku sebagai penyiar radio di RRI. Dan kurasa sampai kapan pun menulis selalu menarikku ke dalam dunia yang menyajikan sejuta imaji, dan sampai detik ini menulis selalu memberikan terapi hangat di otakku, hmmm… sepertinya aku menjadi semakin dewasa karenanya.
Sebenarnya, aku sudah menyelesaikan satu naskah novel, dan siap kukirimkan untuk mengikuti lomba. Novel ini kukerjakan setahun lebih dengan melibatkan banyak orang sebagai penguat data, bahkan kalian tak pernah membayangkan bahwa novel ini membuat tidur saya berkurang dan kantong mataku mulai tampak hitam. Tapi Alhamdulillah, hasilnya memuaskan bagiku, karena kurasa cinta telah aku temukan dalam lembar-lembar novel yang kutulis itu—dan cinta merupakan bagian-bagian tak terdefinisi kuat dan abadi, meski wujudnya berupa rangkaian paragraf-paragraf. Bagiku, tak penting juara berapa yang akan nanti didapati novel itu, atau sama sekali tidak menyabet satu juara pun, bagiku ketika naskah novelku jatuh ke tangan orang lain (pembaca—editor penyeleksi), itulah value puas yang aku [penulis] rasa sudah cukup.

Next project.
Dan inilah tulisan terakhir yang baiknya ku-share sekarang. Aku sedang menggarap sebuah novel religi, dan kurasa dukungan kalian sangat kubutuhkan di sini, bagaimana tidak, aku awam sekali dalam penulisan genre ini—lagipula pengetahuan agamaku cetek. Lewat novel religi ini saya mencoba mencintai dan dekat dengan Tuhan-ku, bukan untuk memamerkan bahwa aku adalah pria religius, tetapi inilah aku seorang pria yang terlahir sebagai seorang muslim, dan jika nanti novel religi ini menjadi pesan dakwah, kurasa itulah bonus yang bisa saya bagikan ke pembaca.
Dan bagaimana nanti isi ceritanya? Kurasa kata ‘rahasia’ kembali yang bisa kuberikan, sebab ‘rahasia’ selalu menjadi sesuatu yang cantik bila nantinya dibocorkan.

Nah, saya sudahi cerita ini disini—dan tiga cerita di atas kurasa cukup, lagian… jika dipanjangkan akan membuat mata kalian mengantuk dan perut kalian akan mual. Sampai jumpa di twitter ya, tetap pantengin akun @elloaris, dan teruslah menulis serta membaca sebab disitulah dunia terlihat lebih dekat denganmu.

07 August 2012

Curhat Sang Presiden On Air

Nanti bila ada yang sumringah mungkin itu saya atau bahkan sepanjang malam saya akanmenyemat senyum.  Barangkali itu dapat diartikan sederhana dengan kata ‘bahagia’. Kata tersebut mungkin pas atas perasaan yang melanda. Tapi kumohon jangan men-judge apa yang kurasakan dengan istilah ‘terlalu lebay’—bagiku itu istilah yang tak enak di indera pendengaran.

Oke bagaimana tidak, semalam pertama kali novel perdana saya Curhat Sang Presiden on air di radio secara live. Meski waktu agak molor beberapa menit dari jadwal yang ditentukan, akhirnya proses radio talkshow itu berjalan baik selama 60 menit. 

Sebenarnya saya menjadi agak linglung untuk memulai membahasnya.  ‘Dari mana awalnya’ itu menjadi masalah serius, atau barangkali lebih afdol jika saya membocorkan terlebih dahulu lokasi on air. On air perdana Curhat Sang Presiden ini di station RRI Pro 2, frekuensi 98,4 FM Ambon tanggal 6 Agustus 2012 jam 20.00 WIT dalam acara Pro 2 Resensi—sebuah acara yang sebenarnya saya juga baru tahu setelah seminggu dipanggil menjadi narasumber.

Berhubung penyiarnya merupakan adik tingkat saya, jadi talkshow ini serupa dengan menukar curhat-curhat pribadi antar dua manusia. Toh, dalam acara tersebut kecanggungan hampir tidak melanda saya. Hanya saja memang saya akui ada beberapa fokus yang hilang saat menjawab, barangkali faktor umur, hehehehehe.
Acara berlangsung dalam beberapa segmen.  Ya, lumrahlah seperti biasa, saya menyapa pendengar di rumah, dan sang penyiar—sebut dia Yathy (sebuah nama dengan lafalan huruf kebarat-baratan) memperkenalkan curriculum vitae saya. Saat itu saya rasa segmen pertama berjalan amat lama hampir setengah jam. Banyak dialog saya dengan Yathy, menanyakan isi novel Curhat Sang Presiden sendiri, mengungkap makna di balik cover novel, bagaimana perasaan saat menulis novel ini, seberapa gregetnya menulis cerita ini, proses penerbitan dan nama saya juga sempat dibahas. Segmen pertama yang sangat berdebar-debar adalah ketika Yathy menanyakan isi novel ini.

“Novel ini berbicara tentang dua tokoh utama yang sama-sama mengalami kejadian buruk dengan pasangan masing-masing—yang menjalin hubungan maya dan nyata bersama tanpa saling tahu. Mereka bertahan menaklukan perasaan luka dengan cara mereka yang berbalur jalan takdir,” begitulah kira-kira kujawab.
Segmen pertama berakhir lewat sebuah lantunan manis dari Marcell dengan hits remake Takan Terganti. Saat suara Marcell membahana seisi studio, saya melihat Yathy tersipu-sipu. Mungkin dia tahu seberapa dalam lagu ini yang merupakan track song yang saya gunakan dalam novel Curhat Sang Presiden. Bahkan saya juga menemukan beberapa kali senyum plus antusias Yathy dengan ucapan, “Setiap wanita wajib memiliki buku ini (Curhat Sang Presiden).”

Segmen kedua juga berlangsung lama, hampir dua puluh menitan.  Saya ditanyakan inspirasi menulis saya, kebiasaan menulis saya, dan kesibukan saya akhir-akhir ini. Masalah kesibukan saya akhir-akhir ini adalah jawaban paling panjang yang mungkin saja jawab dalam deretan pertanyaan segmen kedua, “Kesibukan saya belakangan ini, karena kebetulan baru selesai wisuda (kuliah) saya mengurusi ijazah dan sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan manuskrip novel kedua saya yang judulnya ‘dirahasikan’, kini novelnya masih dalam proses editing. Jika ingin tahu kesibukan saya tentang mengedit novel kedua saya atau sekadar melihat petikan-petikan kalimat dalam novel kedua ini, silahkan dapat bocorannya lewat twitter saya di @elloaris. Di sana hal-ikhwal novel terbaru saya dibahas,” kira-kira begitu jawaban saya.

Kalau tak saya ingat, segmen kedua ini juga ditanyakan tentang apakah saya pernah mengikuti kursus menulis atau memiliki sebuah komunitas buku.  Saya pernah mengikuti kursus menulis gratis dan masalah komunitas buku saya belum mengikuti, sempat sih punya rencana bikin, tapi belum ada kata sepakat dari teman-teman lain. Untuk saat ini saya masih bergabung di sebuah komunitas blog, Arumbai—Blogger Maluku.

Segmen kedua seorang penelpon—namanya, Ari—menanyakan motivasi menulis saya apakah dari diri sendiri atau orang lain. Jujur pertanyaan ini membuat saya jauh menyelam ke tahun-tahun lalu. Pertanyaan ini adalah sebuah cermin yang kini saya gunakan kemana-mana. Awal menulis saya dimulai bahkan bukan dari tekad sendiri, awal memulai proses menulis saya ketika saya terserang influence dari teman SMA saya. Teman saya itu suka menulis kisah cintanya dalam bentuk cerpen, dan kerap menunjukannya kepada saya. Dari situlah saya jadi ikut-ikutan membuat  cerita ‘iseng’, bahkan waktu SMA itu sempat saya mengasah kemampuan menulis lewat sebuah novel dengan judul ‘My Dear Black’ yang gagal terbit. Hehehehe sebuah pengalaman mengesankan bagi saya. Kembali ke pertanyaan inti, untuk masalah motivasi memang saya akui pada awalnya saya terkena influence dari sahabat SMA saya, lalu seiring waktu hingga menginjak kuliah sekitar tahun 2008 saya menyukai dunia tulis-menulis, malah kegiatan ini kujadikan sebagai aktifitas sehari-hari. Ketika orang menjadikan makan sebuah aktifitas paling sering selama sehari, maka saya membalikannya: menulis saya buat lebih dari sekadar makan.

Segmen kedua ditutup dengan lagu yang juga menjadi track song novel Curhat Sang Presiden, sebuah lagu manis dari D’Masiv - Rindu Setengah Mati, lalu kembali saya mendengar Yathy mengatakan novel Curhat Sang Presiden ini wajib dimiliki wanita.

Pada segmen terakhir yang berlangsung cepat, beberapa pertanyaan sederhana muncul seperti kiat-kiat menulis, ringkasan cerita novel, dan pesan untuk pembaca. Dalam segmen ini ada satu penelepon yang menanyakan kendala saat menulis. “Ya, kendala saya paling mood. Saya orangnya agak mood-moodan. Ada saat dimana saya dapat mengerjakan sepuluh halaman narasi dengan hanya sehari, ada juga saat dimana saya hanya bisa menulis satu halaman perhari bahkan tidak sama sekali.”

Menjelang  acara Pro 2 Resensi berakhir, seorang penelpon mendapat satu buah buku Curhat Sang Presiden karena berhasil menjawab pertanyaan yang diberikan Yathy—tentunya yang berhubungan dengan novel Curhat Sang Presiden. Menutup acara saya dimintai mengucapkan terimakasih kepada teman-teman saya yang turut andil dalam menyelesaikan novel ini. Pokoknya banyak yang saya berikan ucapan, termasuk nama sang penyiar. Dia kemudian tersenyum lagi setelah saya mengucapkan namanya.

Kisah on air perdana Curhat Sang Presiden kurang lebih demikian, dulu saya sempat di undang juga untuk on air novel namun kemudian saya tolak dengan alasan sederhana—namun tak harus kita membahasnya disini kan? Kemungkinan ada beberapa bagian yang sempat tak tertulis pada kisah on air ini, begitulah manusia cepat lupa bahkan untuk sebuah kejadian yang belum 24 jam berlangsung. Manusia tak memiliki memori sehebat Tuhan. Sayangnya, saya tak dapat menampilkan semua dialog dan pertanyaan/jawaban secara lengkap—kupikir ini akan memperpanjang tulisan ini. Saya tidak sedang membuat novel bukan?
 Terakhir, thanks tak terhingga untuk sang penyiar Yathy, dan RRI Pro 2 Ambon serta jajarannya, teman-teman yang telah membantu menyukseskan acara ini, Upe Salasa, Rifky Santiago dan Cindy Rery. Big hug buat kalian semua.

31 July 2012

Skripsi dan Sejuta Pengorbanan.

Hmm, akhirnya bisa juga menyapa kembali kawan-kawan melalui diary online ini. Kali ini isinya curhat--maaf!

Dengan kerja keras, akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan studi akhir 'skripsi' yang kurang lebih saya tuntaskan selama 10 bulan. Inilah tugas yang paling menyita waktu dan paling menguras dompet. Setelah melalui tahap 3 kali sidang akhirnya skripsi saya diterima (dengan perbaikan tentunya), Yaaaa, meski sidang terakhir saya, diri ini dibantai oleh penguji dua (yang sebenarnya penguji pengganti--lantaran penguji asli sementara mudik). Jujur saya masih agak kesal dengan penguji dua karena sumpah perbaikannya dari beliau kayak 'bangun rumah'--banyak detail yang harus diperhatikan.

Tapi ya Alhamdulillah, skripsi saya "Analisis Teks Media dalam Penggunaan Narasumber Anonim pada Media Cetak Spektrum Maluku" diterima dalam sidang terakhir. Kalau mau dipikir-pikir skripsi ini, yang membuat saya sementara rehat blogging dan mengurangi kegiatan berburu novel. Karena kegiatan ini pula, sehingga selama 10 bulan hanya 1 novel yang sempat saya baca, itupun belum saya tamatkan, sebuah novel Dee Lestari - Partikel. Tak apalah, toh mengerjakan skripsi juga kan harus berhadapan dengan buku, ya walau fiksi dan nonfiksi itu berbeda. Satu lagi, dalam sela-sela pembuatan skripsi saya juga terseok-seok menyelesaikan manuskrip novel kedua.

Usai sidang terakhir saya merasa seperti terbang melayang dari gedung 100 lantai. Beban serasa hilang dari pundak. Pokoknya seperti ketika kita menikmati sejuta red velvet. Segalanya terbayar impas akan banyak pengorbanan selama ini.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan semilyar terimakasih buat Ketua Jurusan saya yang sederhana itu, teman-teman yang selalu mendengar keluh kesahku dalam menyelesaikan studi dan juga beberapa akun twitter seperti dewan pers, Farid Gaban dan Uni Lubis yang sempat saya ganggu dan special thanks untuk Andreas Harsono yang meluangkan waktu dalam tanya jawab singkat via twitter.

Sumber foto » http://hestiagustini.wordpress.com