Available on bookstore

Available on bookstore

30 September 2008

CERPEN

Anyerku bukan Kutaku

By Ello Aristhosiyoga




Kuta, Bali.


Pergilah, gue nggak bisa ngelakuin semua ini. Bila saja gue tau sejak awal.

Duduk ini, serasa mencambuknya. Semua pertanyaan belum terjawab, terus terkunci. Sama sekali dan hanya ada…

Hubungan!

Kata itu amat menyedihkan. Berkali-kali menembak gue tanpa henti. Meluluhlantahkan pertahanan ini.

Sony hanya bisa memainkan sedotan jus di sebuah stand.


***


Gerak Sony melahap garis pantai. Mengumbar angan kesal-Bandung. Lama juga, Sony menikmati pagi Kuta dalam satu sekam yang tertunda. Pelarian ini mungkin yang paling pecundang dilakoninya.

Rufy! Rufy lah sumber kesal. Dan muskil bagi Sony, mengatur kisah-kisah lampau.

Cemburu terbakar ketika merekam semuanya. Ingin Sony membanting raga. Kesal. Terlalu kesal. Hingga pertengkaran di malam penggalangan dana agenda perpisahan kelas tiga, puncak kemarahan Sony.

“Gila, gue nungguin lo sejam Rufy! Sejam bahkan lebih delapan menit! Dan sekarang lo bilang maaf”

“Gue… hanya”

“Lo hanya apa Rufy! Asli, lo hebat banget nyembunyiin semuanya. Hubungan kita ini apa!”

“Dengerin gue dulu”

“Apalagi lo pergi dengan dia, Lando. Gila ya! Hanya bisa bilang maaf. Gue nggak tahu apalagi yang ada di pikiran lo. Lo pikir gue apa!”

Kalut semua memori itu, habis bercampur tiga hari di Kuta. Nggak lekang pikiran Sony dan nggak akan pernah kekesalannya punah terhadap Rufy. Berjalan lagi Sony, menuju bibir pantai Kuta beberapa meter. Menyibakan kaki mendekati garis air. Terduduk Sony menautkan semua pikirannya. Malah semakin menjadi ingatannya pada Rufy.

Kedepan membentang gerombolan ombak berlautan wisatawan.

Kenapa juga sunyi datang menyergap Sony, bahkan lebih sunyi dari hingar-bingar Kuta.

Ya, pantai! Sunyi!

Satu kenangan yang nggak bisa dilupakan Sony. Tujuh bulan lalu, acara imagurasi study awal bulan berlokasi di Anyer.

Jauh dari kerumunan siswa lain. Niat Sony muncul. Ia menarik Rufy menjauh dari keramain siswa lain. Membawa Rufy sedikit menjauh ke bibir pantai.

Mata Rufy benar-benar nggak percaya. Nampak jelas, ribuan lilin putih indah membentuk satu buah gambar hati. Mengagungkan! Sangat dan bahkan.

“Gue, ingin malam ini lo tau. Hati dari nyala lilin-lilin ini adalah hati gue untuk lo”

“Sungguh?”

“Tentu Rufy”

Bersigap Sony penuh bangga. Tanpa sedetik terlewat, Rufy tenggelam dalam pelukan Sony.

“Gue pengen, pantai ini menikmati dan menyaksikan kita”

“Gue percaya itu Sony. Gue percaya lo bisa melindungi gue. Dan gue ada untuk lo”

Ujung pantai, segerombolan pengamen cilik menyelinap. Menghantam kesunyian Anyer. Sebuah harmoni musik menghambur ilusi udara, dari latar lagu Glen Ferdly-Aku Cinta Padamu.


Di malam yang romantis ini

Tuk kau dan aku

Tetapi dikau bagaikan air yang membeku

Masih terbaca aku, di matamu

Haruskah aku berikan lagi

Tuk yang keseribu kali

Aku cinta padamu, sungguh

Aku cinta padamu, sungguh

Meskikah kuulangi dari mulutku sendiri

Aku cinta padamu, kasih


“Mau dansa?” Ajak Sony.

Tertarik tubuh Rufy, mencekal tangannya pada Sony. Memulai gerakan asik hingga larut dalam dansa.

Dansa paling romantis.

“Biar gue nggak bisa ngedatangin penyanyi aslinya. Setidaknya ada hiburan untuk kita malam ini. Bahkan tiga pengamen cilik ini lebih sadis suaranya bagi gue. Karna gue tau ada ketulusan di setiap kata cadel mereka”

Semakin asik keduanya. Berdansa ria tanpa peduli apapun.

Hingga sekian detik bersambung rintikan langit. Menjatuhkan amunisinya di daratan Anyer.

“Rufy. Ayolah kita pergi. Hujan!”

Terlepas jaket Sony, tersemat hangat pada pundak Rufy.

“Ayolah”

“Nggak Sony. Gue nggak mau. Gue yakin hujan juga ikut larut bersama kita, malam ini! Dan gue nggak akan pergi”


***


Persis, hujan menyambar Sony tanpa sengaja. Buru-buru ia berlari dari garis pantai. Berteduh di sebuah stand cafe mini.

Hujan! Rintikan ini lebih kurang sama seperti, Anyer.

Hujan itu juga yang membuat Rufy, esoknya sakit. Menambah satu rasa bersalah Sony. Lima hari juga Rufy harus menginap di rumah sakit. Menghabiskan hari di awal hubungan mereka.

Nggak henti-hentinya, Sony berbolak-balik rumah sakit.

“Rufy, nggak usah bergerak. Lo lagi sakit. Gue nggak pengen ngelihat lo nambahin panjang hari lo di rumah sakit”

“Nggak Sony, gue ingin sekali ngelihat nama pengirim buffet bunga itu”

Mata Sony berputar sejengkal, tangannya menjejal naik ke samping monitor pendetak jantung. Satu bunga lili cantik tersenyum manis. Memancarkan kilauan mutiara.

“Ya, ini dari Lando”

“Lando?”

“Benar Rufy, dari Lando”

Diam menyelimuti Rufy. Lando pergilah… batin Rufy. “Itu, bunga pertama yang gue terima”

“Lo suka lili?

Terangguk kemudian kepala Rufy.

Hingga esoknya datang Sony membawa satu buffet lili. Amat memukau. Serasi sekali dengan aura wajah Rufy.

“Gue sengaja ngasih lili plastik. Karna nggak akan habis masa mekarnya, seperti rasa ini. Nggak pernah lelah mekar terlekang waktu”

“Sungguh?”


***


Tanpa Sony sadari hujan Kuta telah pergi. Susulannya kembali, keluar stand. Belum langkah kelimanya, Sony tersentak kaget.

Kelipungan kakinya ingin menghidar. Sesenti darinya hadir Rufy.

Puluhan garis cantik dilihat Sony pada cewek itu. Jauh lebih cantik dari tujuh bulan lalu.

“Masih ada kesempatan kedua buat gue?”

Tertunduk kepala Rufy. Nggak berani menatap Sony.

“Harus jelas Sony! Aku dan lando nggak ada apa-apa. Kita hanya teman. Teman biasa”

Terkatup bibir Sony.

“Sony, kesempatan kedua?”

Lo nggak tahu, Rufy! Benar-benar keliru. Gue sadar semuanya. Gue pastikan lima tingkat lebih sadar dari tingkat normal. Gue juga membaca ketulusan itu. Buffet pemberian Lando. Dia suka ama lo. Banyak gue lihat curahan hatinya di kartu nama pengirim buffet. Sengaja gue buang ketika lo ingin ngelihat buffet bunga di rumah sakit. Sadarlah Rufy, ada cinta yang lebih dari gue!

“Kenapa diam. Please dengerin gue”

“Rufy, maaf. Lupakan gue. Pergilah, kejar cinta Lando. Dia sangat mencintai lo.

“Kenapa?”

“Dia lebih baik dari gue…” kata Sony lirih dan berlalu dari hadapan Rufy.


***


Maaf Rufy! Gue nggak ingin semuanya terluka lagi. Sakit sekali jika gue mengulang amarah gue.

Berdiri Sony dengan tegar. Menatap Kuta dalam-dalam.

Dan Sony benar-benar nggak tahu. Dua bola mata terus memandanganya. Memandangnya penuh arti. Mata itu milik Rufy.

2 komentar:

agak ngebingungin sih saat baca. tapi sumpah settingnya ok bangetssss! boleh dong yang lain mampir

woi... kelebihan narsis tuh, setting-nya. mudah2an yang lebih fantastis dari itu. rufi... ama gue aja!

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...