Available on bookstore

Available on bookstore

30 September 2008

Sejarah Sastra

Sejarah sastra membicarakan pertumbuhan dan perkembangan sastra, hasil karya sastra serta corak-coraknya. Hal ini sangat penting untuk menentukan dasar-dasar penggolongan karya sastra dan penciptanya, baik menurut bentuk mapun jamannya.

Sejarah sastra Indonesia dimulai sejak pada abad ke-20 yang diwakili karya pengarang-pengarang Balai Pustaka. Dengan demikian, karya sastra yang dihasilkan sebelum abad 20 digolongkan ke dalam sastra Melayu. Dapat dikatakan antara kesusastraan Indonesia dengan Melayu ialah karya pengarang Abdullah bin Abdulkadir pada abad 19.

Kita ketahui bahwa tahun 1908 berdiri Taman Bacaan Rakyat. Sembilan tahun berikutnya [1917] nama itu diganti menjadi Balai Pustaka. Berdirinya badan penerbit ini mendorong dan memberi kesempatan kepada orang Indonesia untuk berkarya. Maka bermuculan nama-nama pengarang seperti Marah Rusli, Merari Siregar, dsb. Pada umumnya pengarang itu berasal dari Minangkabau. Tema ceritanya kebanyakan berkisar pada persoalan adat di masyarakat Minang, serta karangannya bercorak roman yang memperlihatkan unsur gaya Melayu Lama. [untuk melihat hasil karya-karya penulis di jaman ini, silahkan buka arsip lain di Tokoh Sastrawan Angkatan Balai Pustaka]

Pujangga baru merupakan nama majalah yang terbit tahun 1933 yang dipelopori oleh Sutan takdir Alisyabana, Arijn Pane, Amir Hamzah. Nama majalah itu popular menjadi nama golongan sastrawan pada masa itu. Di sini muncul nama-nama seperti J.E. Tatengkeng, M.R Doyah, Aoh K. Hadimadja, dsb. Pujangga baru banyak dipengaruhi oleh pujangga Belanda angkatan ’80 (1880) yang jelas terlihat seperti pemakaian bentuk Soneta. Soneta, berasal dari Italia yang diserap oleh sastra Belanda. Buku-buku yang terbit pada masa ini antara lain, Rindu Dendam, Jiwa Berjiwa, Layar terkembang, ini di sebut juga dengan karya romantis idealisme. [untuk melihat hasil karya-karya penulis di jaman ini, silahkan buka arsip lain di blog ini]

Angkatan ’45 lahir saat pergolakan perjuangan kemerdekaan. Pada saat ini perkembangan bahasa dan sastra Indonesia cukup maju karena pemerintahan Jepang melarang pemakaian bahasa Belanda dan mengharuskan pemakaian Bahasa Indonesia. Pada waktu itu para seniman dikumpulkan dalam Keimin Bunka Shidosha (Pusat Kebudayaan). Kebebasan mencipta dikurangi, tetapi selalu diarahkan memihak dan mengagung-agungkan Jepang. Oleh karena itu, pengarang yang sadar terhadap kecintaan tanah airnya, berusaha membuat karya sastra untuk menghancurkan kekuatan Jepang dengan mempergunakan bentuk simbolik (yakni suatu lukisan yang mempergunakan lambang-lambang untuk menyamarkan maksud dan tujuan) sehingga lulus sensor. Pengarang yang terkenal pada waktu itu adalah Usman Ismail, Rosihan Anwar, Amal Hamzah, dll. Juga lahir penyair muda Chairil Anwar yang sekarang melegenda. Chairil membawa nafas baru dalam sastra Indonesia, dalam segi bentuk atau isi. Sedangkan pengarang prosa pada zaman ini yang terkenal adalah Idrus. [untuk melihat hasil karya-karya penulis di jaman ini, silahkan buka arsip lain di blog ini]

Angkatan ’66 mula-mula diberikan oleh H.B Jassin dalam bukunya yang berjudul Angaktan 66 yang mendasarkan pada sifat politik yang mempengaruhi karya-karya sastra pada masa itu. Kita ketahui kemunculan angkatan ini bermula dari peristiwa pemborontakan. Pada waktu itu mahasiswa, pemuda dan pelajar melakukan demonstrasi atas ketidakpuasan kinerja pemerintah. Dengan memakai nama samaran Nur Fadjar, Taufik Ismail menulis kumpulan puisi Benteng dan Tirani yang bernada protes. Demikian pula Mansur Samin menulis Perlawanan. Bur Rasuanto menulis Mereka Telah Bangkit. Semua itu bernada protes keras terhadap pemerintah. Dasar ini dijadikan pegangan oleh H.B Jassin menggolongkannya dalam angkatan baru, yaitu angkatan ’66. [untuk melihat hasil karya-karya penulis di jaman ini, silahkan buka arsip lain di blog ini]


Silahkan buka menu sastra lain dalam arsip, atau mau cerpen gratis silahkan buka arsip cerpen. Update tiap minggu!