Available on bookstore

Available on bookstore

08 October 2008

Cerpen

Enough!!!

By: Ello Aristhosiyoga




[21st September]

Hari ini deadline lagi. Pagi-pagi aku sibuk luar biasa, lebih dari kerja tukang pos mensortir amplop kiriman. Tekadku bulat, Nggak mau aku terlambat di hari pertama kerja. Setelah aku gagal memboyong uang beasiswa, karena harus mengakui kehebatan mahasiswa lain dari semua fakultas. Cara satu-satunya harus kerja. Dan restoran di jalan Wijaya II pilihan terakhirku, kebetulan juga dekat dengan kos-kosan aku.

Sepeda yang kuenjot sudah parkir di halaman resto. Sudah kutinggalkan satu menit lalu. Jalanku masuk dengan siap. Di ujung tampak pak Rado si empunya restoran, sedang bergelut dengan karyawan lama. Aku maju merapat diri, mendengar briefing pagi ini. Senyum pak Rado kontras dengan lebatnya kumis yang mempermak wajahnya. Menyamping sesenti darinya kulihat satu cewek lucu. Sepertinya…

Nggak salah lagi! Dia, cewek yang kuajak kenalan kemarin. Mahasiswa baru di kampusku.

Dita! Namanya Dita.

“Semua kenalin ini pegawai baru, Rafi. Sambilan di sini selama dua bulan” pak Rado mengenalkanku.

Beberapa kecutan senyum menyapaku, tapi nggak seindah kepunyaan Dita. Lucu, imut dan seksi tentunya. Sekalian tambahkan tiga jam lagi aku melihatnya dan bisa pingsan otakku lelah memujinya.

Kulancarkan misi buaya. Kusapa dirinya dengan gerakan tangan. Trik mengalihkan pandangannya untuk tertuju padaku. Sial, dia nggak tertarik. Lanjut lagi untuk kedua kali. Nggak gentar pikiran aku untuk menarik simpatinya, kebetulan juga sudah tiga minggu pangkat jomblo nagkring di hidup aku. Sekalian saja dia aku masukin dalam daftar seleksi pacarku berikutnya.

Aduh! Dita kekeuh nggak menoleh. Malah wanita gendut di sebelahnya bersapa ria denganku. Aku bisa diketawain kalau disangka main trik buaya dengan wanita itu. Udah gendut, rambutnya ikal nggak karauan lagi. Untung Tuhan, aku nggak pernah kepikiran punya cewek kayak dia, bisa turun reputasi aku.

Aku semakin terbuai, mengangankan wajah Dita. Lebih lama dan dalam. Hingga mataku menangkap ruang kosong, nggak kulihat lagi satu pun batang hidung disekitar aku. Asli! briefing kerja udah habis dari tadi dan aku nggak tahu. Benar-benar tolol.

‘Kerja dong!”

Oh, no suara Dita meluncur dari belakangku. Nggak salah lagi. Aku masih ingat jenis suaranya. Dia pasti mengajakku untuk kerja bareng. Yess! cinta itu emang nggak kemana.

Kubalikan wajah dengan semangat empat lima. Lagi! satu tiang melahap wajahku. Kelapaku sakit tertimpuk beton sialan. Wajah Dita nggak kulihat jelas, hanya ada bayangan ganda. Kalau bisa juga, didorong tubuhku biar lengkap kesialanku hari ini. Tiga menit kutahan kepalaku agar normal lagi, malah satu alien kulihat dan wajah itu milik si gendut tadi. Tahu begini, biar sekalian saja aku pingsan tadi.


***


Nggak konsen sama sekali, hebat! Si Dita menyihir aku. Semua yang kukerjakan, selalu ada Dita. Kayak lagunya Maia, aku mau kerja aku ingat Dita... Eits wait! Habis sudah kesabaranku, terus saja si pengganggu gendut aneh selalu mengekori kerja Dita melayani tamu lain, merusak pemandangan saja. Sebisa mungkin aku mensiasati pola buaya aku, sebelum salah paham terjadi. Nggak rela jika sapaan aku disalahartikan Dita. Apalagi kalau ia menyangka aku menyapa si gendut bukan dia. Bisa sia-sia yang aku lakuin.

Bodohnya, si gendut tambah asik senyam-senyum padaku.

Lanjutku berjalan mengangkut beberapa pesanan tamu yang baru datang. Saat bergerak ke samping meja tamu, Dita melangkah maju. Wow sempurna. Dia seperti Bella, di film love. Cantik abiess! Dan pastinya akulah Irwansyah-nya. Benar-benar surga.

Nggak sadar, bogem mentah melayang padaku. Sakit sekali. Kesal! Ternyata saking terpesonanya melihat Dita, aku meraba-raba tamu pria yang menyampingku. Cacian kuterima dari eksekutif muda itu. Malu!

Mampusnya lagi, tawa Dita keluar. Meledek ketololan aku tentunya. Apes… benar-benar apes.


***

[26th September]

Lagi dan lagi cercaan basi aku terima. Pak Rizal, dosenku mengancam kuping ini dengan sejuta bawelan pedas. Ya ya ya aku diomelin lagi... Si mulut bawel itu menyuruh aku mengulang mata kuliahnya tahun depan. Kesalahan yang sama! Aku nggak bikin tugas. Nasib… ayam potong abis! Ya, terima saja nasib mengulang bersama junior-junior aku tahun depan.

Kupacu langkah keluar ruangan kuliah untuk menjejal kantin, daripada mengingat ocehan lapuk pak Rizal. Setengah jalan terlahap kakiku, Dita kembali hadir. Juniorku ini selalu membuat, aku betah berlama-lama mematung.

“Hai” sapaku garing, “Mau pulang?”

Anggukan kecil aku terima darinya. Yess, sahutku dalam hati. Bisa kuambil kesempatan ini.

“Udah siap?”

Terdengar suara dari belakang. Lelaki lebih tinggi dariku menyalip kami.

“Aku udah Siap. Kita pulang sekarang aja” jawab Dita.

Kesal abiess. Lelaki lain merebutnya dariku.

Keduanya melongos pergi, juga nggak ada basa-basi dari mulut Dita. Minimal memberi salam perpisahan kek. Emang aku patung?


***

[27th September]

Roda sepeda aku telah melewati dari jalan besar, tinggal semenit lagi aku sampai di restoran.

Nggak tahu kenapa tubuh aku tumbang. Oh no, aku merabah di aspal. Harus kuterima, kini rantai sepedaku putus. Ingin kutendang jauh-jauh sepeda ke jalan. Biar menimpuk bus-bus lain. Agar adil, hari ini semua orang mendapat sial seperti aku.

Gontai aku bangkit dan meraih sepeda.

“Bisa aku bantu?”

Aku memutar wajah seratus delapan puluh derajat. Mendelik sumber suara barusan. Di sampingku, senyum ramah Dita menyapa aku. Dita menegak rapi, kulihat lembut tanggannya menyapu poni antik di dahi.

“Aku gak apa-apa. Cuma rantai sepeda aku putus”

“O” singkatnya seolah mengerti.

“Jalan bareng? Resto udah deket tuh” ajakku padanya.

“Boleh”

Kami meluruskan langkah menuju Restoran. Kebetulan juga aku dan Dita dapat sift yang sama, Sabtu dan Minggu. Tunggu! Ada damai yang aku rasakan plus degupan dalam jantung aku bergerak aneh.

“Kemarin siapa?” tanyaku kemudian. Kuinvestigasi saja lelaki kemarin. Setidaknya mengurangi rasa penasaran aku.

“Temen aku”

Aku berdehem sambil berangguk. Kututupi kesenanganku dalam hati. Dia Cuma teman. Ya… ya… Cuma teman saja dan aku sudah memegang peluang emas.

“Emang kenapa? Mau jadi temen aku juga?”

Bukan sekedar teman Dita, aku mau lebih, anganku dalam hati. Kupandangi lagi wajahnya hingga membengkok kepalaku. Terus begitu beberapa langkah.

Dua menit lagi! Kudengar tawa Dita. Enak banget. Aku bisa merasakan dia bahagia jalan denganku. Apalagi senyumnya membuat aku tenang. Serenyah crispy yang kumakan sebagai sararapan tadi pagi.

Tawanya belum berhenti, “Kenapa kepala kamu. Nyeri?”

Aku tersadar dia menikmati gelagatku. Aku buru-buru menghamburkan angan gilaku. Nggak mau kelihatan bodoh lagi di depannya.

“Kepala kamu sakit?

Aduh dia masih bertanya lagi. Harus kujawab apa?

Jawaban kurang cerdas terhembus dari bibirku, menjawab pertanyaan sulit darinya, “Nggak”


***


Jam enam sore lewat. Dengusanku keluar, menyambut kerjaan yang sudah selesai. Rantai sepedaku pun beres kukerjakan. Bisa kuenjot lagi membelah aspal jalan Wijaya.

Pintu resto, bersigap Dita. Ia nampaknya sudah bersiap pulang. Tas besar tergandeng lucu di lenggannya.

“Tinggal dimana” tanyaku basa-basi.

“Deket ko, di depan kos-kosan Anugrah”

“Kebetulan, sama aku tinggal di kos-kosan Anugrah. Mau bareng nggak?”

“Yup, boleh juga”

Aku memajukan sepedaku. Bersiap menggandeng Dita dengan sepeda.

“Dita…”

Lelaki itu! Lelaki yang barusan memanggil Dita. Teman Dita yang kutemui di kampus, terawang benakku. Dia melongos dari mobil yang parkir tujuh menit lalu, mendekati kami.

Sorry nggak bilang dulu. Aku mau jemut kamu”

“Nggak apa-apa”

“Udah selesai kerjanya”

“Udah ko”

Aku diam saja menyaksikan percakapan basi abis.

“Kenalin ini teman aku Rafi, yang kemarin ketemu di kampus”

“Rafi” tanganku menjabat tangan teman Dita.

“Fandi, pacar Dita”

Seketika juga terkulai tubuh ini nggak berdaya. Suara Fandi mengiang-ngiang. Pacar? Kesialan tingkat tinggi menyerangku. Cukup! Langsung saja aku melarikan diri dengan sepeda. Menjauh abis dari keduanya, karna kesalku sudah naik melewati ubun-ubun.

0 komentar:

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...