Available on bookstore

Available on bookstore

21 December 2009

B3: Curhat Setan


Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya

Tittle : Curhat Setan
Penulis : Fahd Djibran
Penerbit : GagasMedia

Bila aku pergi, kita berada di dunia kita masing-masing. Aku hidup di duniaku, kau hidup di duniamu. Tapi, percayalah, sebenarnya, aku selalu bersama denganmu. Hanya mungkin kita tak melihat bulan yang sama dari balkon yang sama (halaman 5, Pergi—Curhat Setan).
Sebuah curhat yang membuat aku merenung sebanyak apa kesalahanku. Memaksaku untuk merefleksi diri. Aku merasa inilah diriku—dalam curhatan yang nggak lebih dari empat kalimat—yang paling dalam ketika aku berada dalam posisi yang sama, dengan mengungkapkan hal yang serupa untuk orang-orang yang aku cintai bila aku, pergi. Inilah awal ketika aku, merasa yakin bahwa; aku benar-benar jatuh cinta dengan Setan—maksudku Curhat Setan. Kamu bahkan mengeluarkan air mata untuk merenung dan berkata Curhat Setan adalah Anugerah—setidaknya sama sepertiku.

Seperti Fahd Djibran, bahwa curhat adalah seni melepaskan sesuatu yang sebelumnya terkurung dalam “rumah kerang” diri sendiri untuk menemukan temannya diluar sana, akupun demikian, aku akan melepaskan semua hal yang kucurhatkan (ku-reveiw-kan) selama ini persis dengan beberapa fiksi dan nonfiksi yang telah ku-review sebelumnya. Dan kamu menikmati curhat yang mampu menembus kata tulus di sini.

Buku ini, menarik perhatian saat aku membaca beberapa curhatan GagasMedia tentang Curhat Setan, di twitter-nya beberapa minggu lalu hingga penasaran membuatku bermain di website-nya GagasMedia, dan mantap membuatku berkata: “Buku ini adalah Emas bagiku.” Nilai yang kini jauh melambung tinggi.

Huf, saat berhadapan dengan buku ini yang didominasi cover putih, dan aksen kecil merah di tepi-tepi buku yang cenderung identik dengan dunia “Itu” membuat kamu berkata “wah”, ini sebuah ide yang edan benar, hanya cuma desain cover bukunya saja!!!

Di awal, Curhat Setan akan menawarkan sebuah pertanyaan rumit yang dibalut dengan sebuah kisah sederhana: Pertanyaan untuk K. Selanjutnya tulisan dalam curhat ini akan menggiringmu, pada pertanyaan tentang perpisahan, kisah, dilema cinta, keputusasaan, takdir, ironi sekelilingmu, diri, dosa bahkan impian, kesalahan, nafsu, kejujuran, batas dan semua hal yang selama ini nggak terjangkau untuk dipirkirkan. Kejutan lain dalam Curhat Setan yaitu semua hal-hal itu dibalut secara sederhana dengan bahasa curhat yang dalam, mudah dipahami, pendek dan bernilai.

Aku terkesima saat mendapati setiap lembar Curhat Setan, ada makna dalam setiap lembarnya. Lagi-lagi harus aku katakan bahwa aku benar-benar jatuh cinta (lagi) kepada seorang Gita Romadhona, yang kali ini berkolaborasi dengan Windy Ariestanty dan Fahd Djibran, dalam menggabungkan ide kata, dan kalimat yang begitu kusukai di setiap lembar, enak, bermakna, sangat bernilai bahkan hal kedua yang kusukai dalam curhat buku ini karena mampu menyentuh lubuk hati siapa saja (menurutku), adalah curhat (kalimat): Terima kasih dan Maaf, dua kata ajaib yang membuat dunia selalu terasa sebagai semesta yang lebih lapang, danau yang lebih jernih, dan jalan yang lebih jauh. Oh, adakah kolabari paling nikmat dari Mbak Gita. Kalian boleh berkata aku terlalu memuja Gita Romadhona, ya aku nggak berbohong, karena itulah aku, aku memang amat cinta pada buku-buku hasil editor-nya.Terlepas dari itu, pokoknya setiap lembar Curhat Setan terselip makna yang tersirat, kamu mampu menangkap seratus makna atau bahkan lebih dalam lembar-lembar Curhat Setan yang disediakan Fahd Djibran.

Buku ini pun menyediakan kamu sejumput cinta. Cinta yang begitu kuat, ketika dihadapkan ke dalam sebuah kisah yang tidak hanya menggantung pada tokoh Zira dalam Curhat Setan, tetapi juga diriku: Dengan menggunakan sisa-sisa tenaga, aku menulis. Hanya itu yang kubisa. Setidaknya, itu yang kulakukan.

Meski terlalu pendek, buku ini mampu menawarkan kamu tentang sebuah pemikiran, bahwa sekarang kamu telah melakukan yang terbaik atau tidak, ada refleski yang telah kamu lakukan selama ini, dan apakah cinta itu seperti lagu wajib di sekolah dasar dulu. Lagu yang tak meminta kemampuan apa-apa, sederhana. Lagu yang tak meminta dirinya dinyanyikan, itu saja.

Baca Curhat Setan dan Fahd Djibran bakal memberimu sebuah pertanyaan yang akan menuntunmu mencari jawaban, makna kehidupanmu. Sebuah keunggulan buku yang luar biasa. Beda, pendek, lebih dari ringan, namun syarat akan nilai, bahkan jauh lebih dari kata “spesial”. Aku nggak bisa memastikan yang pasti buku ini, “Jauh lebih dari kata Spesial.”

Dengan membaca keseluruhan Curhat Setan, aku mengerti bahwa curhat adalah makna terpenting dari perasaan yang terlalu sukar diungkapkan.

Soal ending? Manis dan menggertarkan, karena Terima kasih dan Maaf membuatku merenung. Aku bahkan nyaris menderu dalam dada kemudian menahan rasa gemeruh yang tiba-tiba menyadari bahwa dua kata yang ditawarkan diakhir Curhat Setan—Terima Kasih dan Maaf—adalah dua kata ajaib.

Hmm… sebuah buku yang sangat luar biasa kan? Curhat Setan, aku jatuh cinta!

Dan semua kelebihan-kelebihan Curhat Setan memaksaku memberikan “Tiga Hal” yang kupelajari dari buku ini. Pertama, keputusasaan adalah momen refleski kita untuk memikirkan semua hal yang telah terlewat, titik jenuh itu membuat kita berpikir… kita sekarang berada dimana. Kedua, curhat sama halnya dengan cinta, didominasi perasaan—perasaan mendalam. Ketiga, bahwa pilihan, menunggu, menyemangati, janji, cinta, harapan, kesalahan, kebenaran, jarak, kisah menjadi pisau untuk kita bertanya, dosakah kita selama ini?


Temukan Curhat Setan dalam dirimu, temukan hal positif lain dalam pemikiranmu.

09 December 2009

Hari Anti Korupsi: Demo atau Aksi Damai

Ngeri juga ngeliat News Trans7: Demo Anti Korupsi di Makassar, banyak bentroknya. Sebuah penyampaian aspirasi yang mestinya berjalan baik, berubah mengerikan.

Sebelumnya gue udah baca headline demo terkait korupsi di twitternya BBC_Indonesia, katanya diperkirakan di Jakarta sendiri kurang lebih 3 juta orang turun aksi. Saat nonton news pun, ternyata di Jakarta aksinya cukup aman. Hal ini berarti mematahkan opini Pak SBY yang udah panik duluan. Gitu dong, kalo demo. Jangan anarkis.

Kalau di kota gue (Ambon) demonya lumayan damai, meski gue nggak setuju mereka menduduki World Piece Gong--sebuah monumen situs dunia yang membanggakan di Kota gue.

Tapi dari semua demo, lebih indah aksi damai deh, misalnya dengan pembagian selebaran anti korupsi, atau semacamnya daripada bakar-bakaran, hina-hinaan, atau membeberkan aib, meski sebenarnya demo dengan anarkis bisa jadi alternatif (tergantung sikon).

07 December 2009

Afirmasi (di antara Kenyataan & Impian)

Thanks bwt temen2 yang slalu mengunjungi blog ini... Kalian award terbaik gue.
Wah, setelah disentil teman2 dng pertanyaan semacam ini, "kapan sih punya karya atw kapan sih nerbitin No...?" karena hobi review buku orang (baik fiksi atw nonfiksi), akhirnya keputusanku untuk menulis, bangkit lagi. Sebenarnya otak gue udah tekor duluan, soalnya naskah gue yg ketolak hmmm... Udah banyak, sejak SMA (klo naskah novel udah sekitar 3, & yang novel terakhir gue kirim pertengahan tahun ini belum kedengeran nasibnya. Tapi gue percaya bakal terbit kok! [ngarep banget!]). Nah, support dari temen2 blogger, anak2 di komunitas MBC, temen2 kuliah, membuatku mulai menulis lagi sebulan ini di samping menekuni hobiku membaca novel, menulis jurnalistik di pelatihan, kuliah dan ngeblog.
Sekarang sih, Alhamdulillah tulisan gue udah masuk bab empat, & semoga akhir January 2010 udah rampung (ngayal bener! Nggak apa2, kan nggak dilarang, bukankah itu juga afirmasi?). Makanya itu buat temen2 yg udah pada nunggu karya gue, sabar ya kalo lama... Semoga dng review2 yg gue buat makin membuat gue pinter dalam merangkai kata, kisah, alur cerita & semuanya di dalam novel project baruku!
Aku juga pengin ngucapin trims banget buat Fenny Wong (penulis novel Moonlight Waltz) yg udah ngajarin bahwa usaha harus dibarengi dengan doa dalam melakukan semua hal. Thank U juga pada orang2 hebat (Christian Simamora &semua kru gagasmedia) yg nyempatin mampir dan komen di blog aku. I love U all

aku udah bikin afirmasi nih, mohon doanya, biar tulisanku cepet selesai,,, biar bisa dikirim. [tapi stuju nggak, gue punya karya?].

30 November 2009

B3: Jangan Biarkan Surau Ini Roboh



Perjuangan Ibrahim Menghidupkan Cinta di Rumah Allah

Tittle : Jangan Biarkan Surau Ini Roboh
Penulis : Taufiqurrahman Al-Azizy
Penerbit : Diva Press

Buku tepatnya, aku dapet dari teman––maksudku tetanggaku. Mataku nggak sabar saat ngeliat dia jalan mondar-mandir dengan novel ini. Langsung aja ide muncul dikelapa dan segera aku kontrak minjen dari dia. Untung tuh anak nggak banyak komentar, dengan wajah lugu tanpa curiga, dia meminjamkan Jangan Biarkan Suarau Ini Roboh pada aku.
Huah, Gila novel ini tebalnya minta ampun… 400 halaman lebih, masih mending tulisannya besar. Mah ini, tulisannya kecil-kecil. Bayangan nyaris seminggu aku baru habisin baca nih novel (disamping kerjaan dan tugas kampus yang seabrek, dan berbenturan dengan porseni kampus, jadi lebih banyak waktu aku habisin buat nonton anak-anak maen bola, hehehe… jadi terbengkalailah proses bacaanku ini.)
Hmmm… langsung aja review-nya. Seperti novel-novel religi lain, cover Jangan Biarkan Surau Ini Roboh, terkesan islami dengan nuansa hitam. Tapi seperti judulnya, surau dan sosok pria dalam cover-nya dibikin lebih hidup tanpa ada aksen hitam yang menutupinya.
Saat ngebaca halaman pertama, aku udah berkata “waduh” dalam hati. Gila bukunya tebel ditambah dengan tulisannya yang kecil. Jujur membaca buku ini aku ngerasa sedikit bosan dan suka ngantuk bila sudah lebih dari 30 menit ngebacanya.
Kisah ini menceritakan dua tokoh kakak beradik, Yusuf dan Ibrahim. Mereka dihadapakan dua cinta dari Sarah dan Partinah. Banyak konflik yang terjadi di dalam novel ini, termasuk konflik “Surau” dengan mengambil setting sebuah Dukuh Seworan. Empat kerakter yang berbeda dipertemukan dalam novel ini, sungguh penokohan yang memang benar-benar kental.
Pada bab-bab awal aku sempat men-judge bahwa novel ini “Sinetron Banget” karena alur pada cerita awalnnya terlalu lambat membuat aku rada bosen.
Disamping hal-hal aneh itu tadi, aku suka loh settingnya yang keren, meski di desa. Bahasanya yang meski tidak bisa dikatakan serenyah Goloso Geloso, tapi amat mudah dipahami, bahkan anak SMP pun bisa mencernanya. Kisah dalam setiap babnya banyak menggugah hati pembaca, ikut merasakan apa yang ada dalam alur cerita, banyak menyiratkan moral dan kekuatan agamis yang kental. Bahkan jauh lebih baik dari pada itu. Inilah novel religi yang sederhana, kuat, megang banget (novel religi), penuh dengan nilai agama tentunya.
Cerita ini kuat dengan konflik “Surau” yang berpadu “Kisah Cinta” yang sangat indah. Kamu nggak bakal menyangka bahwa konflik antar tokoh begitu kuat, berubah dan apa ya… pokoknya asik dah….
Untuk urusan ending, aku hanya ingin mengatakan bahwa novel Jangan Biarkan Surau Ini Roboh dengan dua kata saja; Luar Biasa. Kamu bakal ditawarkan ending yang super duper nggak terduga, dan inilah ending paling seksi yang pernah kubaca dalam novel-novel selama ini. Pokoknya seenak pizza, senikmat cappucino, semanis kurma…
Kesimpulannya, untuk kekurangannya novel ini, terlalu tebal dengan tulisan yang kecil membuat para pembaca rada bosan, trus ceritanya terlalu lamban pada bab-bab awal hingga terkesan ceritanya “Sinetron Banget”, dan itu pula yang memicu rasa bosan pada pembaca. Tapi….
Kelebihan Jangan Biarkan Surau Ini Roboh, amat tinggi men… nilai yang disampaikan begitu syarat menyentuh rana religi kehidupan manusia, ceritanya kuat, konflik tokohnya berat… dan endingnya itu, Luar biasa. Ending terseksi yang pernah ada. Anda tak bisa menebak ending yang kayak gini.
The last, aku pengin bilang, saat membaca novel ini jangan dulu keburu bosan seperti aku, karena sebuah ending yang mengsankan, luar biasa, nggak terduga, penuh air mata, mengaduk hati, akan kamu dapatin di akhir kisah miris Jangan Biarkan Surau Ini Roboh.

17 November 2009

B3: Goloso Geloso




Ketika Kau Memperoleh Keinginanmu Kau Kehilangan yang Kau Miliki

Tittle : Goloso Geloso
Penulis : Tanti Susilawati
Penerbit : GagasMedia

Sebelum aku ngejelasin panjang lebar Goloso Geloso, aku mau ngasih jawaban pada teman-teman yang nanya, “Mengapa buku dalam postingan Bilik Buka Buku (B3) di blog ini, nggak ada harganya sama jumlah halamannya,” kurang lebih pertanyaannya semacam itu. Harus kujawab dengan sederhana, aku sengaja nggak nampilin hal itu karena, dua substansi itu sering berubah, harga sering naik sewaktu-waktu, trus jumlah halaman sering bertambah (seperti penambahan lembaran khusus untuk endorsement bila suatu buku telah cetak ulang.)
Trus yang kedua, aku mau ngabarin buat teman-teman, salah satu buku terbaru dari GagasMedia yang baru terbit tahun ini, Moonlight Waltz karya Fenny Wong telah cetak ulang. Aku dapet infonya lewat twitter-nya GagasMedia. Aku turut bahagia, sekaligus maungabarin bahwa buku ini telah aku review di masa-masa awal penerbitannya (silahkan klik link Bilik Buka Buku: Moonlight Waltz di sebelah untuk melihat hasil review aku). Aku mengklaim hasil review aku terhadap novel Moonlight Waltz berhasil, sebab aku mampu menarik penulisnya sendiri Fenny Wong untuk komen di blog aku. “Thanks Allah, ternyata masih ada penulis hebat yang mengunjungi blog aku. Aku yakin apa yang terjadi pada Fenny Wong tertular padaku. (Tapi dalam hati sih aku pengin kalo hasil review aku dijadiin endorsement di novel Moonlight Waltz, hehehe…. Ngarep!)”
Eh, BTW, aku mau ngucapin selamat buat tim Gagas yang udah berhasil menelurkan Moonlight Waltz yang simpel, ringan, enak, renyah seperti Popcorn, namun menyedihkan itu.
Stop! Langsung masuk aja pada inti buku Goloso Geloso. Sorry ya aku mesti menjelaskan dua hal lain di luar topik Bilik Buka Buku kali ini. Nah, aku beli Goloso Geloso di kotaku, berhubung toko buku Gramedia yang sekaligus toko buku terbesar di Maluku baru di buka bulan lalu di mall terbesar di Ambon, jadi sekarang untuk nyari buku-buku GagasMedia nggak susah-susah lagi. Sebenarnya hari itu gue pengin beli buku Perahu Kertas-nya Dewi Lestari, tapi nggak ada. Kata penjaga kasirnya Perahu Kertas akan ada bulan depan, lama amat. Trus aku putar haluan bolak-balik nyari novel yang pas untuk mengganti Perahu Kertas. Akhirnya jatuh juga pilihan aku ke Goloso Geloso. Mungkin covernya yang klasik dengan dua buah cangkir yang imut (tapi satu cangkirnya mirip bakul nasi), membuatku mendeliknya dan mencomotnya dari rak novel. Hmmm… belum lagi sinopsisnya yang greget bikin aku penasaran. Aku mesti salut, Gagas Asli bener membuat sinopsis novel, sedemikian cantik seperti itu. Aku aja langsung jatuh cinta.
Cerita novel ini dimulai ketika Larasati, cewek asli Indonesia pindah dari Perugia ke Milan untuk melanjutkan study-nya. Di sana dia telah dinanti sosok pria Italia baik hati, Chicco. Sebelumnya mereka hanya bertemu lewat dunia chatting. Saat di Perugia, Larasati tinggal bersama Renata, cewek ini pula yang mengenalkannya pada Chicco karena hubungan Renata dan Chicco, sepupuan.
Bersama Chicco, Larasati dipekenalkan dengan keluarga Chicco/De Boni yang sangat memuja AC Milan. Namun ternyata cewek itu nggak bisa membohongi diri kalo sebenarnya dia adalah maniak Inter Milan. Bersama pria Italia itu juga dia mencicipi sudut demi sudut kota Milan.
Secara Itali terkenal dengan sepak bola, maka dalam cerita ini nggak jauh-jauh dari sepak bola. Hmm… berasa kayak novel cowok. Tahu nggak, ada pertarungan mengasikan dalam novel ini. Jadi buat kamu penggila AC Milan dan Inter Milan, atau penyuka Liga Italia, a must read!
Beberapa tokoh pendukung lain yang paling dominan memenuhi novel ini adalah Kayla. Cewek yang suka asal kalo ngomong itu––teman sekamar Larasati di apartemen. Wanita ini seperti harapan sekaligus pengganggu hubungannya dengan Chicco. Tapi yang mengesankan adalah tokoh Pippo yang begitu aku suka. Nggak tahu ya mungkin tokoh ini muncul di tengah-tengah kehidupan cinta Larasati, dengan secuil tragedi dan sekelimut kisah manis, sampai-sampai aku begitu menyukai tokoh ini.
Trus, aku salut kata-kata, kalimat-kalimat dalam Goloso Geloso, pokoke keren! Suntingan dari Gita Romadhona luar biasa edan, kata demi kata dalam novel ini menggetarkan, asik, brilian, percakapannya asik, dan nggak terduga. Satu lagi yang bikin novel ini spesial, di setiap lembarnya penuh dengan hiasan di setiap lembar novelnya, bikin kita nyaman melihatnya, berlama-lama membaca, bahkan dalam keadaan ngga mood baca sekalipun, kita seperti ingin terus memegangnya.
Dan yang udah bisa kebayang di otak kamu, setting di Italia-nya itu loh, bikin novel ini memliiki nilai marketable yang fuiiiiiih… Tinggi!

Masalah kekurangannya, apa ya… aku sama sekali nggak menemukan celah kelemahan dalam novel ini. Pokoknya nyaris sempurna.
Untuk bagiannya ending-nya ternyata Goloso Geloso lumayan manis untuk sebuah novel yang marketable seperti ini. Kamu akan menemukan sebuah kisah tragis yang berakhir manis.

Keunggulannya sendiri, novel ini menggabungkan semua kelebihan sebuah karya, mulai dari setting yang menakjubkan (seolah pembaca ikut merasakan kemegehan kota Milan), ide dengan memasukan Liga Italia sebagai unsur certita, kalimat-kalimat yang menggetarkan, asik, brilian hasil suntingan Gita Romadhona, desainya cover-nya yang menarik perhatian, isi halamnya yang penuh dengan hiasan dipadu sebuah sinopsis yanng menyimpan suatu rasa “penasaran”. Kamu nggak akan menyesal memiliki novel sebaik ini. Tunggu apa lagi, saat ini Goloso Geloso sedang menantimu…

11 November 2009

B3: Law of Attraction



Mengungkap Rahasia Kehidupan

Tittle : Law of Attraction
Penulis : Michael J. Losier
Penerbit : Ufuk Press

Gokil, buku ini adalah buku motivasi diri alias buku pengembangan diri yang aku baca kedua setelah buku Quantum Ikhlas karya Erbe Sentanu. Buku ini aku dapet dari kakak aku yang kebetulan balik pasca Lebaran ke kampung halaman. Tapi kok rasanya aku pengin mostingin nih buku duluan daripada Quantum Ikhlas ya? Kemungkinan karena bukunya mungil kali ya. Covernya yang ungu-ungu gitu, dan dipenuhi lembaran endorsement menurut aku merupakan cara penarik pembaca yang efektif, termasuk aku yang langsung jatuh cinta dengan membaca endorsement-nya.

Di awal lembaran anda kamu disambut dengan landasan Law of Attraction. Law of Attraction itu sendiri, hukum/daya tarik menarik/ketertarikan. Di sini Micheal berusaha menjelaskan hakekat hukum itu sendiri yang nggak anda duga sebelumnya.
Nah, biasanya kalo nemuin banyak buku motivasi, di dalamnya pasti kita bakal nemuin banyak lembaran yang bakal mendoktrin kita dengan sejumlah wacana yang dibahas ribet abis, tapi bedanya buku ini menampilkan penjabaran yang sangat sederhana dan gampang. Bahkan Law of Attraction menyuguhkan lembaran khusus untuk latihan. Satu hal yang paling mengagumkan, bahwa buku ini mengatakan, kitalah sendiri yang dapat menarik kesenangan, menarik apa yang kita inginkan, bahkan lebih jauh dari itu. Jika kamu memikirkan apa yang ada maka itulah yang kamu dapet. Wah, hukum yang sederhana…. Kadang aku pikir ya seperti itu, seperti yang buku ini katakan, apa yang kita rasakan dan pikirkan itulah yang kita dapat.
Buku mungil ini pun menjelaskan tiga formula jitu yang dapat menarik anda pada sesuatu yang anda inginkan. Trus buku ini menegaskan kita agar tidak memikirkan hal-hal yang nggak rumit, sebisanya kita dapat menjauhkan apa yang tidak kita ingini. Aku suka penjelasan gelembung getaran yang dipapar sedemikian cantik.
Ulasan terakhir, meski nggak tertulis jelas, tetapi buku ini menyiratkan kalo kita tuh mesti bersyukur dan mesti menyadari kemakmuran yang selama ini sudah kita rasakan. Anda mau makmur? Buku ini bakal mengungkap rahasianya…
Buku ini patut kamu baca, tapi setingkat umuran 20 ke atas deh, soalnya untuk remaja yang masih labil––(katakanlah seperti itu), yang emosinya masih nggak tetap––aku rasa sih remaja belum saatnya dicekoki dengan pemikiran orang lain, karena mereka seharusnya berkembang sesuai dengan cara mereka dulu, benar? Tentu saja. Buat kamu yang mau membaca, selamat menikmati dunia kemakmuran baru!
Seperti biasanya aku akan ngeluarin keunggulan buku motivasi ini sendiri. Keunggulan buku karya Michael J. Losier ini, adalah cara penyajiannya yang ngepop, nggak ribet membuat kamu yakin kalo memang benar apa yang ditulis dalam buku ini. Bahkan kamu akan dikasih intruksi atau latihan yang gila luar biasa sederhananya. Malahan yang nggak kepikiran kamu sekalipun. Hmmm…. Udah kecil mungil, penuh kejutan, wah, ditambah lagi sederhana!

31 October 2009

Kuliah versus Pelatihan

Wah pagi ini telat lagi. Sebenarnya hari ini bukan kuliah, tp pelatihan. Masuknya jam 8 teng! But karena semaleman main internet ya jadi bangun kesiangan dah.
Pas ke kampus, dosennya udah masuk. Untung ngga dikeluarin. Maaf ya pak.
Meski tuh dosen dikit tegas ma anak lain, tp gw udah dipuji dua kali, pertama waktu buat feature, sekarang 2 brita hasil editan gw lumayan udah bagus, katanya sih!
Tapi ya itu tadi gue mesti makan 3 mata kuliah laen, teori komunikasi massa, brita pelatihan dan produksi siaran radio tv film. Itupun belum ditambah mata kuliah metodologi penelitian jam 2 siang nanti. Huaaaa semuax bikin otak gue rada tepar. Tp no problemo... Hidup kerja keras!!!

01 October 2009

B3: New Age


Tittle : New Age
Penulis : Andryan Suhardi
Penerbit : Gramedia

Akhirnya bisa juga review nih buku setelah nyaris setahun buku ini mengendap di rak buku aku. Bukan sengaja, tapi karena ada buku lainnya yang masih dalam proses penungguan untuk aku review. Buku ini aku beli bersamaan dengan teenlit Luna Torashyngu––D’Angel. Selain itu novel yang dipenuhi beberapa endorsement dari para tokoh bulu tangkis membuat New Age terasa spesial. Sespesial apakah? Kita baca review-nya!

Novel ini menyajikan sebuah cinta dengan cara yang berbeda, tentang motivasi dan semangat. Tentang cinta tanah air dan harapan. Cerita dibalik teenlit New Age mengisahkan dua remaja belia––Carolin Irmayanti dan Joselyn Adelia yang memiliki satu tekad sebagai pebulutangkis handal di sektor tunggal putri yang selama ini minim akan prestasi.
Perjalanan mereka dimulai ketika dua cewek ini ikut pelatnas dalam persiapan untuk Indonesia Open. Mereka menjalani semua didikan, tekad, spirit di dalam pelatnas dari seorang pelatih handal, Senjaya. Buku ini pun menyajikan bagaimana kehidupan di Cipayung. Interaksi antar teman (para atlit) dan pelatih. Dan kamu bakal disuguhkan sisi kehidupan para atlit di dalam buku ini walau nggak dijelaskan dengan detail. Tapi sebuah fiksi ini sudah mewakilinya.
Nggak hanya itu para tokoh di dalamnya pun diceritakan menarik, seakan setiap tokoh memiliki pribadi masing-masing. Seperti pencitraan teman-teman Joselyn dan Carolin––Seperti Loveliani, Maya, Lidya dan beberapa tokoh lain. Satu yang pasti, bahwa buku ini menegaskan kalo Atlit juga manusia, punya sifat, punya kekurangan, punya keinginan.

Novel yang menghadirkan kesan motivasi dan cinta tanah air di dalamnya lewat dua cewek ini memiliki beberapa bab yang agak mundur ceritanya kebelakang meski pesan yang ada di dalamnya tetap nggak berubah: membangkitkan kita untuk mencintai Indonesia.
Tapi sayang seperti yang aku udah bilang di atas, di dalam novel ini––maksudnya dalam beberapa bab tadi, pembahasan tentang dua cewek ini sebelum masuk pelatnas sangat banyak. Nyaris memenuhi sebagian halaman novel, sehingga kita harus mundur sedikit padahal kita berharap bahwa perjalanan ke pelatnas menjadi cerita seru. Dua bab itu dibungkus dengan ‘Bab Carolin dan Bab Joselyn’. Namun nggak masalah dalam bab itu kita bisa mengetahui awal perjuangan dua cewek ini untuk menjadi pebulutangkis. Ada pengorbanan, perlawanan dan kisah yang akan kamu temui. Penasaran?

Sebuah ending ditawarkan menarik di sini. Dua cewek––Carolin dan Joselyn yang sudah lama ingin mengembalikan prestasi pebulutangis Indonesia khususnya putri bakal menghadapi dua pebulutangkis dunia yang kerap menjuarai seluruh turnamen dunia, Lie Ling dari Cina dan Bae Soong Ra dari Korea. Dan tentu saja ada sebuah kejadian yang mungkin terlewatkan, pada bagian akhir Bab kamu ditawarkan sepenggal kisah dari seorang Yenny––sahabat rahasia Joselyn.

Keunggulannya sendiri, New Age termasuk buku yang memiliki misi yang sangat indah, cinta tanah air. Misi yang selama ini masih ditinggalin banyak orang. Pokoknya sebuah karya nggak terduga dari seorang Andryan Suhardi. Selain itu kamu nggak perlu memikirkan konflik yang berbelit-belit. Nyaris nggak ada. Namanya juga teenlit, ringan lincah dan teen banget. Aku ancungin jempol untuk Andryan Suhardi. Bukunya so ok!

29 August 2009

B3: Moonlight Waltz


Tittle : Moonlight Waltz
Penulis : Fenny Wong
Penerbit : GagasMedia

Pertama aku bakal jelasin dulu awal ketertarikan aku pada teenlit ini. Saat maen ke situs gagas di gagasmedia.net aku langsung kecantol pada sidebar gagas yang memampang buku-buku baru. Mata aku tertuju tajam pada buku yang penuh dengan latar putih (cover-nya ) ini, yang menempatkan satu piano dengan warna-warni not-nya. Covernya membawa kesan jauh dari cover teenlit-teenlit yang pernah ada. Penasaran aku mulai muncul saat aku baca tuh sinopsisnya. Wah, mesti dibaca nih! Pikir aku saat itu.

Sekadar tahu, buku ini telah aku rekomendasiin di awal bulan Agustus untuk di jadikan salah satu bacaan menarik bulan ini.

Ulasan buku dimulai!
Aku dapetin buku ini seperti buku-buku gagas lainnya. Mesti pesan pada kakakku yang tinggal di Bogor (biasa… dikotaku buku gagas minim banget!). Aku dikirimi novel ini, hari minggu kemarin tanggal 9 Agustus, dan karena kayaknya menarik kubaca habis pada hari itu juga tanpa menunggu besok atau hari lainnya. Wah saat buka lembaran-lembaran pertama kupikir ceritanya bakal sedikit rumit tapi… setelah bab II hingga beberapa bab berikutnya ceritanya nggak ribet. Bahkan aku harus katakan ceritanya cukup sederhana, tentang story; persahabatan, cinta, cita-cita–seperti cerita cinta yang udah bisa diterka deh. Tapi–buku ini menunjukan sudut pandang yang berbeda. Ada hal-hal yang perlu kamu tahu di balik cerita cinta yang kayaknya ‘klasik’ ini.

Kisah di dalam karya Fenny Wong ini dimulai ketika Arlin kepaksa mengikuti kemauan adiknya (Dora) yang sudah terlanjur membeli 2 tiket konser Brunhilde Zimmermann saat liburan kenaikan kelas. Di tempat konser Brunhilde Zimmermann dia bertemu teman satu angkatannya Aldo–yang kebetulan menjadi pianis pembuka. Perkenalan mereka di konser musik itu, membawa cerita tersendiri hingga keduanya solid dalam titik persahabatan.

Selama setahun menjalin persahabatan dengan Aldo, muncul Liora di antara mereka. Arlin menjadi sedikit jengah dengan kehadiraan Liora begitu saja, yang masuk kedalam kehidupan Aldo dengan mulus, sehingga rasanya posisi Arlin agak ‘tersingkir.’ Mereka terlibat cinta khas anak muda… pokoknya enak dibaca. Trus kamu nggak perlu melihat keruwetan cerita soalnya Fenny pintar banget mengolah kata-katanya, hingga konflik per konflik menjadi renyah untuk dibaca. Dan satu hal lagi ceritanya, begitu singkat dan nggak bertele-tele.

Sayangnya ada beberapa tulisan yang aku sendiri pun nggak mengerti; Pertama, pada halaman 149 dan dan 151, aku sempat baca berluang-ulang dua halaman itu hingga memaksa aku membaca dari awal lagi tuh novel, masalahnya dalam dua halaman itu nggak menjelaskan alasan yang jelas kenapa sampai seminggu ini Liora nggak masuk sekolah. (atau kemungkinan besar aku nggak jeli membacanya… semoga aku yang salah nilai deh.) Yang kedua, aku harus bolak-balik lembaran-lembaran Moonligt Waltz lagi untuk mengetahui udah berapa kali si Liora dan Aldo menjalin hubungan… untung aku baca ulang, jadi nggak pusing. Trus yang ketiga, ceritanya begitu to the point!

Pokoknya ‘Moonlight Waltz, simpel, ringan, enak, renyah seperti Popcorn, namun menyedihkan.

Bagian ending-nya meski nggak tajem bener, tapi cukup mengesankan. Sempat sih nggak nyangka ada endingnya kayak gini. Di situ juga kamu bisa tahu apa itu ‘Moonlight Waltz’…

Keunggulannya, Fenny mengangkat cerita sederhana dengan gaya penuturan yang berbeda. Ceritanya nggak seribet dibayangkan. Buat kamu penyuka buku yang ringan atau dapat sekali baca dalam sehari atau juga… yang suka dengan buku yang enak dibawa kemana aja, inilah novelnya. Nggak ribet, nggak perlu maksa otak lo ikut mikir namun endingnya seperti Kejutan. Untuk yang mau beli nih buku, coba deh baca dulu sinopsis-nya… ada tuh di gagasmedia.net

Salam Readmore…
Kita bakal ketemu lagi di buku yang lain. Ada rekomendasi buku yang mau dibahas? boleh kok email ke aku, sekarang lagi suka hunting novel dari segala genre!

27 August 2009

Recomand book of August

Setelah membolak-balik sekian situs, setelah membombardir sekian web yang memampang miliaran buku… berikut sejumlah buku yang pernah di rekomendasiin



Judul: Moonligth Waltz
Penulis: Fenny Wong
Penerbit: GagasMedia
***


Judul: Skenario Dunia Hijau dan Cerita-Cerita Lain
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Gramedia
***


Judul: Gorilove
Penulis:
Penerbit: Bukune

Dan yang berhasil aku review entar adalah bukunya Fenny Wong, Moonlight Waltz, terbitan Gagasmedia. Rencananya besok aku postingin. Ditunggu! Situ mau?

20 August 2009

Saat Ramadhan, Saat Menyambut Kota Mati [Ramadhan di Ujung Mataku]



Tak sulit menanyakan apa itu Ramadhan pada beberapa orang, sekalipun anak-anak. Mereka memiliki interprestasi sendiri-sendiri, bahkan beberapa jawaban memperlihatkan perbedaan. Terlepas dari perbedaan itu, jawaban yang begitu umum diketahui yaitu; Ramadhan adalah bulan ke 9 dalam kalender Hijriah, atau lebih umum lagi, adalah bulan dimana kaum muslim wajib menjalankan rukun islam ke 4 yaitu berpuasa. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183:

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Banyak sekali hal-hal yang identik dengan Ramadhan. Tidak makan-minum, menahan hawa nafsu dan menjauhi segala perkara yang membatalkan puasa. Namun mengungkapkan Ramadhan tak semudah hal-hal indentik itu. Masih ada Beberapa hal yang perlu dijelaskan, tergantung dari mana arah kita memandang. Puasa pada Ramadhan sendiri intinya mengajarkan kita mengendalikan diri, disiplin melakukan ibadah dan merasakan makna Ramadhan.
Tapi lain bagiku, Ramadhan justru menghadirkan arti sendiri. Tentu saja, aku salah satu orang yang setuju dengan pernyataan yang begitu umum dalam kalimat-kalimat di atas. Namun pengalamanku yang tak sekalipun melewatkan Ramadhan di tempat lain memaksaku memiliki sudut pandang berbeda tentang Ramadhan. Ini bukan menyangkut makna nilai Ramadhan atau segala bentuk pencitraan Ramadhan.
Bagiku, Ramadhan adalah saat menyambut kota mati.
Selama ini keluargaku tinggal di salah satu kawasan di daerah Ambon, letaknya nyaris di ujung kota. Tak ada yang spesial dari kawasan kami. Tapi perlu diketahui, kawasan kami dipenuhi pelajar. Hampir seluruh kawasan ini menyediakan kos-kosan bagi pelajar. Berdekatan dengan sebuah Institut Islam Negeri membuat kawasan ini tak hanya sekadar ramai dengan para mahasiswa namun dengan beberapa kos-kosan dalam jumlah banyak. Banyak pendatang dari pulau-pulau sekitar Ambon yang meraih ilmu di kawasan kami. Mereka menempati kos-kosan itu seperti membentuk koloni baru. Meramaikan, memberi warna, mencerahkan daerah kami. Mereka lima kali lipat dari penghuni asli daerah kami.
Tak seperti kota-kota lain atau desa-desa tradisional lainnya yang ketika Ramadhan tiba, banyak sanak saudara datang dari penjuru daerah untuk melewatkan Ramadhan bersama seperti melawat. Di daerah ini, tidak sama sekali. Yang terjadi malah terbalik. Para mahasiswa–yang nyaris melebihi penduduk di sini memilih mudik. Mereka seperti dikomando, ketika seorang mudik, maka beberapa kawanan ikutan latah mudik. Yang makin parah, ada beberapa mahasiswa tersebut percaya, bahwa hal wajib Ramadhan lainnya yaitu melewatkan puasa hari pertama dengan orang tua.
Entah siapa yang menanamkan doktrin itu hingga menjadi tradisi sebagian mahasiswa. Apalagi kampus melonggarkan keinginan–maksudnya kebiasaan tradisi itu. Celakanya hal itu terjadi tiga hari sebelum hari pertama Ramadhan, itupun belum ditambah dengan agenda kampus yang kosong. Makin melonggarkan keadaan tersebut, jadi tidak mengherankan mahasiswa bakal koor mudik bersama meski tak teratur.
Kebiasaan itu berdampak sekali pada daerah kami. Kawasan yang awalnya begitu ramai kini harus menerima kalau daerah kami memang begini aslinya–sunyi dan lengang. Perlahan-lahan jumlah orang yang “berkeliaran” di daerah kami pun semakin memudar. Candaan yang biasanya terdengar dari kos-kosan mahasiswa seperti hilang tertelan angin. Belum lagi hari-hari menjelang Ied Fitri, daerah kami sepadan dengan negeri tak bertuan. Paling menyedihkan saat mengakui kenyataan bahwa kawasan kami persis di kaki gunung, makin memperparah keadaan. Aktifitas nyaris lumpuh. Membayangkan pulau tak berpenghuni sama halnya membayangkan kawasan kami saat Ramadhan. Pengalaman ini membuatku sendiri aneh, bukan keramaian dan kebersamaan yang hadir di depan mata saat Ramadhan tapi kesunyian…
Tak heran kalau Ramadhan bagi kami berarti ditinggal sebagian besar penghuni, dan melewatkan kesunyian selama sebulan, layaknya berdiam di kota mati. Itulah Ramadhan di ujung mataku.
Di balik itu semua ada hal menarik, sungkeman–jabat tangan permintaan maaf kami lakukan jauh sebelum Ied Fitri tiba. Biasanya kami lakukan saat para pemudik balik ke kampung halaman. Mereka berpamitan sembari meminta maaf. Namun saat-saat berada dalam titik kesunyian itu kami merasa lebih tenang beribadah, lebih kusyuk menjalani perintah Allah, bahkan kami sesekali ingin Ramadhan lamanya setahun. Agar kekusyukan tertanam dan berarkar di benak dan jiwa kami meski kesunyian larut berbulan-berbulan.
Aku percaya Allah memiliki cara dasyat bagi kaumnya untuk melewatkan Ramadhan. Mungkin dengan kesunyian daerah kami, kami dapat lebih tenang dan lebih dekat melaksanakan rukun islam yang ke 4 ini. Dekat dengan kesunyian bukan hal mustahil bagi jiwa untuk mengintropeksi diri akan segala dosa yang pernah dilakukan. Manusia terkadang butuh kesunyian untuk merefleksikan segala bentuk perbuatannya di dunia ataupun berkomunikasi dengan Allah SWT sebagai aplikasi ibadah. Seperti Rasulullah saat memilih menyendiri di Gua Hira ketika menerima wahyu.
Ramadhan dan Kesunyian, dua hal paling indah bagi kami. Mereka seakan bergandengan menjadikan kawasan kami seperti Kota Mati yang penuh Rahmat.

18 August 2009

Japanese Nyeleneh #5#

Kerumitan Menggegerkan Otak(-Otak) Kami

Gue menguap dan melanjutkan beberapa langkah dengan menunduk. Pagi benar gue harus tiba menyalami kampus–meski rasanya gue nggak suka sekali pekerjaan sebagai mahasiswa ini–maksud gue datang lebih pagi. Gue rasa, belum genap dua jam gue tidur setelah melewatkan malam terburuk gue bersama Mia. Tadi sempat gue berpikir, bahwa gue bisa rehat sejenak. Ternyata nggak! Nggak bisa. Satu harap yang mungkin paling bisa menyamarkan kelelahan ini; wajah Ayumi, semoga saja–
Gue yakin mata kuliah Basic Economic hari ini pun nggak banyak membuat gue tersenyum. Gue tampak lebih diam dan sesekali mengantuk di dalam ruangan. Mata ini rasanya ingin menutup, apalagi deru AC–yang sekilas mirip suara solo James Blunt dan hawa dinginnya membuat gue ingin pulas dalam tidur. Dosen Basic Ekonomi–Pak Kim menegur gue, karena molor di ruangan.
Pak Kim menjelaskan setumpuk teori. Bosan telinga gue mendengarkan beberapa teori para ahli termasuk, dari Adam Smith dan segala tetek-bengeknya, pusing. Satu, gue hanya ingin satu hal, yaitu gue ingin tidur. Bila perlu dengan dengkuran nyaring.
Terlepas beberapa jam dari kehidupan aneh gue besama Mia seperti keluar dari tahanan. Gue bakal memamfaatkan waktu ini. Nggak gue biarin waktu gue ini terlewati begitu saja. Usai rehat mata kuliah Basic Economic gue beralih keluar–maksud gue ingin pergi menuju fakultas hukum. Gue pingin mencari sosok Gyo. Katanya dia sekampus dengan gue mengambil jurusan hukum seperti yang pernah dikatakannya. Gue makin bergegas.
Langkah-langkah panjang gue melewati tangga besar ketika berada di fakultas hukum lalu menyortir beberapa ruangan. Sejujurnya gue hanya ingin menyapanya, seenggaknya kami bisa kenal lebih dekat lagi seperti semalam, saat gue dan dia di bioskop. Cukup lama gue menyortir beberapa ruangan hingga menjumpainya di sebuah ruang. Ruang terakhir di antara ruang kelas, dan satu bagian ruang administrasi. Gue mengamati dirinya sebentar dari luar. Sesaat keberanian gue menemuinya menciut begitu saja. Gue makin merapat pada dinding, sepintas gue telihat seperti cicak. Menatapnya lekat-lekat, ternyata dia masih mengobrol dengan Fashi, sahabatnya yang juga sempat dikenalkannya.
Gue tahu sudah lebih dari sepuluh menit di sini. Bahkan nggak sekalipun gue menghiraukan beberapa orang yang melintas. Meski mereka bakal menarik kesimpulan kalo gue menguntit, menguping dan bahkan aneh sekalipun, gue nggak peduli. Gue bukan seseorang yang aneh seperti itu. Entah kenapa sebuah skenario begitu saja terencana di otak gue.
Gue berniat bakal menunggunya di kereta saat pulang bareng ke Osaka.

***

“Naiklah…” suara itu seperti berteriak di kuping gue. Tubuh ini terperangkap ke dalam mobil. Gue duduk mengeluh, memandangi lelaki bertopi itu yang tadi mendorong gue masuk ke dalam mobilnya.
Pasti ini sedikit dari banyak ‘kerjaan’ si Mia lagi. Dia menyewa beberapa orang untuk menjemput paksa gue dari kampus. Karena dia tahu gue bakal menghilang beberapa saat. Untuk ukuran dektektif, apapun bisa diterka. Atau ini salah satu orang suruhan Kamici di Bar semalam. Mereka mengetahui keberadaan gue. Gue memberengut sebentar lantas menahan napas.
Gue terlanjur kesal, padahal sedianya gue berencana menunggu Gyo. Gue ingin dirinya, bukan lelaki bertopi nggak jelas ini.
“Siapa, lo.” Terang saja suara itu keluar menentangnya. Gue sudah nggak sabar untuk mencari tahu indentitas lelaki ini.
“Jangan coba-coaba memukulku dari belakang.” Ternyata dia menangkap gelagat gue yang hampir ingin menghantam kepalanya, lewat kaca spion. “Kamu ingin kita mati sia-sia dengan kecelakaan mobil? Masih ada banyak hal yang perlu lo pukul daripada diam-diam ingin membunuhku dari belakang. Bayangin kalo aku menghindar dan membanting setir nggak karuan. Kemungkinan paling besar adalah kita bakal kecelakaan.”
Gue membatalkan niat itu.
Seketika lelaki itu membuka topi. Rambutnya langsung tergerai panjang. Dan tersenyum sinis pada gue. Ampun… Mia. Gue seperti terbangun dari tidur panjang, dan kumis tipis itu? Dia ternyata melepas kumis palsu yang melekat itu. Dasar wanita tua setengah gila. Detektif kurang waras. Atau jangan-jangan dia adalah jenis cewek troublemaker. Darah gue terasa naik ke ubun-ubun. Ingin sekali gue mencincang dirinya sampai halus.
“Lo pikir, kapan gue istirahat? Gue tuh butuh udara segar, butuh ketenangan sesaat dan nggak ingin bersama lo setidaknya beberapa jam ke depan!”
“Gue nggak bodoh.”
Bodoh? Lo memang bodoh dan tolol, rutuk gue dalam hati.
“Apa lo lupa percakapan kita semalam? Kamu itu sudah terlibat ke dalam kerumitan ini.”
“Gue tahu, tapi menghindar beberapa jam kan boleh?”
“Sedikit waktu yang lo butuh, nggak akan gue beri! lo dalam langkah berbahaya saat ini.”
“Omong kosong.” Mata gue berpaling ke arah lain. “Cepat! Gue mau turun di sini saja. Entah dimanapun, asalkan jauh dari lo.”
“Kita bakal bertemu, seseorang.”
Mia kekueh berdebat. Dia merasa dirinya selau benar. Selalu benar dengan langkah yang salah ini. Tanpa mempedulikan kehidupan gue. Dia tuh robot? Dia tuh pelayan yang terus bekerja, dan tanpa sedikitpun merasa kelelahan? Nggak kan? Jujur gue terbelenggu, disuruh dan dimonitor kemanapun.
Gue membatu dengan sendirinya sebab Mia nggak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan gue. Cewek yang jauh terpaut usianya dengan gue ini sudah banyak menyusahkan meski baru dua hari. Gue tahu susah sekali membantah semua pendapat cewek ini, tapi bisakah dia mengerti sekali… saja. Gue butuh lepas barang sejam dua jam darinya. Gue punya kehidupan lain, gue punya Hide–si tambun, punya Gyo–Ayumi gue, memiliki kampus dan dosen-dosen gue. Nggak selamanya hanya Mia.
Akhirnya gue tahu, nggak pantas untuk mengeluh, karena gue yang memulai hal ini.

***

Di tengah perjalanan semua rencana itu berubah. Nggak tahu, tempat gue berpijak ini berada dimana sekarang. Yang bisa gue gambarkan tempat ini sunyi dan sejuk. Di sini hanya ada beberapa pohon besar, rindang dan meneduhkan. Beberapa tempat duduk yang sudah kelihatan reot dan bila kami merebah di atasnya, sudah pasti kursi panjang itu patah karena beberapa bagiannya sudah termakan rayap.
“Apa yang ingin lo lakuin lagi dengan membawa gue ke sini?” cetus gue lembut ketika memperhatikan sekeliling.
“Nggak ada. Lo bilang butuh udara segar? Ketenangan? Gue sudah membawa lo ke tempat terbaik. Di sini lo boleh menghirup udara segar sebanyak yang lo mau.”
Gue memandang wajahnya sekilas. Rupanya wanita itu mengerti apa yang gue butuh.
Gue berjalan menuju akar pohon paling besar. Akar pohon itu mirip ular dan tampak di atas permukaan tanah. Di situ gue terduduk dan merenung. Pikiran gue mengilas balik semuanya. Lantas diam-diam berusaha menyadarkan otak gue dengan kenyataan yang gue hadapi sekarang. Gue adalah orang yang diburu beberapa orang, dan lari bersama Mia–itu saja yang gue tahu saat ini. Tanpa mengetahui jelas tujuan semua yang kami lakukan. Mungkin Mia memiliki alasan yang lebih baik.
Mia hanya melipat tangan dan memperhatikan gue.
Semoga saja cewek ini berubah pikiran lagi… dan gue bisa lebih lama menghirup udara segar.
Gue terpejam dalam… memikirkan beberapa kejadian yang nggak pernah terjadi dalam hidup gue.
“Nggak usah lama mikir…” Mia menoyor gue. Kepala gue tergerak beberapa derajat dan kesal gue mencuat lagi. Gue sudah nggak tahan, saat mata terbuka.
Sekali saja Tuhan, biarkan dia nggak membuat gue dongkol!
Dia mulai menarik lengan gue sehingga gue terseok bangkit dan mengikuti langkahnya ke dalam mobil. Dia melajukan mobil dengan cepat dan melibas jalan hingga gue nggak tahu kemana arah mobil melaju sekarang. Yang gue tahu kami sudah berada di pusat kota, salah satu sudut kota Tokyo, di antara sekian gedung pencakar langit dan menepi di parkiran gedung paling tinggi. Gue mendesah gelisah saat secara otomatis otak gue menerka-nerka kejadian apa yang bakal gue hadapi nantinya.
Sebelum kami, turun dari mobil Mia mengenakan topi tadi dengan melipat rambut. Mia memasang kumis tipisnya tadi–yang gue rasa lebih jelek dari pada kumis palsunya Jojon–pelawak tanah air itu.
“Shit! Lo mau nyamar lagi? Kita bakalan dikejar? ditembak hari ini? Berkali-kali?” Gue meradang menemukannya bertingkah dengan penyamaran.
“Tenanglah, hari ini nggak ada tembakan, nggak ada lari-larian.”
“Gue nggak percaya!”
“Nggak usah cerewet.” Dia menarik gue, hingga gue terkesan mengikutinya.
Kami menuju pintu masuk gedung paling tinggi itu. Gue nggak tahu pasti gedung ini. Ternyata keamanan gedung ini berlapis, tapi tidak untuk kami. Di loby gedung dekat pintu masuk, Mia hanya perlu menunjukan kartu nama. Seorang penjaga mempersilahkan kami. Enteng sekali.
Sebuah lift berhasil kami tumpangi. Mia menekan angka enam pada tombol-tombol di lift. Gue berdebar. Semoga saja seperti janji Mia. Nggak bakalan ada tembakan hari ini. Nggak ada sesuatu yang mengerikan, minimal untuk beberapa hari ke depan, bukan hari ini saja.

***

Kami memasuki ruangan tertutup, seperti lorong. Namun lorong ini jauh dari kesan pengap. Hanya ada satu cahaya penerang yang terang sekali. Gue mengira sebelumnya kalo gedung ini nggak memiliki lorong, namum gue pikir untuk gedung pencakar langit hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Seharusnya gedung ini punya ruangan yang lebih leluasa untuk kami masuki bukan seperti lorong begini.
Semua itu terbantahkan ketika lorong tersebut mentok pada ruangan yang lebih luas. Ruangan itu hampir berbentuk elips dan luas luar biasa. Ini baru bisa dikatakan cocok banget dengan gedung khas Jepang. Ada satu meja kerja yang mengkilap, dibaliknya terletak kursi yang berposisi membelakangi. Gue dapat membaca tulisan di panel besar di dalam ruangan itu, tepat di dinding, meski memakai bahasa Jepang, gue bisa mengerti kalo ini gedung Badan Intelejen Asia.
Badan Intelejen Asia?
Oh, My God! Seserius ini?
Sejurus kemudian kursi tadi berputar–berposisi seperti selayaknya. Kursi itu menghadirkan sesosok lelaki dengan tampang tegas, tua khas Asia namun sepertinya masih menunjukan bahwa dia memiliki kekuatan.
“Kamu telah datang,” sambutnya.
Mia segera mengambil kursi di depan meja itu, dan memerintah gue duduk.
“Seperti janji kamu… apakah dia orang yang bakal dapat menjamin semuanya? Menjamin penyelidikan ini? Membantu semua proses ini berjalan?” sambung lelaki tua itu lagi sembari mendelik gue.
Mia mengangguk.
“That’s right. Kamu memang pintar melakukan hal-hal di luar kesanggupan kami,” pujinya pada Mia.
Gue hanya dapat mendengar pembicaraan mereka namun gue nggak tuli untuk nggak mengerti arah pembicaraan mereka. Obrolan mereka menjurus pada gue dengan bahasa Jepang yang fasih, lantas Mia memperkenalkan gue padanya. Nggak butuh menanyakan namanya, gue sudah bisa tahu bahwa lelaki tua itu adalah Komandan Jeung Azzawa. Dia pria yang paling dihormati di Badan Intelejen Asia ini. Apalagi papan kecil yang nggak kurang dari tiga puluh senti tipis di atas meja kerja mempertegas dirinya dalam sebuah identitas, Jendral Jeung Azzawa, Komandan Badan Intelejen Asia.
“Nggak perlu panjang lebar,” putusnya.
Sesaat semua penerangan padam dan sebuah layar di samping kami terlihat. Pak Komandan bakal menunjukan beberapa slide gambar.
Gambar pertama muncul. Terlihat seseorang pria bule dengan perawakan kusut. Berkaca mata tebal. Kerutan banyak di ujung-ujung mata. Lantas Pak komandan berbicara panjang lebar, “Itu gambar terakhir sebelum profesor Diego meninggal. Dia seorang ahli peneliti teknologi yang berhasil menciptakan sebuah teknologi baru. Maaf, Mia aku baru bisa menceritakannya sekarang. Profesor berhasil menciptakan sebuah alat yang bisa membaca pikiran makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan sekalipun.”
Gue terperangah, alat? Alat apa itu? Tanya gue dalam hati. Gue melirik Mia, nggak sedikitpun dia menoleh pada gue.
Slide gambar ke dua muncul. Sebuah alat dengan monitor kecil. Bentuknya kotak, lebih kecil dari pada ukuran ponsel saat ini. Ada dua kabel penghubung di antara ujung-ujung alat itu.
“Itulah alat yang diciptakan profesor Diego. Alat yang bakal membantu science dan pengetahuan manusia. Sayang, profesor belum sempat memberikan nama alat itu. Dua kabel itu berfungi untuk mengambil data di dalam objek makhluk hidup yang diteliti, data itu berupa hal-hal sedang, sudah dan akan dipikirkan objek. Kabel itu nantinya dimasukan ke dalam jaringan kulit objek yang akan diteliti. Sedang monitor berfungsi menjelaskan data dalam bentuk tulisan,” sambung Pak Komandan.
Gue takjub adakah alat seperti itu? Terobosan brilian menurut gue.
Nggak lama gambar ke tiga muncul. Seseorang pria yang berbalut tuxedo, bermata sipit dengan cerutunya yang berasap.
“Kamu pasti tahu, dia adalah Kamici, salah satu mantan ketua sayap kiri Yakuza, yang kini beroperasi untuk pengedaran narkoba jaringan Asia.”
“Aku tahu,” Mia mengangguk. “Dia salah satu target berat polisi saat ini. Namun sampai detik ini pun polisi masih nggak bisa menemukan bukti kalo Kamici adalah pengedar narkoba. Banyak kasus besar yang mengarah padanya, namun begitulah Kamici, dia lihai betul.”
“Dia, orang terakhir yang ditemukan sesaat profesor Diego meninggal di dalam labnya.”
Layar menunjukan gambar-gambar di lab profesor. Gambar-gambar yang memperlihatkan tubuh profesor tergeletak kaku, berikut sosok Kamici yang sempat ada di dekat jenazah profesor. “Foto-foto ini diambil dari beberapa kamera cctv. Sayang kamera itu rusak, sehingga gambarnya banyak yang terpotong-potong. Nggak banyak kejadian yang terekam.”
Pak Komandan memperlihatkan kembali alat itu, kali ini dengan gambar yang lebih jelas. “Profesor menciptakan alat itu hanya dua buah, satu untuk penelitian pemerintah dan satunya lagi dijadikan sebagai duplikat. Namun profesor menyadari banyak ilmuan yang mengincar alat itu. Mereka memiliki sejumlah niat nggak baik. Untunglah profesor nggak bodoh, dia menarik kembali alat itu dari pemerintah dan memusnahkannya. Banyak para ilmuan pemerintah yang mencegah tindakan profesor saat itu. Profesor nggak mau tujuan awal peciptaan alat tersebut disalahgunakan. Sedangkan alat satunya lagi hilang pada hari yang sama saat ditemukan mayat profesor di dalam lab.”
“Aku nggak menyangka bakal sepelik ini,” Mia masih bingung, begitupun yang terjadi dengan gue.
“Kamu pasti punya naluri untuk memperkirakan dalang dari semua ini.”
“Apakah benar semua itu Kamici yang melakukannya?”
“Entahlah, sekarang ini semua bukti yang berada tangan di Badan Intelejen, mengarah padanya.”
Beberapa slide berikutnya memperlihatkan kejadian-kejadian seputar kematian profesor. Gue masih nggak habis pikir dengan kenyataan ini.
“Banyak spekulasi yang terjadi di luar sana. Mereka hanya butuh kebenaran. Dan Badan Intelejen harus menjawabnya…” lelaki tua itu berputar di antara kami.

09 August 2009

B3: D’ Angel


Tittle : D’Angel
Penulis : Luna Torashyngu
Penerbit : Gramedia

Ngomongin teenlit lagi, seru nih. Dunia teen emang so perfect. To the point, Novel D’Angel aku beli sekitar setahun lalu, bulannya aku agak lupa, yang pasti di atas Juli. Kalo nggak salah belinya dua, yang satunya lagi teenlit dengan judul New Age (tapi di sini aku nggak bakal ngebahas New Age, mungkin untuk postingan berikutnya)

Terhormat banget saat aku dapatin nih buku, aku pikir biasanya teenlit ceritanya nggak jauh-jauh dari cinta – masih sama kupikir demikian saat ngebaca nih novel di halaman-halaman pertama. Nyatanya pemahaman itu terbantahkan kemudian, kenapa? Akan aku perjelas di bawah. Karena ada yang pengin aku sampein dulu. Buku ini sebenarnya telah diterbitkan duluan oleh sebuah penerbit teenlit juga yaitu penerbit Cinta – sepupunya Mizan atau Mizan Fantasi dengan judul Sweet Angel # 1: The Pigeon.

Buku ini mengisahkan sebuah cerita sederhana di awal dan rumit di belakang. Why? Anda akan dibawa seolah masuk sebuah cerita dengan musik mellow dan pertengahan sampai akhir anda akan ngerock! Maksud aku, buku ini awalnya mengisahkan warna dunia remaja tapi akan penuh dengan action di pertengahan cerita hingga akhir. Pantaslah bahwa D’Angel tampil dengan gaya yang beda untuk seorang penulis Indonesia. Sebuah novel action remaja? Tentu saja!
Luna Torashyngu mengisahkan dalam buku ini tentang seorang cewek SMA – Fika, dengan segudang kelebihan dan belakangan dia tahu kelebihannya itu karena dia bukan seorang manusia, tapi Geneoid – manusia hasil rekayasa DNA oleh seorang profesor. Kehidupannya berubah terbalik saat merayakan hari jadiannya dengan cowok populer sekolah – Reza, dia diincar oleh geneoid jahat.
Awalnya dia sendiri heran mengapa sampai hidupnya diburu oleh para genoid jahat. Untungnya dia ditemani seorang cowok Los Angel yang membantu Fika mengungkap semua teka-teki dalam hidupnya. Nggak kalah tanggung penulis melibatkan CIA, OPM dalam buku ini. Luar biasa? Tentu saja untuk penulis Indonesia aku akui sebuah terobosan yang menarik, kalo saja penikmat buku di Indonesia seperti di Barat, mungkin buku ini laris manis.
Untuk setting-nya megang banget deh! Setting-nya banyak amat nggak kecuali San Diego-As, Harbour Front-Singapura. Penulisnya sadis, sempat berpikir untuk nelurin buku kayak begini.

Sayangnya, buku ini trilogi, jadi kamu mesti baca lanjutan duanya lagi, D’Angel: Rose dan D’Angel: Princess. Biar bisa mengartikan sebuah tanda tanya dalam mimpi si tokoh utama ini… satu hal lagi dalam teenlit ini kamu jangan bingung saat menemukan sebuah awal paragraf baru yang nyatain ‘satu menit sebelumnya…’ atau sejenisnya karna gue pikir itu agak rancuh dengan alur majunya sih, (itu menurut pribadi gue aja kok… bukan generalisasi!)
Terlepas dari semua itu, harus gue akui, penulisnya luar biasa imajinatif.

Ending yang dipilih penulis cukup hebat, karena bakal memaksa kita tuk baca lanjutan trilogi lainnya.

The last, aku akan beberin keunggulan D’Angel. Pertama teenlit ini termasuk hadir dengan jenis yang super berbeda untuk teenlit yang ditulis oleh seorang penulis Indonesia, sebuah action remaja? Bayangin aja sendiri. Ceritanya menawarkan penuh action khas untuk pembaca, sukses banget! Kedua teenlit ini menggunakan setting beragam hingga nggak kelihatan monoton alias itu-itu melulu. Ketiga bahasa penulis sangat mudah dipahami, nggak seperti tulisan-tulisan Andrea Hirata di Laskar Pelangi-nya, yang super berat, untuk pembaca pemula. Keempat, yang kurasa amat penting, penulis berhasil ngebuat pembaca penasaran, penasaran itu terdiri dari dua hal, satu: apa arti dari mimpi-mimpi Fika (si Tokoh Utama) selama ini, dan yang kedua adalah, bagaimana dengan nasib musuh besarnya, Jendral Rastaji – yang nggak sempat dibunuhnya.

Wuih, buat penggemar buku action, nggak perlu kok jauh-jauh nyari buku sejenis dari penulis luar, cintai tulisan dalam negeri, meski intriknya nggak rumit tapi action-nya megang.

07 August 2009

Japanese Nyeleneh #4#

Akhirnya, D(M)ia membongkar otak gue

Kabut-kabut menyelimuti sepanjang flat hingga nyaris seluruh jalan yang gue tempati di Osaka ini.
Ketukan kamar yang nyaring memaksa gue bangun dari tidur. Ha....… Siapa sih malam-malam begini bertandang… seingat gue, tidur gue tadi siang pun diganggu, mah ini? Gue tampak tergopoh-gopoh saat melebar pintu. Kalo gue punya kekuatan super, udah gue libas nih orang.
“Gue butuh lo…”
Mata ini terbelalak nggak percaya, sebuah sosok dengan tegap berdiri, mengenakan jaket hitam tebal plus topi mendelik gue dengan tajam. Lagaknya seperti ingin menciduk gue…
Tangan kekarnya secepat berkas cahaya menarik pergelangan gue begitu kasar. Gue ketarik, terseret begitu saja. Tanpa peduli kamar gue terbuka atau tertutup, dia memaksa gue hingga melewati lantai dasar. Gue sempat terseok dan nyaris terjungkal sekian kali. Untung kuda-kuda gue kuat. Usai mengusai diri, akhirnya gue bisa juga menghembuskan napas lega.
Keadaan sekitar flat sunyi. Pekat dengan kegelapan. Emang nih orang, kurang ajar bener. Siapapun di dunia ini, nggak pengin sekalipun ditarik kayak kambing dan nggak bisa menikmati malamnya sendiri. Perlu diberikan mata kuliah moral nih.
Sosok itu melepas topinya. Meski agak gelap, gue dapat menangkap garis-garis wajahnya. Gue kini tahu siapa dia. Dia wanita yang tadi siang, yang gue tolong. Nggak Mungkin! Terpaksa gue segera memundurkan langkah. Gue nggak mau berurusan dengan satu hal pun dengan cewek ini. Pasti menyesatkan gue nantinya. Tanpa sadar tangan gue dicekal. Kuat sekali. Rupanya dia lihai benar memperhatikan gelagat gue.
Gue jedah sebentar, menenangkan diri dalam diam. Nggak perlu ada yang ditgueti, ini hanya sebuah kejadian biasa. Dan nggak akan terulang sebuah kejadian seperti siang tadi. Lari, kekejar, tembakan senjata, alah… itu hanya mimpi buruk tadi siang, gue membatin.
“Nggak perlu khawatir, gue hanya butuh lo kok.” Omongannya enteng, seperti nggak pernah terjadi kejadian apapun.
“Buat apa?”
“Nggak usah bertanya sepanik itu.”
“Gimana bisa, lo udah bikin tidur gue nggak nyenyak. Dan ini udah ke dua kalinya. Gue nggak mau bakal terjadi kejadian ini untuk ke tiga kali. Bisa-bisa gue mati karena kekurangan tidur. Masih mending insomnia. Jelas karena penyakit. Mah ini karena lo. Nggak bakal deh. Lo liat sekarang jalanan sunyi, cuman lo doang yang berkeliaran, jangan-jangan lo nggak punya rumah ya? Pengin numpang tidur di flat gue.”
“Jadi cowok nggak usah bawel. Gue tau, nggak lazim berkeliaran di jalanan untuk ukuran kota seindah ini.”
“Gue perlu tau apa yang bakal lo lguein.”
Gue nggak tahu apa yang terjadi dan nggak ingin menduga-duga. Diam-diam dia menggenggam kedua pangkal lengan gue, mendiamkan diri gue layaknya seorang robot, menegak menghadap gue, menatap gue dengan rangkaian indera penglihatannya, tajam. Saat-saat seperti ini, gue ingat kemiripan tingkahnya seperti Hide. Hanya bisa diam dan melototin serial teve, serius dan diam, nggak bakal concern dengan sekeliling. Padahal yang disaksikan film kartun. Doraemon lagi! Dia mulai melepas ikat rambut. Menggoyang-goyang kepala hingga rambutnya melayang kesana-kemari. Dia pikir gue bakal memaafkannya hanya karena dia memperagakan adegan iklan sampo? Nggak akan. Rambutnya terlepas menjuntai ke bawah, gue pikir indah untuk ukuran sampo murahan. Sigap tangannya mulai membuka resleting jaket hingga memperlihatkan sebuah gaun hijau muda, anggun sepertinya. Semoga pemikiran gue benar-benar tepat. Begitupun dengan celana hitam pekat ketat yang membalutinya.
Gue sempat bergidik, dan berpikiran yang bukan-bukan. Untunglah semua spekulasi negatif yang nyaris di pikiran hilang dengan apa yang dikenakannya di balik pakaian serbahitam itu. Lo dapet menduga-duga kalo misalkan nggak ada gaun hijau muda tadi. Gaun hijau muda itu lumayan cantik, begitu berpadu dengan sosok yang memukau kayak dirinya. Perlahan dia memutari tubuh gue, jalannya mirip Miss. Universe lantas menghembuskan napasnya di telinga gue.
“Kita ke Bar…”
“Bar?”
Telinga gue segera berdiri.
“Yup, di sana kita bakal disco bareng…”
“Dengan begini?” tunjuk gue pada pakaian yang gue kenain.
“Nggak lah, dengan seperti ini lo mirip badut di dalam Bar,” komennya lalu meninggalkan gue beberapa langkah.

***

“Apa lo yakin ngasih gue pakaian ini?” Gue melirik sekali lagi baju gue saat di depan Bar. Gue mirip seorang pemain sinetron, meski wajah gue emang terlihat baby-face (walah… bukan, babi-face kali!), dia memberikan sebuah baju lengan pendek berkerah. Sesaat gue perhatikan lagi t-shirt gue, tertampang jelas, tulisan waiter. Pelayan?
“Kamu kelihatan cocok, nggak usah ragu. Lo keren.”
“Keren?”
“Sangat. Setidaknya lo nggak seperti badut.” Tangannya menarik gue dengan cepat. Seperti menarik anak kecil. Untung gue nggak diberi lolipop. Kalo nggak, gue udah nggak ada bedanya dengan anak kecil yang ditarik dan dirayu dengan lolipop.
“Tunggu, nama lo?”
Tercetus sebuah pertanyaan yang entah apa gue lontarin.
“Gue?” tunjuknya pada dirinya sendiri. “Gue, panggil gue Mia.”
Kami memasuki bar. Dari depan pintu, bunyi keras menyambut kami. Nyaring namun berirama. Sinar lampu dengan seribu cahaya berkeliaran di sana-sini. Beberapa orang terlihat asik menikmati musik, menggeleng-geleng kepala seenaknya, berjingkrak, goyang nggak karuan, nggak peduli beberapa orang melihat mereka. Gue mulai senang ternyata Mia mengajak gue ke tempat terbaik seperti ini.
Asoy…
Setengah jam di dalam ruangan surga ini, gue tangkap mata Mia celingak-celinguk. Kami mendapati satu tempat duduk dekat meja pelayan. Seorang pelayan melihat gue dengan tengik. Sepertinya dia mencurigai gue. Berkali-kali Mia mengingatkan agar tetap tenang. Jangan tunjukan perasaan takut atau lainnya. “Lo dan dia sama-sama pelayan di sini. Dia nggak berhak untuk nanya indentitas lo. Kalo kepaksa bilang aja, lo pelayan baru.”
Tindakan bodoh apa yang kini Mia berikan pada gue.
“Please. Lo tahan ini.” Mia menyodorkan gue sebuah kotak mini.
“Apaan…?”
Dia berbisik, “Camcoder mini. Lo terus tahan seperti itu, jangan gerakin tangan lo.” Nyaris hanya sebesar korek api, camcoder itu. Gue terbelalak. Ada camcoder sekecil ini. Alah… Jepang punya segalanya. Untuk urusan tekhnologi, Jepang nomor satu. Barangkali sekecil semut pun bisa dijadikan sebagai kamera. Mia menyuruh gue untuk mempertahankan posisi gue, tangan gue. Boong mana ada kamera ginian, begitu saja pikiran itu masuk menyalip semua pikiran awal gue.
“Tunggu, di sini. Gue bakal kembali.”
Seribu rasa nggak beres, berpadu dengan pikiran menduga-duga bercampur tapi musik di Bar ini menyamarkan perasaan itu. Gue masih memegang korek api itu sambil menggeleng-mendengarkan musik.
Beberapa orang hanya duduk dan mabuk, sementara itu beberapa lelaki bertampang seram memperhatikan korek api gue.
Setengah jam gue mulai merasa jengah, ternyata dari dalam ruangan khusus tepat di lantai atas, dekat tangga, Mia meloncat turun. Langsung saja menjadi pusat perhatian semua orang. Ada kekaguman sesaat dari orang-orang di Bar. Jujur gue takjub. Seseorang berbadan kekar mengacungkan pistol dan menembaknya membabi-buta. Meski amburadul namun bisa gue taksir sasaran tembakan itu menuju Mia. Sesaat semua pengunjung berhamburan, terkadang jeritan cewek mengaum nyaris di setiap sudut Bar, ada juga yang mirip dengan suara nenek sihir. Kalo bukan nenek lampir pasti nenek gerondong tuh. Mereka seperti dikejar trantib di lampu merah Jakarta.
Mia menunduk. Sesaat sebuah tembakan nyaris mengenainya. Semua yang ada di dalam Bar kacau balau. Gue panik luar biasa. Beberapa lelaki seram yang sedari tadi menggerakan matanya ke korek api gue ini langsung berdiri. Mereka melihat gue dengan curiga. Gue bersikap santai namun mereka nggak tahu bahwa gue gawat banget dalam hati. Mia mencekal lengan gue dan berlari keluar. Sesaat Gue dengar tiga tembakan mengarah tubuh kami. Pistol itu berasap dan ganas. Kami menunduk dan membelok pintu keluar. Nggak ada jalan lain. Semua di sini merupakan gedung tinggi, nggak ada lorong. Sekali kita melarikan diri, pasti kita ketembak.
Mia mulai meraih tembok. Dan dengan cepat merangkak naik gedung Bar seperti laba-laba. Gue mengikutinya, meski untuk pertama kali, sebagai cowok gue harus melakukannya. Terpaksa gue lakukan kalo nggak ingin mati konyol.
Kami berhati-hati karena nyaris nggak ada panel yang lebar untuk kami berpijak di tembok Bar. Lelaki tadi bareng beberapa lelaki kekar terlihat sudah berada di Bar. Pistol mereka tetap terancung. Menjulur seperti ular ganas. Untunglah saat mata mereka menjejal ke atas, memperhatikan gedung-gedung termasuk Bar, tubuh kami sudah berada di atas genteng. Gue sempat terjatuh ke bawah, karena sepatu gue terlalu licin digunakan berjalan di genteng. Berapa puluh meter kami sekarang berada dari permukaan tanah? Gue juga nggak tahu. Yang pasti begitu tinggi.
Mia dan gue memperhatikan mereka dari genteng. Mereka terlihat kelimpungan. Ada garis menyesal dari raut-raut mereka. Pria yang paling besar membuang ludah kecewa. Untunglah ide gila Mia memanjat tembok berhasil. Bisa bayangin kalo gue mati hanya karena satu peluru?
Untuk sementara kami bisa menghindar.
Perlahan gue menghembuskan napas lega…

***

Gue membuang pandang sekilas pada jam di pergelangan tangan gue. Ternyata sudah menunjukan pukul tiga pagi. Gue dan Mia memutuskan jalan, menyusuri malam, gue nggak tahu jalan mana yang telah kita lewati. Bahkan dan mungkin lebih jauh dari jarak Bar tadi dengan flat gue. Kami kini memasuki lift dan menyelinap ke sebuah kamar apartemen mewah.
Gue segera merebah di sofa.
“Lo harus ngejelasin semua ini, semua yang terjadi pada gue, lo dan tingkah lo yang di luar kepala,” gue nggak punya cukup kesabaran untuk mengorek semua yang terjadi, hari ini. Hanya menjadi orang bodoh ketika gue hanya diam, tanpa sedikit pun mencari tahu.
“Oke tenanglah.” Ternyata dia mulai luluh karena gue desak. “Gue adalah seorang dektektif, sekaligus anggota agen rahasia negara. Kami menyelediki kasus besar. Ini tentang konspirasi sebuah kematian,” sambungnya.
Mia berlalu ke ruangan lain, sepertinya dia menuju dapur.
“Cerita boong lo, nggak bakal gue telan,” kata gue separoh teriak.
“Lo terlalu keras kepala.” Mia kembali ke ruang tengah lantas memberikan gue segelas teh hangat. “Gue nggak pernah main-main. Yang gue omongin tadi benar adanya.
“Lo udah gila… memasukan gue ke dalam kegiatan ini?”
“Gue juga nggak berencana seperti itu. Ini sudah terlanjur. Lo terlibat di dalamnya karena sempat menolong gue. Mau nggak mau mereka juga bakalan tahu bahwa kamu bagian dari gue. Meski itu nggak benar.”
Gue makin nggak ngerti. “Lalu kenapa tadi lo masuk ke dalam. Ruangan itu, di dalam Bar dan keluar dengan ditembak.”
“Ini ada hubungannya dengan kejadian tadi siang. Tadi siang gue masuk ke ruangan kamici di markasnya, karena dia adalah satu-satunya tersangka pembunuhan professor Diego. Tapi hasilnya gue ketahuan. Pas tadipun begitu gue sebenarnya pengin masuk ke salah satu ruangan Bar itu, tempat dimana biasanya Kamici berada. Dan hasilnya tetap sama, gue ketahuan. Beberapa petugas di dalamnya ternyata mencurigai gue. Padahal gue sempat melewati dua petugas di pintu terakhir. Ternyata keamanannya berlapis.”
“Gue nggak percaya ini…”
“Sudahlah.”
“Gue perlu tahu lebih.”
“Gue tadi terpaksa menyamar dengan menggunakan gaun. Mereka nggak pernah melihat gue menggunakan gaun, karena selama ini pakaian gue tertutup. Gue nggak ingin ketahuan kaki-tangan kamici yang pasti sudah melacak jejak gue. Berjalan masuk dengan lo di dalam Bar itu sedikit tersamarkan karena wajah lo beda banget dengan orang kebanyakan di Osaka ini. Apalagi dengan seorang pelayan. Gue melakukannya karena nggak mau mengambil resiko.”
“Siapa professor Diego?” tanya gue penasaran.
Mia bungkam, sepuluh menit kami dalam kediaman. “Tidurlah gue bakal menjelaskan semuanya nanti. Perlu cukup banyak waktu, untuk semua itu.” Mia pergi dan meninggalkan gue di sofa tanpa menyambung kalimatnya itu. Gue seperti terperangkap. Anjrit! Kenapa kehidupan gue dirubah hanya sehari?
“Ceritain semuanya, ceritain apa adanya. Dan jangan tutupin satu hal kecil pun dari gue.”
Mia menatap sinis.
“Ceritain! Gue beri lo sejuta dollar,” keluh gue kesal.
“Diamlah. Entar lo terima 5 juta dolar dari gue!”
Hus.. jawabannya menyulutkan kedongkolan gue. Ternyata di nggak lebih baik dari siapa pun.

30 July 2009

B3: Samira dan Samir


Kisah memilukan tentang cinta dan penindasan di Afghanistan


Tittle : Samira dan Samir

Penulis : Siba Shakib

Penerbit : Alvabet


Aku bisa sampai baca buku ini, karena kebetulan. Kalo nggak salah aku niatnya ke perpus kampus buat baca bukunya NH. Dini yang judulnya Jepun Negerinya Hiroko, tapi kok saat mondar-mandir depan rak Sastra, aku kencantol ama nih buku. Desain cover-nya yang menarik dipadu dengan sinopsis-nya yang ditutur enak membuat aku langsung ingin ngebacanya.


Tepat sekali kalo novel dengan 22 bab ini ditujukan untuk semua kalangan, bahasanya yang gila… penuh dengan sastra membuat kamu mesti cerna baik-baik nih novel. Memangku nih buku sama halnya kamu membaca cerita serupa Laskar Pelangi. Muatan kalimat-kalimatnya sangat syarat dengan makna, hingga percakapannya pun nggak luput dari makna sastra.

Cerita nih novel mengisahkan kehidupan seorang komandan di negri Afghanistan yang hidup terbiasa dengan adat dan lingkungan sosialnya. Mendengar seluruh peraturan di masyarakatnya. Bergaris keturunan dari seorang anak pemimpin perang memaksa Pak Komandan harus menyadari bahwa, dia mesti memiliki seorang putra yang bakal meneruskan kepemimpinannya.

Semua dilema, kisah, perasaan dimulai dan digulirkan saat Pak Komandan tahu bahwa istrinya Daria, melahirkan seorang anak perempuan bukan lelaki. Untuk mengatasinya dia mendidik anaknya, Samira menjadi seorang anak komandan perang seperti lazimnya; mengajari berkuda, menembak, bermain buzkashi. Hingga Samira menjadi Samir-nya Pak Komandan.

Cerita yang menyedihkan ini, mewakili seorang anak Afghanistan yang dilema menentukan indentitasnya di negeri perang. Kamu nggak hanya disuguhin dengan bahasa yang indah namun kerumitan cerita yang kompleks, dimana dia harus menerima kenyataan kehilangan kakek dan ayahnya, tentang kehidupan yang harus dijalani saat mesti bertahan hidup, pindah dan menjadi tulang punggung keluarga. Gila menarik banget. Yang paling penting Samira harus mempertaruhkan hidupnya ketika dihadapkan untuk memilih Bashir atau Gol-Sar – kakak Bashir.

Pada bagian akhir anda ditawarkan sebuah ending yang dilematis, jawaban atas semua masalah yang membelenggunya sejak lahir hingga dia memilih menikah.

Satu hal saja yang pengin aku bilang: bahwa buku ini bukan lagi patut, tapi wajib dibaca!


Nah, untuk keunggulannya sendiri… Siba Shakib berhasil memaparkan tulisannya dengan menggunakan sastra yang enak banget. Pemilihan sudut pandangnya… luar biasa! Kamu bakal terheran-heran ketika membaca setiap bab-nya. Konflik yang terjadi antar tokohnya rumit namun sangat renyah dinikmati, apalagi penyelesaiannya. Pokoknya buku ini miris hingga di akhir lembarnya.


27 July 2009

Japanese Nyeleneh #3#

First Anugerah, kok Mala(m)h Nyemplung Musibah?


Ke mana aja lo.”

Seluruh indera penglihatan gue langsung memonitor tubuh tambun dengan perawakan kocak saat membuka pintu flat. Hide sedang melahap roti, sembari menguyah keenakan. Matanya membulat, seolah-olah sedang menghadapi dessert terlezat sedunia.

Eh, gue dari tadi nungguin lo.”

Gue… barusan keluar kok. Beberapa hal mesti gue urusin,” sahut gue lantas mendekati Hide. Gue mendeliknya perlahan, “gue liat dandanan lo rapi amat, necis… hmmm… Bau parfumnya menyengat. Kalo nyamuk lewat, pasti dah mati tuh nyamuk. Emang lo mau ngapel ke mana?”

Dodol! Kita mau nobar!”

Gue mendesah panjang, “Gue baru inget.”

Nyengir aja lo!”

Secepat kilat gue bersiap-siap. Nggak butuh sepuluh menit semua yang ada pada gue tampak rapi. Gue mutusin mengenakan blazer cokelat dengan celana jeans belel bareng sepatu kets, nggak ada spesial dari dandanan gue. Berdua kami melaju menuju bioskop Art Japanese. Beberapa film menarik perhatian kami. Satu film terbaru Robert Pattison, lumayan membuat gue penasaran.

Nggak usah nonton yang aneh-aneh,” protesnya saat gue putusin nonton film Robert Pattison.

Gue suka nonton… nih film.” Tunjuknya pada billboard mini Rowman Akitson.

Nyari film kayak gitu… kualitas tuh number 1.”

Kualitas? Sok tau. Mana ada film yang nggak berkualitas dijadiin sebuah karya. Nggak ada! Palingan lo aja tuh yang keenakan nyari film thriller. Sekali-kali nonton yang bisa ngebuat kita seneng. Ketawa, bukan bikin tegang, setres tau!”

Uh dasar tambun! Bisa saja nyari alasan. Terpaksa gue terima saja tawaran Hide. Lagian nggak sopan, dia yang nraktir. Tapi pasti tuh film nggak banyak pengunjung, percaya! Hari gini nonton film kayak begitu, ngebayangin wajahnya aja udah tua apalagi acting-nya?

Lumayan rame di studio satu. Rangkaian indera penglihatan gue menumpu pada satu sosok. Kurus tinggi semampai, matanya kelabu meneduhkan. Giginya rapat cantik. Wajahnya merona indah. Haiyyah? This is Ayumi? Gue ngeliat cewek menarik itu lagi, bukan hanya di kereta. Dia berjalan bersisian dengan seorang cewek mencari tempat duduk. Nyaris dirinya seanggun bidadari. Meski pakaiannya amat sederhana seenggaknya kutemukan dirinya di sini penuh pesona. Ini langka buat gue. Dia mirip putri-putri Jepang – yang kulitnya sehalus sutra, dan pesonanya seindah sakura. Kelewatan tuh pujian!

Buuuk! Nggak sadar kaki gue menabrak jejeran kursi. Saking menatapnya gue nggak sempat merhatiin jalan. Shit! Oh semua orang melempar tatapannya lantas tertawa lebar. Dapat ketebak? Saat ini malu menyerangku hingga ke ubun-ubun. Nggak apalah, minimal dengan melirik Ayumi gue bisa dapat tenang. Tapi makin lama, puluhan kepala makin asik pandangin gue.

Jangan bilang kalo si Ayumi juga, natap gue… malu! Batin gue gelisah.

Saat duduk gue mulai menatap sekeliling. Dengan sedikit gusar gue kelimpungan menelaah posisi Ayumi gue. Ampun… udah gue duga sebelumnya, tempat duduk kami berjauhan, posisi gue dengan Hide di ujung belakang kanan sedang dirinya di samping kiri.


***


Dua jarum di pergelangan tangan udah menunjuk angka 10 malam, larut banget. Gegas langkah gue segera menuju basement, mengambil motor. Jaket gue sematkan membaluti tubuh, sekedar mengusir desir angin yang meniup menusuk. Di luar dugaan Ayumi bersisian jalan bareng sahabatnya, melawan arah. Gue memperhatikan lekat.

Jangan bilang, ini kebetulan…” tukasnya heran. Lebih mengherankan lagi bagi gue, karena dia santai negur duluan. Seakan detik itu, waktu gue berhenti, lantas gue mematung sendiri sedang di sekitar gue keadaan berjalan normal. “Lo cowok di kereta itu kan?” sambungnya.

Kaget gue kini bertambah naik. No ini pasti ngayal lagi… diam-diam gue coba mencubit kulit ari gue untuk mastiin semuanya. Sial! Sakitnya bukan main. Ternyata ini emang bukan mimpi…

Dia meledak tawa, hingga gue kikuk…

Cowok itu emang gue...”

Gue mendeliknya sepuasnya beberapa saat.

Gue sering kok merhatiin lo.”

Kepala gue senang bukan main.

Gue juga…” sahut gue terkekeh.

Sebenarnya, gue udah perhatiin lo sejak dulu. Soalnya lo sering asik dengan laptop lo, mana mungkin nggak ada yang ngeliat lo. Wajah lo yang beda jauh dengan wajah warga Osaka maupun Jepang, pasti memaksa orang natapin lo,” jedahnya sebentar. “Satu hal lagi, tempat duduk lo itu, tempat duduk kesayangan gue, jauh sebelum lo dateng ke sini.”

Apa? Gue butuh diam dan menyadari sebentar…

Gue sering nemuin lo di kampus!” cecarnya lagi.

Kampus? Gue mengulangnya dalam hati. Sejak kapan dia dan gue satu kampus, Gue rasa kami nggak pernah sekampus. Nggak pernah ketemu apalagi ber-say hello. Bingung menyerang gue sesaat.

Kalian saling kenal? hei perteman indah kayak gini, kok gue nggak diajak,” potong Hide cepat saat datang menyalami kami. Penyakit anehnya kambuh tuh. “Kenalin gue Hide.” Hide mengedipkan mata kepada sahabat Ayumi itu, sembari menatap berbinar-binar seperti ngedapatin award.

Gue, Gyo dan ini Fashi…” dia ikut ngenalin sahabatnya.

Yago.” Gue menyambut uluran itu.

Lo pernah ngeliat gue di kampus?”

Yup! Gue anak hukum, mungkin lo nggak pernah ngeliat gue. Beberapa kali kita berpapasan kok. Tapi lo selalu terlihat buru-buru.”

Apa mungkin waktu gue berjalan seperti itu di kampus. Barangkali otak gue baru on di ketera api… atau gue hanya bisa ngerasain dekat, naluri dengannya di tempat itu, atau malah faktor selera kami yang sama; suka duduk di bangku paling pojok akhir yang ngebuat gue nyadar kalo dia tuh ada. Harus gue akui di kampus warganya banyak banget, sangat nggak mungkin bila gue mampu mengidentifikasi satu per satu mahasiswa. Apalagi didukung wajah orang-orang Jepang rada mirip; style, hingga fashion-nya. Kalo pake label satu per satu pasti mudah gue kenali, pikir apaan sih!

Dia bareng sahabatnya milih balik duluan. Sesaat baru gue sadar, gue mendekatinya tanpa bersusah payah. Datang nggak dijemput, pergi pengin gue anter, ngarep! Paling nggak sekarang gue mengenalnya, meski itu sebatas persahabatan. Tapi… (akh, nggak boleh ada tapi kali ini!) semoga malam ini nggak tergantikan. Gue melesatkan motor sekencangnya, sekali-kali Hide meledek sepanjang perjalanan balik, katanya gue nggak cocok ama Gyo. Seperti monyet ama tuannya. Si Hide tuh otaknya emang sedikit geser. Dasar panda….!


***


Kabut-kabut menyelimuti sepanjang flat hingga nyaris seluruh jalan yang kutempati di Osaka ini.

Ketukan kamar yang nyaring memaksa gue bangun dari tidur. Ha....… Siapa sih malam-malam begini bertandang… seingat gue, tidur gue tadi siang pun diganggu, mah ini? Gue tampak tergopoh-gopoh saat melebar pintu. Kalo aku punya kekuatan super, udah gue libas nih orang.

Gue butuh lo…”

Mata ini terbelalak nggak percaya, sebuah sosok dengan tegap berdiri, mengenakan jaket hitam tebal plus topi mendelik gue dengan tajam. Lagaknya seperti ingin menciduk gue…

27 June 2009

B3: Jalan-jalan Bali


Tittle : Jalan-jalan Bali

Penulis : Maria Ekaristi dan Agung Bawantara

Penerbit : GagasMedia



Hui… denger Bali? Pasti semua pada seneng ngebayangin yang seru-seru. Sebelum aku review nih buku, seperti biasa aku bakal bakal ngasih tahu dari mana aku dapat nih buku. Buku ini aku sengaja pesan dari kakak aku yang tinggal di Bogor, dengan tujuan ngikutin lomba dari tim Gagas (lomba buku travelling). Kalo nggak salah belinya bulan Januari 2009, kalo aku nggak lupa. Tapi udah tahu hasilnya kan aku gagal jadi pemenang, sedih? Nggak! Nggak bakalan aku sedih karena bagiku ngikutin lomba aja tuh udah jadi pemenang. Bayangin berapa remaja yang ngikutin nih lomba? Mungkin 2 banding 10.

Seingatku, kakak aku belinya di kisaran harga 40 ribuan gitu… tapi aslinya aku udah lupa. Emang sih di kotaku lebih populer buku-buku terbitan dari Mizan maupun Gramedia, makanya aku kalo mau beli bukunya GagasMedia ya mesti pesan dari kakak aku di Bogor.


Stop Ngoceh! Let’s review

Kalo mau dikategoriin, aku lebih enak nyebutin buku Jalan-jalan Bali dengan Panduan Wisata, yang merujuk ke lifestyle ataupun ya… diklaim Gagas sendiri buku Travelling, karena di sini mengungkap berbagai objek wisata yang menarik, lengkap dengan beberapa harga perjalanan dan juga akomodasi keren yang so complete.

Sesaat ngebaca halaman pertama, aku langsung kaget luar biasanya, hingga ngebuat aku menggelengkan kepala berkali-kali. Why? Karena buku ini sepertinya ditujukan untuk anak muda (nyaris bahasanya memakai bahasa yang dekat dengan dunia remaja. Emang ya gagas pinter banget ngombain nih buku dengan dunia teen. Teen it’s so amazing), tapi kembali lagi bahwa buku nonfksi untuk semua kalangan. Untuk penjelasan bahasanya, Maria dan Agung sengaja memilih bahasa bertutur, seolah-olah dua penulis ini mengajak kita mengobrol. Mungkin ini pengalaman pertamaku ngebaca buku nonfiksi yang seperti ini, memakai bahasa yang jauh dari kesan baku. Bisa jadi ini salah satu, kelebihan buku ini sehingga menempatkan Jalan-jalan Bali menjadi ‘beda’

Pada halaman-halaman awal, Maria Ekaristi dan Agung Bawantara akan mengajak kami mengenal Bali, dimulai dari bagaimana kita bisa nyampe ke tuh kota, yang dibagi melalui tiga jalur, udara, laut, dan darat. Kemudian memaparkan hal-hal umum seputar liburan di Bali.

Kelebihan berikutnya adalah objek wisatanya di susun sistematis. Maksudnya buku ini dipaparkan per kabupaten, mulai dari Badung, Denpasar, Gianyar, Bangli, Tabanan, Buleleng, Klungkung, Karangasem dan Jembrana. Trus mata kamu bakal disuguhkan dengan hasil foto yang menakjubkan. Keren-keran semua, pengin deh jadi fotografer suatu saat nanti

Masih kurang? Kayaknya nggak deh. Tapi tunggu dulu, Jalan-jalan Bali masih menawarkan bonus lain. Diantaranya wisata kuliner khas Bali – dijamin bakal ngebuat perut kamu keroncongan, tapi sayangnya kuliner dalam buku ini hanya muatin masakan tradisonal deh, nggak usah kecewa kalo kamu penggemar mancanegara, soalnya beberapa wisata kuliner khas Bali udah cukup kok, Untungnya kamu juga bisa dapetin tuh kuliner di warung-warung yang telah di susun lengkap di buku ini. Bonus yang nggak kalah menarik, yaitu Jalan-jalan Bali menampilkan tip dan trik liburan, olahraga air, wisata gunung, wisata pantai, wisata budaya yang dikupas habis. Beberapa wisata budaya dilengkapi dengan sejarahnya. Nggak ketinggalan kalender festival tahunan dan direktori yang amat lengkap. Direktorinya meliputi, akomodasi, tempat hiburan, salon & spa, tempat belanja, galeri seni, dan wisata petualangan.

Mau bonus lagi? Masih ada. Kulik-kulik deh tip dan triknya, ada cara ngedapetin tatto keren. Masih ada nggak ya bonusnya… ada dong! Informasi tentang musik dan pementasan tari bareng jadwalnya digelar asik di dalam buku ini. Gimana? Mau milikin nih buku?

Ngebaca latar belakang dua penulisnya pada halaman belakang, nggak salah lagi dua penulis ini emang megang banget deh kawasan Bali. Yang satunya wartawan (Agung Bawantara) dan satunya seseorang yang berkecimpung dengan dunia bisnis di Bali (Maria Ekaristi) sehingga nggak heran kalo Bali dikupas abis dalam setiap babnya. Nggak kayak aku sukanya dunia fiksi malah nyoba nulis dunia nonfiksi. Never mind, orang mau belajar adalah orang yang mencoba segalanya bukan?

Sayangnya beberapa foto di dalam buku ini menggunakan mode black & white aja. Menurut aku agak nanggung, lebih asik semua objek foto nampilin warnanya. Biar pool sekalian.


The last, keunggulan buku Jalan-Jalan Bali adalah, bahasa yang dipakai sangat dekat dengan dunia remaja, seakan penulis mengerti bahwa bukan fiksi saja yang bisa mengajak kita berbicara dan ngobrol tetapi buku nonfiksi juga bisa mengajak kita ngobrol bareng. Buku ini multifungsi… bingung? Mari diperjelas, maksudnya seperti yang bilang tadi di atas aku lebih enak masukin buku ini ke dalam satu kategori lain yaitu Panduan Wisata, jadi jatuhnya nih buku asik dibawa-bawa kemana-mana seperti membawa sebuah novel. Mungkin jenis bahasanya mirip dengan artikel-artikel di majalah remaja. Keunggulan yang lain, adalah Jalan-jalan Bali lumayan lengkap. Kurasa lengkapnya kelewatan, karena beberapa brosur dinas pariwisata aja nggak selengkap nih buku. Cocoknya Jalan-jalan Bali dijadiin referensi dinas pariwisata Indonesia.

Tunggu apalagi, buat yang sering travelling ke mana aja termasuk Bali, siap-siap, buku ini bakal membuka pandangan kamu terhadap Bali yang masih tersembunyi, untuk siap dijamah…

Bali? I wanna taste you…