Available on bookstore

Available on bookstore

07 August 2009

Japanese Nyeleneh #4#

Akhirnya, D(M)ia membongkar otak gue

Kabut-kabut menyelimuti sepanjang flat hingga nyaris seluruh jalan yang gue tempati di Osaka ini.
Ketukan kamar yang nyaring memaksa gue bangun dari tidur. Ha....… Siapa sih malam-malam begini bertandang… seingat gue, tidur gue tadi siang pun diganggu, mah ini? Gue tampak tergopoh-gopoh saat melebar pintu. Kalo gue punya kekuatan super, udah gue libas nih orang.
“Gue butuh lo…”
Mata ini terbelalak nggak percaya, sebuah sosok dengan tegap berdiri, mengenakan jaket hitam tebal plus topi mendelik gue dengan tajam. Lagaknya seperti ingin menciduk gue…
Tangan kekarnya secepat berkas cahaya menarik pergelangan gue begitu kasar. Gue ketarik, terseret begitu saja. Tanpa peduli kamar gue terbuka atau tertutup, dia memaksa gue hingga melewati lantai dasar. Gue sempat terseok dan nyaris terjungkal sekian kali. Untung kuda-kuda gue kuat. Usai mengusai diri, akhirnya gue bisa juga menghembuskan napas lega.
Keadaan sekitar flat sunyi. Pekat dengan kegelapan. Emang nih orang, kurang ajar bener. Siapapun di dunia ini, nggak pengin sekalipun ditarik kayak kambing dan nggak bisa menikmati malamnya sendiri. Perlu diberikan mata kuliah moral nih.
Sosok itu melepas topinya. Meski agak gelap, gue dapat menangkap garis-garis wajahnya. Gue kini tahu siapa dia. Dia wanita yang tadi siang, yang gue tolong. Nggak Mungkin! Terpaksa gue segera memundurkan langkah. Gue nggak mau berurusan dengan satu hal pun dengan cewek ini. Pasti menyesatkan gue nantinya. Tanpa sadar tangan gue dicekal. Kuat sekali. Rupanya dia lihai benar memperhatikan gelagat gue.
Gue jedah sebentar, menenangkan diri dalam diam. Nggak perlu ada yang ditgueti, ini hanya sebuah kejadian biasa. Dan nggak akan terulang sebuah kejadian seperti siang tadi. Lari, kekejar, tembakan senjata, alah… itu hanya mimpi buruk tadi siang, gue membatin.
“Nggak perlu khawatir, gue hanya butuh lo kok.” Omongannya enteng, seperti nggak pernah terjadi kejadian apapun.
“Buat apa?”
“Nggak usah bertanya sepanik itu.”
“Gimana bisa, lo udah bikin tidur gue nggak nyenyak. Dan ini udah ke dua kalinya. Gue nggak mau bakal terjadi kejadian ini untuk ke tiga kali. Bisa-bisa gue mati karena kekurangan tidur. Masih mending insomnia. Jelas karena penyakit. Mah ini karena lo. Nggak bakal deh. Lo liat sekarang jalanan sunyi, cuman lo doang yang berkeliaran, jangan-jangan lo nggak punya rumah ya? Pengin numpang tidur di flat gue.”
“Jadi cowok nggak usah bawel. Gue tau, nggak lazim berkeliaran di jalanan untuk ukuran kota seindah ini.”
“Gue perlu tau apa yang bakal lo lguein.”
Gue nggak tahu apa yang terjadi dan nggak ingin menduga-duga. Diam-diam dia menggenggam kedua pangkal lengan gue, mendiamkan diri gue layaknya seorang robot, menegak menghadap gue, menatap gue dengan rangkaian indera penglihatannya, tajam. Saat-saat seperti ini, gue ingat kemiripan tingkahnya seperti Hide. Hanya bisa diam dan melototin serial teve, serius dan diam, nggak bakal concern dengan sekeliling. Padahal yang disaksikan film kartun. Doraemon lagi! Dia mulai melepas ikat rambut. Menggoyang-goyang kepala hingga rambutnya melayang kesana-kemari. Dia pikir gue bakal memaafkannya hanya karena dia memperagakan adegan iklan sampo? Nggak akan. Rambutnya terlepas menjuntai ke bawah, gue pikir indah untuk ukuran sampo murahan. Sigap tangannya mulai membuka resleting jaket hingga memperlihatkan sebuah gaun hijau muda, anggun sepertinya. Semoga pemikiran gue benar-benar tepat. Begitupun dengan celana hitam pekat ketat yang membalutinya.
Gue sempat bergidik, dan berpikiran yang bukan-bukan. Untunglah semua spekulasi negatif yang nyaris di pikiran hilang dengan apa yang dikenakannya di balik pakaian serbahitam itu. Lo dapet menduga-duga kalo misalkan nggak ada gaun hijau muda tadi. Gaun hijau muda itu lumayan cantik, begitu berpadu dengan sosok yang memukau kayak dirinya. Perlahan dia memutari tubuh gue, jalannya mirip Miss. Universe lantas menghembuskan napasnya di telinga gue.
“Kita ke Bar…”
“Bar?”
Telinga gue segera berdiri.
“Yup, di sana kita bakal disco bareng…”
“Dengan begini?” tunjuk gue pada pakaian yang gue kenain.
“Nggak lah, dengan seperti ini lo mirip badut di dalam Bar,” komennya lalu meninggalkan gue beberapa langkah.

***

“Apa lo yakin ngasih gue pakaian ini?” Gue melirik sekali lagi baju gue saat di depan Bar. Gue mirip seorang pemain sinetron, meski wajah gue emang terlihat baby-face (walah… bukan, babi-face kali!), dia memberikan sebuah baju lengan pendek berkerah. Sesaat gue perhatikan lagi t-shirt gue, tertampang jelas, tulisan waiter. Pelayan?
“Kamu kelihatan cocok, nggak usah ragu. Lo keren.”
“Keren?”
“Sangat. Setidaknya lo nggak seperti badut.” Tangannya menarik gue dengan cepat. Seperti menarik anak kecil. Untung gue nggak diberi lolipop. Kalo nggak, gue udah nggak ada bedanya dengan anak kecil yang ditarik dan dirayu dengan lolipop.
“Tunggu, nama lo?”
Tercetus sebuah pertanyaan yang entah apa gue lontarin.
“Gue?” tunjuknya pada dirinya sendiri. “Gue, panggil gue Mia.”
Kami memasuki bar. Dari depan pintu, bunyi keras menyambut kami. Nyaring namun berirama. Sinar lampu dengan seribu cahaya berkeliaran di sana-sini. Beberapa orang terlihat asik menikmati musik, menggeleng-geleng kepala seenaknya, berjingkrak, goyang nggak karuan, nggak peduli beberapa orang melihat mereka. Gue mulai senang ternyata Mia mengajak gue ke tempat terbaik seperti ini.
Asoy…
Setengah jam di dalam ruangan surga ini, gue tangkap mata Mia celingak-celinguk. Kami mendapati satu tempat duduk dekat meja pelayan. Seorang pelayan melihat gue dengan tengik. Sepertinya dia mencurigai gue. Berkali-kali Mia mengingatkan agar tetap tenang. Jangan tunjukan perasaan takut atau lainnya. “Lo dan dia sama-sama pelayan di sini. Dia nggak berhak untuk nanya indentitas lo. Kalo kepaksa bilang aja, lo pelayan baru.”
Tindakan bodoh apa yang kini Mia berikan pada gue.
“Please. Lo tahan ini.” Mia menyodorkan gue sebuah kotak mini.
“Apaan…?”
Dia berbisik, “Camcoder mini. Lo terus tahan seperti itu, jangan gerakin tangan lo.” Nyaris hanya sebesar korek api, camcoder itu. Gue terbelalak. Ada camcoder sekecil ini. Alah… Jepang punya segalanya. Untuk urusan tekhnologi, Jepang nomor satu. Barangkali sekecil semut pun bisa dijadikan sebagai kamera. Mia menyuruh gue untuk mempertahankan posisi gue, tangan gue. Boong mana ada kamera ginian, begitu saja pikiran itu masuk menyalip semua pikiran awal gue.
“Tunggu, di sini. Gue bakal kembali.”
Seribu rasa nggak beres, berpadu dengan pikiran menduga-duga bercampur tapi musik di Bar ini menyamarkan perasaan itu. Gue masih memegang korek api itu sambil menggeleng-mendengarkan musik.
Beberapa orang hanya duduk dan mabuk, sementara itu beberapa lelaki bertampang seram memperhatikan korek api gue.
Setengah jam gue mulai merasa jengah, ternyata dari dalam ruangan khusus tepat di lantai atas, dekat tangga, Mia meloncat turun. Langsung saja menjadi pusat perhatian semua orang. Ada kekaguman sesaat dari orang-orang di Bar. Jujur gue takjub. Seseorang berbadan kekar mengacungkan pistol dan menembaknya membabi-buta. Meski amburadul namun bisa gue taksir sasaran tembakan itu menuju Mia. Sesaat semua pengunjung berhamburan, terkadang jeritan cewek mengaum nyaris di setiap sudut Bar, ada juga yang mirip dengan suara nenek sihir. Kalo bukan nenek lampir pasti nenek gerondong tuh. Mereka seperti dikejar trantib di lampu merah Jakarta.
Mia menunduk. Sesaat sebuah tembakan nyaris mengenainya. Semua yang ada di dalam Bar kacau balau. Gue panik luar biasa. Beberapa lelaki seram yang sedari tadi menggerakan matanya ke korek api gue ini langsung berdiri. Mereka melihat gue dengan curiga. Gue bersikap santai namun mereka nggak tahu bahwa gue gawat banget dalam hati. Mia mencekal lengan gue dan berlari keluar. Sesaat Gue dengar tiga tembakan mengarah tubuh kami. Pistol itu berasap dan ganas. Kami menunduk dan membelok pintu keluar. Nggak ada jalan lain. Semua di sini merupakan gedung tinggi, nggak ada lorong. Sekali kita melarikan diri, pasti kita ketembak.
Mia mulai meraih tembok. Dan dengan cepat merangkak naik gedung Bar seperti laba-laba. Gue mengikutinya, meski untuk pertama kali, sebagai cowok gue harus melakukannya. Terpaksa gue lakukan kalo nggak ingin mati konyol.
Kami berhati-hati karena nyaris nggak ada panel yang lebar untuk kami berpijak di tembok Bar. Lelaki tadi bareng beberapa lelaki kekar terlihat sudah berada di Bar. Pistol mereka tetap terancung. Menjulur seperti ular ganas. Untunglah saat mata mereka menjejal ke atas, memperhatikan gedung-gedung termasuk Bar, tubuh kami sudah berada di atas genteng. Gue sempat terjatuh ke bawah, karena sepatu gue terlalu licin digunakan berjalan di genteng. Berapa puluh meter kami sekarang berada dari permukaan tanah? Gue juga nggak tahu. Yang pasti begitu tinggi.
Mia dan gue memperhatikan mereka dari genteng. Mereka terlihat kelimpungan. Ada garis menyesal dari raut-raut mereka. Pria yang paling besar membuang ludah kecewa. Untunglah ide gila Mia memanjat tembok berhasil. Bisa bayangin kalo gue mati hanya karena satu peluru?
Untuk sementara kami bisa menghindar.
Perlahan gue menghembuskan napas lega…

***

Gue membuang pandang sekilas pada jam di pergelangan tangan gue. Ternyata sudah menunjukan pukul tiga pagi. Gue dan Mia memutuskan jalan, menyusuri malam, gue nggak tahu jalan mana yang telah kita lewati. Bahkan dan mungkin lebih jauh dari jarak Bar tadi dengan flat gue. Kami kini memasuki lift dan menyelinap ke sebuah kamar apartemen mewah.
Gue segera merebah di sofa.
“Lo harus ngejelasin semua ini, semua yang terjadi pada gue, lo dan tingkah lo yang di luar kepala,” gue nggak punya cukup kesabaran untuk mengorek semua yang terjadi, hari ini. Hanya menjadi orang bodoh ketika gue hanya diam, tanpa sedikit pun mencari tahu.
“Oke tenanglah.” Ternyata dia mulai luluh karena gue desak. “Gue adalah seorang dektektif, sekaligus anggota agen rahasia negara. Kami menyelediki kasus besar. Ini tentang konspirasi sebuah kematian,” sambungnya.
Mia berlalu ke ruangan lain, sepertinya dia menuju dapur.
“Cerita boong lo, nggak bakal gue telan,” kata gue separoh teriak.
“Lo terlalu keras kepala.” Mia kembali ke ruang tengah lantas memberikan gue segelas teh hangat. “Gue nggak pernah main-main. Yang gue omongin tadi benar adanya.
“Lo udah gila… memasukan gue ke dalam kegiatan ini?”
“Gue juga nggak berencana seperti itu. Ini sudah terlanjur. Lo terlibat di dalamnya karena sempat menolong gue. Mau nggak mau mereka juga bakalan tahu bahwa kamu bagian dari gue. Meski itu nggak benar.”
Gue makin nggak ngerti. “Lalu kenapa tadi lo masuk ke dalam. Ruangan itu, di dalam Bar dan keluar dengan ditembak.”
“Ini ada hubungannya dengan kejadian tadi siang. Tadi siang gue masuk ke ruangan kamici di markasnya, karena dia adalah satu-satunya tersangka pembunuhan professor Diego. Tapi hasilnya gue ketahuan. Pas tadipun begitu gue sebenarnya pengin masuk ke salah satu ruangan Bar itu, tempat dimana biasanya Kamici berada. Dan hasilnya tetap sama, gue ketahuan. Beberapa petugas di dalamnya ternyata mencurigai gue. Padahal gue sempat melewati dua petugas di pintu terakhir. Ternyata keamanannya berlapis.”
“Gue nggak percaya ini…”
“Sudahlah.”
“Gue perlu tahu lebih.”
“Gue tadi terpaksa menyamar dengan menggunakan gaun. Mereka nggak pernah melihat gue menggunakan gaun, karena selama ini pakaian gue tertutup. Gue nggak ingin ketahuan kaki-tangan kamici yang pasti sudah melacak jejak gue. Berjalan masuk dengan lo di dalam Bar itu sedikit tersamarkan karena wajah lo beda banget dengan orang kebanyakan di Osaka ini. Apalagi dengan seorang pelayan. Gue melakukannya karena nggak mau mengambil resiko.”
“Siapa professor Diego?” tanya gue penasaran.
Mia bungkam, sepuluh menit kami dalam kediaman. “Tidurlah gue bakal menjelaskan semuanya nanti. Perlu cukup banyak waktu, untuk semua itu.” Mia pergi dan meninggalkan gue di sofa tanpa menyambung kalimatnya itu. Gue seperti terperangkap. Anjrit! Kenapa kehidupan gue dirubah hanya sehari?
“Ceritain semuanya, ceritain apa adanya. Dan jangan tutupin satu hal kecil pun dari gue.”
Mia menatap sinis.
“Ceritain! Gue beri lo sejuta dollar,” keluh gue kesal.
“Diamlah. Entar lo terima 5 juta dolar dari gue!”
Hus.. jawabannya menyulutkan kedongkolan gue. Ternyata di nggak lebih baik dari siapa pun.

5 komentar:

We provide the world with Free domains. Get your Free domainname today. Everything is 100% free. Contact us if you got any questions!
Click here

keren Bang!!
sosok Mia keren banget!!
awalnya ada banyak pertanyaan di bagian 4 ini, tapi pelan-pelan muncul jawabannya.. :)

anda berbakat......kembangkan potensi itu...
aku berharap, suatu saat akan melihat anda sukses....semoga

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...