Available on bookstore

Available on bookstore

18 August 2009

Japanese Nyeleneh #5#

Kerumitan Menggegerkan Otak(-Otak) Kami

Gue menguap dan melanjutkan beberapa langkah dengan menunduk. Pagi benar gue harus tiba menyalami kampus–meski rasanya gue nggak suka sekali pekerjaan sebagai mahasiswa ini–maksud gue datang lebih pagi. Gue rasa, belum genap dua jam gue tidur setelah melewatkan malam terburuk gue bersama Mia. Tadi sempat gue berpikir, bahwa gue bisa rehat sejenak. Ternyata nggak! Nggak bisa. Satu harap yang mungkin paling bisa menyamarkan kelelahan ini; wajah Ayumi, semoga saja–
Gue yakin mata kuliah Basic Economic hari ini pun nggak banyak membuat gue tersenyum. Gue tampak lebih diam dan sesekali mengantuk di dalam ruangan. Mata ini rasanya ingin menutup, apalagi deru AC–yang sekilas mirip suara solo James Blunt dan hawa dinginnya membuat gue ingin pulas dalam tidur. Dosen Basic Ekonomi–Pak Kim menegur gue, karena molor di ruangan.
Pak Kim menjelaskan setumpuk teori. Bosan telinga gue mendengarkan beberapa teori para ahli termasuk, dari Adam Smith dan segala tetek-bengeknya, pusing. Satu, gue hanya ingin satu hal, yaitu gue ingin tidur. Bila perlu dengan dengkuran nyaring.
Terlepas beberapa jam dari kehidupan aneh gue besama Mia seperti keluar dari tahanan. Gue bakal memamfaatkan waktu ini. Nggak gue biarin waktu gue ini terlewati begitu saja. Usai rehat mata kuliah Basic Economic gue beralih keluar–maksud gue ingin pergi menuju fakultas hukum. Gue pingin mencari sosok Gyo. Katanya dia sekampus dengan gue mengambil jurusan hukum seperti yang pernah dikatakannya. Gue makin bergegas.
Langkah-langkah panjang gue melewati tangga besar ketika berada di fakultas hukum lalu menyortir beberapa ruangan. Sejujurnya gue hanya ingin menyapanya, seenggaknya kami bisa kenal lebih dekat lagi seperti semalam, saat gue dan dia di bioskop. Cukup lama gue menyortir beberapa ruangan hingga menjumpainya di sebuah ruang. Ruang terakhir di antara ruang kelas, dan satu bagian ruang administrasi. Gue mengamati dirinya sebentar dari luar. Sesaat keberanian gue menemuinya menciut begitu saja. Gue makin merapat pada dinding, sepintas gue telihat seperti cicak. Menatapnya lekat-lekat, ternyata dia masih mengobrol dengan Fashi, sahabatnya yang juga sempat dikenalkannya.
Gue tahu sudah lebih dari sepuluh menit di sini. Bahkan nggak sekalipun gue menghiraukan beberapa orang yang melintas. Meski mereka bakal menarik kesimpulan kalo gue menguntit, menguping dan bahkan aneh sekalipun, gue nggak peduli. Gue bukan seseorang yang aneh seperti itu. Entah kenapa sebuah skenario begitu saja terencana di otak gue.
Gue berniat bakal menunggunya di kereta saat pulang bareng ke Osaka.

***

“Naiklah…” suara itu seperti berteriak di kuping gue. Tubuh ini terperangkap ke dalam mobil. Gue duduk mengeluh, memandangi lelaki bertopi itu yang tadi mendorong gue masuk ke dalam mobilnya.
Pasti ini sedikit dari banyak ‘kerjaan’ si Mia lagi. Dia menyewa beberapa orang untuk menjemput paksa gue dari kampus. Karena dia tahu gue bakal menghilang beberapa saat. Untuk ukuran dektektif, apapun bisa diterka. Atau ini salah satu orang suruhan Kamici di Bar semalam. Mereka mengetahui keberadaan gue. Gue memberengut sebentar lantas menahan napas.
Gue terlanjur kesal, padahal sedianya gue berencana menunggu Gyo. Gue ingin dirinya, bukan lelaki bertopi nggak jelas ini.
“Siapa, lo.” Terang saja suara itu keluar menentangnya. Gue sudah nggak sabar untuk mencari tahu indentitas lelaki ini.
“Jangan coba-coaba memukulku dari belakang.” Ternyata dia menangkap gelagat gue yang hampir ingin menghantam kepalanya, lewat kaca spion. “Kamu ingin kita mati sia-sia dengan kecelakaan mobil? Masih ada banyak hal yang perlu lo pukul daripada diam-diam ingin membunuhku dari belakang. Bayangin kalo aku menghindar dan membanting setir nggak karuan. Kemungkinan paling besar adalah kita bakal kecelakaan.”
Gue membatalkan niat itu.
Seketika lelaki itu membuka topi. Rambutnya langsung tergerai panjang. Dan tersenyum sinis pada gue. Ampun… Mia. Gue seperti terbangun dari tidur panjang, dan kumis tipis itu? Dia ternyata melepas kumis palsu yang melekat itu. Dasar wanita tua setengah gila. Detektif kurang waras. Atau jangan-jangan dia adalah jenis cewek troublemaker. Darah gue terasa naik ke ubun-ubun. Ingin sekali gue mencincang dirinya sampai halus.
“Lo pikir, kapan gue istirahat? Gue tuh butuh udara segar, butuh ketenangan sesaat dan nggak ingin bersama lo setidaknya beberapa jam ke depan!”
“Gue nggak bodoh.”
Bodoh? Lo memang bodoh dan tolol, rutuk gue dalam hati.
“Apa lo lupa percakapan kita semalam? Kamu itu sudah terlibat ke dalam kerumitan ini.”
“Gue tahu, tapi menghindar beberapa jam kan boleh?”
“Sedikit waktu yang lo butuh, nggak akan gue beri! lo dalam langkah berbahaya saat ini.”
“Omong kosong.” Mata gue berpaling ke arah lain. “Cepat! Gue mau turun di sini saja. Entah dimanapun, asalkan jauh dari lo.”
“Kita bakal bertemu, seseorang.”
Mia kekueh berdebat. Dia merasa dirinya selau benar. Selalu benar dengan langkah yang salah ini. Tanpa mempedulikan kehidupan gue. Dia tuh robot? Dia tuh pelayan yang terus bekerja, dan tanpa sedikitpun merasa kelelahan? Nggak kan? Jujur gue terbelenggu, disuruh dan dimonitor kemanapun.
Gue membatu dengan sendirinya sebab Mia nggak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan gue. Cewek yang jauh terpaut usianya dengan gue ini sudah banyak menyusahkan meski baru dua hari. Gue tahu susah sekali membantah semua pendapat cewek ini, tapi bisakah dia mengerti sekali… saja. Gue butuh lepas barang sejam dua jam darinya. Gue punya kehidupan lain, gue punya Hide–si tambun, punya Gyo–Ayumi gue, memiliki kampus dan dosen-dosen gue. Nggak selamanya hanya Mia.
Akhirnya gue tahu, nggak pantas untuk mengeluh, karena gue yang memulai hal ini.

***

Di tengah perjalanan semua rencana itu berubah. Nggak tahu, tempat gue berpijak ini berada dimana sekarang. Yang bisa gue gambarkan tempat ini sunyi dan sejuk. Di sini hanya ada beberapa pohon besar, rindang dan meneduhkan. Beberapa tempat duduk yang sudah kelihatan reot dan bila kami merebah di atasnya, sudah pasti kursi panjang itu patah karena beberapa bagiannya sudah termakan rayap.
“Apa yang ingin lo lakuin lagi dengan membawa gue ke sini?” cetus gue lembut ketika memperhatikan sekeliling.
“Nggak ada. Lo bilang butuh udara segar? Ketenangan? Gue sudah membawa lo ke tempat terbaik. Di sini lo boleh menghirup udara segar sebanyak yang lo mau.”
Gue memandang wajahnya sekilas. Rupanya wanita itu mengerti apa yang gue butuh.
Gue berjalan menuju akar pohon paling besar. Akar pohon itu mirip ular dan tampak di atas permukaan tanah. Di situ gue terduduk dan merenung. Pikiran gue mengilas balik semuanya. Lantas diam-diam berusaha menyadarkan otak gue dengan kenyataan yang gue hadapi sekarang. Gue adalah orang yang diburu beberapa orang, dan lari bersama Mia–itu saja yang gue tahu saat ini. Tanpa mengetahui jelas tujuan semua yang kami lakukan. Mungkin Mia memiliki alasan yang lebih baik.
Mia hanya melipat tangan dan memperhatikan gue.
Semoga saja cewek ini berubah pikiran lagi… dan gue bisa lebih lama menghirup udara segar.
Gue terpejam dalam… memikirkan beberapa kejadian yang nggak pernah terjadi dalam hidup gue.
“Nggak usah lama mikir…” Mia menoyor gue. Kepala gue tergerak beberapa derajat dan kesal gue mencuat lagi. Gue sudah nggak tahan, saat mata terbuka.
Sekali saja Tuhan, biarkan dia nggak membuat gue dongkol!
Dia mulai menarik lengan gue sehingga gue terseok bangkit dan mengikuti langkahnya ke dalam mobil. Dia melajukan mobil dengan cepat dan melibas jalan hingga gue nggak tahu kemana arah mobil melaju sekarang. Yang gue tahu kami sudah berada di pusat kota, salah satu sudut kota Tokyo, di antara sekian gedung pencakar langit dan menepi di parkiran gedung paling tinggi. Gue mendesah gelisah saat secara otomatis otak gue menerka-nerka kejadian apa yang bakal gue hadapi nantinya.
Sebelum kami, turun dari mobil Mia mengenakan topi tadi dengan melipat rambut. Mia memasang kumis tipisnya tadi–yang gue rasa lebih jelek dari pada kumis palsunya Jojon–pelawak tanah air itu.
“Shit! Lo mau nyamar lagi? Kita bakalan dikejar? ditembak hari ini? Berkali-kali?” Gue meradang menemukannya bertingkah dengan penyamaran.
“Tenanglah, hari ini nggak ada tembakan, nggak ada lari-larian.”
“Gue nggak percaya!”
“Nggak usah cerewet.” Dia menarik gue, hingga gue terkesan mengikutinya.
Kami menuju pintu masuk gedung paling tinggi itu. Gue nggak tahu pasti gedung ini. Ternyata keamanan gedung ini berlapis, tapi tidak untuk kami. Di loby gedung dekat pintu masuk, Mia hanya perlu menunjukan kartu nama. Seorang penjaga mempersilahkan kami. Enteng sekali.
Sebuah lift berhasil kami tumpangi. Mia menekan angka enam pada tombol-tombol di lift. Gue berdebar. Semoga saja seperti janji Mia. Nggak bakalan ada tembakan hari ini. Nggak ada sesuatu yang mengerikan, minimal untuk beberapa hari ke depan, bukan hari ini saja.

***

Kami memasuki ruangan tertutup, seperti lorong. Namun lorong ini jauh dari kesan pengap. Hanya ada satu cahaya penerang yang terang sekali. Gue mengira sebelumnya kalo gedung ini nggak memiliki lorong, namum gue pikir untuk gedung pencakar langit hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Seharusnya gedung ini punya ruangan yang lebih leluasa untuk kami masuki bukan seperti lorong begini.
Semua itu terbantahkan ketika lorong tersebut mentok pada ruangan yang lebih luas. Ruangan itu hampir berbentuk elips dan luas luar biasa. Ini baru bisa dikatakan cocok banget dengan gedung khas Jepang. Ada satu meja kerja yang mengkilap, dibaliknya terletak kursi yang berposisi membelakangi. Gue dapat membaca tulisan di panel besar di dalam ruangan itu, tepat di dinding, meski memakai bahasa Jepang, gue bisa mengerti kalo ini gedung Badan Intelejen Asia.
Badan Intelejen Asia?
Oh, My God! Seserius ini?
Sejurus kemudian kursi tadi berputar–berposisi seperti selayaknya. Kursi itu menghadirkan sesosok lelaki dengan tampang tegas, tua khas Asia namun sepertinya masih menunjukan bahwa dia memiliki kekuatan.
“Kamu telah datang,” sambutnya.
Mia segera mengambil kursi di depan meja itu, dan memerintah gue duduk.
“Seperti janji kamu… apakah dia orang yang bakal dapat menjamin semuanya? Menjamin penyelidikan ini? Membantu semua proses ini berjalan?” sambung lelaki tua itu lagi sembari mendelik gue.
Mia mengangguk.
“That’s right. Kamu memang pintar melakukan hal-hal di luar kesanggupan kami,” pujinya pada Mia.
Gue hanya dapat mendengar pembicaraan mereka namun gue nggak tuli untuk nggak mengerti arah pembicaraan mereka. Obrolan mereka menjurus pada gue dengan bahasa Jepang yang fasih, lantas Mia memperkenalkan gue padanya. Nggak butuh menanyakan namanya, gue sudah bisa tahu bahwa lelaki tua itu adalah Komandan Jeung Azzawa. Dia pria yang paling dihormati di Badan Intelejen Asia ini. Apalagi papan kecil yang nggak kurang dari tiga puluh senti tipis di atas meja kerja mempertegas dirinya dalam sebuah identitas, Jendral Jeung Azzawa, Komandan Badan Intelejen Asia.
“Nggak perlu panjang lebar,” putusnya.
Sesaat semua penerangan padam dan sebuah layar di samping kami terlihat. Pak Komandan bakal menunjukan beberapa slide gambar.
Gambar pertama muncul. Terlihat seseorang pria bule dengan perawakan kusut. Berkaca mata tebal. Kerutan banyak di ujung-ujung mata. Lantas Pak komandan berbicara panjang lebar, “Itu gambar terakhir sebelum profesor Diego meninggal. Dia seorang ahli peneliti teknologi yang berhasil menciptakan sebuah teknologi baru. Maaf, Mia aku baru bisa menceritakannya sekarang. Profesor berhasil menciptakan sebuah alat yang bisa membaca pikiran makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan sekalipun.”
Gue terperangah, alat? Alat apa itu? Tanya gue dalam hati. Gue melirik Mia, nggak sedikitpun dia menoleh pada gue.
Slide gambar ke dua muncul. Sebuah alat dengan monitor kecil. Bentuknya kotak, lebih kecil dari pada ukuran ponsel saat ini. Ada dua kabel penghubung di antara ujung-ujung alat itu.
“Itulah alat yang diciptakan profesor Diego. Alat yang bakal membantu science dan pengetahuan manusia. Sayang, profesor belum sempat memberikan nama alat itu. Dua kabel itu berfungi untuk mengambil data di dalam objek makhluk hidup yang diteliti, data itu berupa hal-hal sedang, sudah dan akan dipikirkan objek. Kabel itu nantinya dimasukan ke dalam jaringan kulit objek yang akan diteliti. Sedang monitor berfungsi menjelaskan data dalam bentuk tulisan,” sambung Pak Komandan.
Gue takjub adakah alat seperti itu? Terobosan brilian menurut gue.
Nggak lama gambar ke tiga muncul. Seseorang pria yang berbalut tuxedo, bermata sipit dengan cerutunya yang berasap.
“Kamu pasti tahu, dia adalah Kamici, salah satu mantan ketua sayap kiri Yakuza, yang kini beroperasi untuk pengedaran narkoba jaringan Asia.”
“Aku tahu,” Mia mengangguk. “Dia salah satu target berat polisi saat ini. Namun sampai detik ini pun polisi masih nggak bisa menemukan bukti kalo Kamici adalah pengedar narkoba. Banyak kasus besar yang mengarah padanya, namun begitulah Kamici, dia lihai betul.”
“Dia, orang terakhir yang ditemukan sesaat profesor Diego meninggal di dalam labnya.”
Layar menunjukan gambar-gambar di lab profesor. Gambar-gambar yang memperlihatkan tubuh profesor tergeletak kaku, berikut sosok Kamici yang sempat ada di dekat jenazah profesor. “Foto-foto ini diambil dari beberapa kamera cctv. Sayang kamera itu rusak, sehingga gambarnya banyak yang terpotong-potong. Nggak banyak kejadian yang terekam.”
Pak Komandan memperlihatkan kembali alat itu, kali ini dengan gambar yang lebih jelas. “Profesor menciptakan alat itu hanya dua buah, satu untuk penelitian pemerintah dan satunya lagi dijadikan sebagai duplikat. Namun profesor menyadari banyak ilmuan yang mengincar alat itu. Mereka memiliki sejumlah niat nggak baik. Untunglah profesor nggak bodoh, dia menarik kembali alat itu dari pemerintah dan memusnahkannya. Banyak para ilmuan pemerintah yang mencegah tindakan profesor saat itu. Profesor nggak mau tujuan awal peciptaan alat tersebut disalahgunakan. Sedangkan alat satunya lagi hilang pada hari yang sama saat ditemukan mayat profesor di dalam lab.”
“Aku nggak menyangka bakal sepelik ini,” Mia masih bingung, begitupun yang terjadi dengan gue.
“Kamu pasti punya naluri untuk memperkirakan dalang dari semua ini.”
“Apakah benar semua itu Kamici yang melakukannya?”
“Entahlah, sekarang ini semua bukti yang berada tangan di Badan Intelejen, mengarah padanya.”
Beberapa slide berikutnya memperlihatkan kejadian-kejadian seputar kematian profesor. Gue masih nggak habis pikir dengan kenyataan ini.
“Banyak spekulasi yang terjadi di luar sana. Mereka hanya butuh kebenaran. Dan Badan Intelejen harus menjawabnya…” lelaki tua itu berputar di antara kami.

1 komentar:

akhirnya bisa komen...
kmaren ada gangguan sih bang, hehehhe

Wiuh, sosok MAFIA muncul!!!

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...