Available on bookstore

Available on bookstore

20 August 2009

Saat Ramadhan, Saat Menyambut Kota Mati [Ramadhan di Ujung Mataku]



Tak sulit menanyakan apa itu Ramadhan pada beberapa orang, sekalipun anak-anak. Mereka memiliki interprestasi sendiri-sendiri, bahkan beberapa jawaban memperlihatkan perbedaan. Terlepas dari perbedaan itu, jawaban yang begitu umum diketahui yaitu; Ramadhan adalah bulan ke 9 dalam kalender Hijriah, atau lebih umum lagi, adalah bulan dimana kaum muslim wajib menjalankan rukun islam ke 4 yaitu berpuasa. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183:

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Banyak sekali hal-hal yang identik dengan Ramadhan. Tidak makan-minum, menahan hawa nafsu dan menjauhi segala perkara yang membatalkan puasa. Namun mengungkapkan Ramadhan tak semudah hal-hal indentik itu. Masih ada Beberapa hal yang perlu dijelaskan, tergantung dari mana arah kita memandang. Puasa pada Ramadhan sendiri intinya mengajarkan kita mengendalikan diri, disiplin melakukan ibadah dan merasakan makna Ramadhan.
Tapi lain bagiku, Ramadhan justru menghadirkan arti sendiri. Tentu saja, aku salah satu orang yang setuju dengan pernyataan yang begitu umum dalam kalimat-kalimat di atas. Namun pengalamanku yang tak sekalipun melewatkan Ramadhan di tempat lain memaksaku memiliki sudut pandang berbeda tentang Ramadhan. Ini bukan menyangkut makna nilai Ramadhan atau segala bentuk pencitraan Ramadhan.
Bagiku, Ramadhan adalah saat menyambut kota mati.
Selama ini keluargaku tinggal di salah satu kawasan di daerah Ambon, letaknya nyaris di ujung kota. Tak ada yang spesial dari kawasan kami. Tapi perlu diketahui, kawasan kami dipenuhi pelajar. Hampir seluruh kawasan ini menyediakan kos-kosan bagi pelajar. Berdekatan dengan sebuah Institut Islam Negeri membuat kawasan ini tak hanya sekadar ramai dengan para mahasiswa namun dengan beberapa kos-kosan dalam jumlah banyak. Banyak pendatang dari pulau-pulau sekitar Ambon yang meraih ilmu di kawasan kami. Mereka menempati kos-kosan itu seperti membentuk koloni baru. Meramaikan, memberi warna, mencerahkan daerah kami. Mereka lima kali lipat dari penghuni asli daerah kami.
Tak seperti kota-kota lain atau desa-desa tradisional lainnya yang ketika Ramadhan tiba, banyak sanak saudara datang dari penjuru daerah untuk melewatkan Ramadhan bersama seperti melawat. Di daerah ini, tidak sama sekali. Yang terjadi malah terbalik. Para mahasiswa–yang nyaris melebihi penduduk di sini memilih mudik. Mereka seperti dikomando, ketika seorang mudik, maka beberapa kawanan ikutan latah mudik. Yang makin parah, ada beberapa mahasiswa tersebut percaya, bahwa hal wajib Ramadhan lainnya yaitu melewatkan puasa hari pertama dengan orang tua.
Entah siapa yang menanamkan doktrin itu hingga menjadi tradisi sebagian mahasiswa. Apalagi kampus melonggarkan keinginan–maksudnya kebiasaan tradisi itu. Celakanya hal itu terjadi tiga hari sebelum hari pertama Ramadhan, itupun belum ditambah dengan agenda kampus yang kosong. Makin melonggarkan keadaan tersebut, jadi tidak mengherankan mahasiswa bakal koor mudik bersama meski tak teratur.
Kebiasaan itu berdampak sekali pada daerah kami. Kawasan yang awalnya begitu ramai kini harus menerima kalau daerah kami memang begini aslinya–sunyi dan lengang. Perlahan-lahan jumlah orang yang “berkeliaran” di daerah kami pun semakin memudar. Candaan yang biasanya terdengar dari kos-kosan mahasiswa seperti hilang tertelan angin. Belum lagi hari-hari menjelang Ied Fitri, daerah kami sepadan dengan negeri tak bertuan. Paling menyedihkan saat mengakui kenyataan bahwa kawasan kami persis di kaki gunung, makin memperparah keadaan. Aktifitas nyaris lumpuh. Membayangkan pulau tak berpenghuni sama halnya membayangkan kawasan kami saat Ramadhan. Pengalaman ini membuatku sendiri aneh, bukan keramaian dan kebersamaan yang hadir di depan mata saat Ramadhan tapi kesunyian…
Tak heran kalau Ramadhan bagi kami berarti ditinggal sebagian besar penghuni, dan melewatkan kesunyian selama sebulan, layaknya berdiam di kota mati. Itulah Ramadhan di ujung mataku.
Di balik itu semua ada hal menarik, sungkeman–jabat tangan permintaan maaf kami lakukan jauh sebelum Ied Fitri tiba. Biasanya kami lakukan saat para pemudik balik ke kampung halaman. Mereka berpamitan sembari meminta maaf. Namun saat-saat berada dalam titik kesunyian itu kami merasa lebih tenang beribadah, lebih kusyuk menjalani perintah Allah, bahkan kami sesekali ingin Ramadhan lamanya setahun. Agar kekusyukan tertanam dan berarkar di benak dan jiwa kami meski kesunyian larut berbulan-berbulan.
Aku percaya Allah memiliki cara dasyat bagi kaumnya untuk melewatkan Ramadhan. Mungkin dengan kesunyian daerah kami, kami dapat lebih tenang dan lebih dekat melaksanakan rukun islam yang ke 4 ini. Dekat dengan kesunyian bukan hal mustahil bagi jiwa untuk mengintropeksi diri akan segala dosa yang pernah dilakukan. Manusia terkadang butuh kesunyian untuk merefleksikan segala bentuk perbuatannya di dunia ataupun berkomunikasi dengan Allah SWT sebagai aplikasi ibadah. Seperti Rasulullah saat memilih menyendiri di Gua Hira ketika menerima wahyu.
Ramadhan dan Kesunyian, dua hal paling indah bagi kami. Mereka seakan bergandengan menjadikan kawasan kami seperti Kota Mati yang penuh Rahmat.

1 komentar:

Postingan yg Kerennn........Moga2 menang.......

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...