Available on bookstore

Available on bookstore

26 May 2009

Japanese Nyeleneh #1#

Nggak Kenal, Maka Nggak Sayang: Nggak Kenal, Maka Kelewatan.



Biar kate orang, sopan… gue kasih sedikit prolouge tentang gue, yaelah! Kenalin gue, Yoga Pradipta. Sewaktu di Bandung kerap nama gue yang sekeren ini disingkat bin diplesetin seantero sekolah dengan Gaip, disangka alaaam… kali! Karena keberuntungan emang selalu ngepihak ke gue, makanya kesempatan beasiswa lanjutin kuliah yang dibiayain perusahaan Jepang lewat anak cabangnya di Bandung, nggak gue biarin begitu saja. Alhasil gue ditempatin di negaranya si Shincan ini.

Iri…. Ya iyalah Jepang dong! Bukan Jepara.

Tapi yang ngebikin gondok melompong tuh! Urusan aktifitas wajib yang nyaris tiap hari gue lakoni dari Tokyo ke Osaka. Bingung? Mari diperjelas, tempat tinggal gue di Osaka, tapi malah kuliah di Tokyo. Jadi… tiap pagi-pagi buta, gue harus siap-siap untuk ngejar ilmu bolak-balik. Dan untuk mempersingkat waktu, pilihan satu-satunya adalah gue mesti naik kereta shift pagi atau bersiap-siap telat. Dan menjadi temen seperjalananku, si Hide, Hideaki Hong.

Eits, tunggu dulu ada satu info yang belum gue beber! Gue kuliah di Tokyo University ngambil jurusan Ekonomi. Why mesti ekomoni? Biar kerja nanti ujung-ujungnya urusan duit-menduiti (tata bahasa yang aneh). More, umur gue pas 18 tahun lebih 7 bulan dan suer masih jomblo!

Dan lo wajib manggil gue dengan Gaip, upz... bukan Yoga.

Gue tahu lo bakal protes kan? Akibat prologue panjang bener… maunya sih sejam lagi, hehehehe.


***


Akh basssi… kenapa juga hari Rabu jadi momok tersendiri. Rabu menyebalkan! Melulu dimarahin Pak Kaizu. Kalo bukan dia mentor gue, udah gue bejek-bejek sepuasnya. Udah pendek, agak gendut, bawel, suka ngomel dengan bahasa Jepang yang intonasinya mencuat-cuat, eh tadi gue dinasehatin. Emang gue bandel? Nilai kamu nggak bagus, nilai kamu anjlok, nilai kamu di bawah rata-rata. Ya jelas lah, nilai gue cuman segitu…! Mana bisa dengan tujuh bulan di Jepang udah bisa lancar bahasa Jepang yang bentuknya aja udah kayak cendol. Ya… ya… ya… gue akuin gue nggak pinter, nilai gue standar, tapi itu kan udah batas maksimal kemampuan gue.

Nilai itu murni kok. Karena di Jepang disiplinnya nyaris sama dengan Eropa makanya gue nggak pernah nyontek, kayak di SMA dulu… (tuh kan ketahuan bodohnya, puas!).

Tapi tadi aku udah lega kok. Berhubung udah 21 kali aku kena omelan Pak Kaizu, maka dengan bangga… aku ngempesin ban mobilnya, biar bingung tuh dosen. Udah pastilah gue nggak ketahuan. Dan lo mau ngadu?

Hmm… seperti biasa gue mengerat ransel gede yang beratnya lima kilo, penuh dengan buku plus laptop kesayangan gue. Enjotan langkah gue melesat jauh dengan bis menuju stasiun Ebisu. Jam pulang kuliah gue emang segini, saat matahari kira-kira seperempat lagi menyentuh senja, artinya… sekitar pukul 3 atau 4 sore, kasarnya.

Banyak agenda yang gue lakuin sebelumnya, gue mesti chatting bermenit-menit di facebook, blogging dengan temen-temen di Bandung atau gue mesti ke perpus dulu sekedar nyari literatur tuk tugas-tugas gue. Itupun karena dua hal:

Pertama karena gue malas beli buku,

Dan kedua adalah karena fasilitas perpus di kampus gue luar biasa lengkap.

Tunggu! sebelumnya persilahkan gue ber-mellow-mellow ria dulu. Menginjakan kaki di kota ini ngebuat gue nyaman, tata kota yang indah, gedung-gedung pencakar langit, lingkungan yang ramah, kebudayaan yang memukau, welcome-nya, kehidupan masyarakatnya memaksa gue betah melenggang kangkung ke sana sini. Ngebuat gue iri terhadap negri orang dan ninggalin harap dalam hati, kalo suatu saat ada kota seperti ini di Tanah Air Tercinta, doain ya… biar kesampaian.

Gue ngelirik sebentar digital dalam pergelangan tangan. Sedikit lagi jarum panjang nyentuh angka empat sore. Nggak terasa! Dengan sigap gue memasuki gerbong kereta api. Kereta api Jepang terkenal express. Kalo mau disamain, secepat lo ngirim sms atau secepat lo ngirimin email, uh… lebay! Tapi asli kereta di sini bukan seperti kereta api tujuan Jakarta-Jogja pak…, bukan juga stasiun Gambir pak… ini Jepang pak… yang asli, keren gila!

Gue memilih duduk di bangku paling akhir dekat pojokan. Selain bisa nyandar, gue bisa puasin mandang keadaan kota yang indah ini selama menuju Osaka. Di pojokan ini gue kerap masangin earset-ku sembari merogoh laptop, sekedar main game atau sekedar nulis perjalanan hidup gue yang terlalu konyol ini untuk dibagi di Blog pribadi.

Ampun… kembali mata gue menyapa satu wajah yang nyaris sebelas-dua belas dengan Ayumi Hamazaki, artis yang kukira dulu dia se-smart Shizuka dalam kartun Doraemon karena kupikir suara mereka sama-sama lembut. Sungguh gue nggak mengenalinya. Pertemuan kami intens di kereta ini, tanpa bicara, tanpa ber-say hello dan hanya saling mandang. Wajahnya bening, matanya sipit dengan potongan rambut curly, anggun dan menarik. Woi… perhatian! ini nih… ciri-ciri cowok mata keranjang!

Nggak! Gue nggak mata keranjang. Yang gue tahu pasti darinya adalah, dia seorang cewek menarik, mungkin seumuran dengan gue, selalu pulang dengan kereta api yang sama dan juga tujuan yang sama seperti gue, Osaka. Pertemuan ke berapa ini? Sumpah gue udah lupa, kira-kira lebih dari 27 kali lah…


***


Gue harus berbagi cerita sedikit tentang sosok ini. Seminggu lalu, gue benar-benar dikejar sang waktu, buru-buru gue tandaskan kaki dari kampus karena ada beberapa pekerjaan menunggu di flat. Gue melesatkan langkah secepat kilat menuju stasiun. Peluh yang udah penuh mempermak wajahpun gue aibaikan. Lo bisa bayangin gimana berantakannya gue kala itu. Lagian emang sengaja seperti itu, karena gue takut bangku kereta kesayangan gue direbut juga.

Dan emang benar nggak ada yang merebah di bangku gue, tapi gegas langkah gue tertahan sebentar saat di gerbong, tubuh gue berpapasan dengan wajah itu. Hingga membuat gue ngoleng sedikit, karena benar-benar tubuh ini menabrakinya nggak sengaja. Dan kalian tahu? Itu pertama kalinya gue denger jeritannya. Meski kedengarannya aneh tapi gue ngerasa ngelambung setinggi awan. Dan paling penting lagi, dia melepas ucapannya walau hanya dua penggal kata.

“Gue fine!” katanya lembut.

Waduh rasanya kayak lo pertama ngerasain enaknya eksrim waktu lo kecil. Atau ketika lo lagi seneng-senengnya gandrung PS atau saat lo dapet award, atau rasanya ketika lo dipuji.

Dan bukannya gue melebay-lebayhkan (nggak bener nih bahasanya), dari beberapa pertemuan yang udah-udah, asli kali ini gue bener-bener senang. Pokoknya ada rasa yang nggak bisa gue keluarin, itu intinya. Dan lo jangan bilang kalo gue falling in love. No! itu nggak mungkin, gue bukan tipe cowok yang gampang jatuh cinta dan bilang sayang begitu saja.

Celakanya setelah kejadian itu, nggak ada hal yang sama seperti ini, lalu secara alamiah pertemuan kita kembali seperti awalnya: tanpa bicara, aku hanya bisa meliriknya sesekali, ngagumin raut Ayumi-nya itu. Dan hanya terjadi di atas kereta api ini, dua tiga kali, bukan empat lima kali gue meliriknya. Untung nggak ada hukuman untuk kasus ngelirik cewek di atas tiga kali, bisa-bisa gue kena sergapan polisi paling pertama.


***


Duduk gue di sini masih dalam posisi yang sama, dan gue sadar sorot mata ini terlalu sering menangkapnya. Mengingat Pak Kaizu tadi, membuat jengkel. Mending asikan mandang dia, minimal jengkel tadi berubah adem. Pasti nih lama-lama gue bakal hanya bisa jadi secret admirer-nya. Nggak! Gue hanya seorang passenger-train… dan dia juga seperti itu, naik kereta dari Tokyo menuju Osaka, dan duduk beberapa kursi di depan gue.

Tapi boleh dong gue kenalan dengannya? Buat jadi temen juga bisa… kalo jadi pacar nggak mugkin sama sekali. Atau gini… bisalah jadi temen sekereta deh! Kan biar beda, temen sekampus… udah biasa, temen sekelas… udah lebih biasa, apalagi temen sepermainan!

Tarikan napas gue terlalu panjang, fuih… Seperti mengingatkan gue mengerjakan soal matematika ketika ujian akhir SMA. Penuh kehati-hatian dan sesekali meremas jari.

Sepuluh menit dari sekarang, gue berdiri tepat menghadangnya, nggak kurang dari 30 senti dan menyimpul senyum sehangat summer.

Dia meresponnya dan menyilahkan gue duduk bersebelahan. Gue rasa tadi kursi ini penuh.

No! it’s impossible, masa baru nyapa sebentar udah disuruh duduk. Atau jangan-jangan dasarnya orang Asia yang baik-baik bin ramah-ramah kali ya…

Thanks…” balas gue.

Dan mendadak gue terserang penyakit, yang sumpah menjijikan yaitu salting! Itulah musuh paling besar para cowok dalam menghadapi lawan jenisnya. Hmm… sumpah mematikan gerakan, ucapan dan gelagat gue.

“Nggak usah nervous,” komennya seolah membaca pikiran gue.

Gue menohok sesaat.

“Gue selalu ngeliat lo. Dan jelas lo bukan orang sini… Lo selalu mojokin diri di belakang sambil berteriak-teriak ngikutin lagu di earset lo! Mending nyanyiin lagu slow malah nge-rock lagi. Udah gitu gayanya kurang kontrol.

Oh ya.. itu hobi gue dengerin lagu U2 berulang-ulang di earset. Dan bernyanyi sekencang-kencangnya. Eits, jadi selama ini dia memperhatikan gue?

“Suara lo itu ngeganggu tau! Berisik!”

Jadi? ternyata suara gue mengganggu selama ini? Ya iyalah, cuman orang bodoh yang nggak keganggu dengan suara fals begini. Diam sejenak kayaknya lebih cocok untuk gue saat ini.

“Gue Ayumi,” sambungnya lagi.

Sumpah? Yang bener? Nih orang boong bener! Mentang-mentang mirip tuh artis langsung gede kepala. Sekarang lo bisa bayangin wajah Ayumi Hamazaki, kalo nggak bisa lo browsing deh sekarang, biar lo tahu gimana sosoknya.

“Yup! Panggil gue Ayumi.”

Nggak perlu gue untuk banyak bicara, langsung saja ku kenalkan diri, “Yoga…”

“Yoga…” ucapnya halus dengan suara berdehem. “Yoga… yoga…” serunya lagi dengan nada yang sama, hingga panggilan itu melengking lebih dari tujuh oktaf menyentuh gendang telinga gue.

Mata gue membulat kemudian. Upz, nggak gue dapati wajah Ayumi lagi. Gue kelimpungan setengah menit.

“Yoga… lo dari tadi nggak ngedengerin suara gue? Kereta udah dari tadi nyampe…!”

Ampun… Ayumi berubah menjadi Hide. Jadi sedari tadi gue hanya ngelamun? Hide… ngapain sih memberhanguskan lamunan indah gue? Sumpah gue kesel! Teman kuliah gue ini kebangetan.

Wait! Sejak kapan lo duduk di sini.”

“Makanya bengong dipiara!”


***



18 May 2009

Narsis (Arsip) Saat Kegiatan Seminar Hardiknas



11 May 2009

B3: Lafaz Cinta

Tittle : Lafaz Cinta

Penulis : Sinta Yudisia

Penerbit : Mizan


Aku udah agak lupa mengenai kapan aku beli nih buku. Yang pasti cover dan setting-nya yang indah membuatku pertama tertarik untuk merogoh isinya dengan pikiranku, tentunya dibaca.


Buku ini bercerita mengenai seorang wanita, Seyla, yang hijrah ke Netherlands untuk melupakan kisah cintanya dengan seorang pria baik, yang bernama Zen. di negeri yang baru kehidupan Seyla mulai digulirkan. Banyak hal yang ia temui, termasuk ia harus memahami kisah cinta Marko dan Ben yang nggak lazim, bertemu dua sahabatnya Barbara dan Judith yang masih samar akan pengetahuannya mengenai penciptaanSang (atheis). Paling tragis dan rumit, ia malah masuk ke dalam kisah cinta Pangeran Karl van Veldhuisen yang telah memiliki tunangan Putri Constance Martini du Barry.

Bahasa yang digunakan Sinta sangat mengesankan, tak datar meski kita harus masuk menyelinap setiap maksud tulisannya. Yang paling penting Sinta membeberkan tuntas seluk-beluk kota Groningen, Amsterdam, Makkah, Damrak, Chechnya, seakan kita berada di tempat yang sama saat memangku buku ini dalam pikiran.

Memahami isi cerita buku ini, berarti kita nggak hanya dibawa mengetahui kisah cinta secara horizontal namun cinta secara vertikal, yaitu cinta kepada Sang Khalik. Novel ini memang tertuju untuk penggemar buku genre novel islami, tapi Lafaz Cinta nggak melepas diri dari novel umum untuk konsumsi masyarakat luas.

Untuk urusan ending Lafaz Cinta, aku mesti baca paling tidak tiga kali untuk memahaminya, mengingat bahasa yang digunakan Sinta sangat mendalam untuk dicerna.

Salah satu keunggulan buku ini adalah imajinatif Sinta yang luar biasa memaparkan idenya ke dalam novel ini.