Available on bookstore

Available on bookstore

27 June 2009

B3: Jalan-jalan Bali


Tittle : Jalan-jalan Bali

Penulis : Maria Ekaristi dan Agung Bawantara

Penerbit : GagasMedia



Hui… denger Bali? Pasti semua pada seneng ngebayangin yang seru-seru. Sebelum aku review nih buku, seperti biasa aku bakal bakal ngasih tahu dari mana aku dapat nih buku. Buku ini aku sengaja pesan dari kakak aku yang tinggal di Bogor, dengan tujuan ngikutin lomba dari tim Gagas (lomba buku travelling). Kalo nggak salah belinya bulan Januari 2009, kalo aku nggak lupa. Tapi udah tahu hasilnya kan aku gagal jadi pemenang, sedih? Nggak! Nggak bakalan aku sedih karena bagiku ngikutin lomba aja tuh udah jadi pemenang. Bayangin berapa remaja yang ngikutin nih lomba? Mungkin 2 banding 10.

Seingatku, kakak aku belinya di kisaran harga 40 ribuan gitu… tapi aslinya aku udah lupa. Emang sih di kotaku lebih populer buku-buku terbitan dari Mizan maupun Gramedia, makanya aku kalo mau beli bukunya GagasMedia ya mesti pesan dari kakak aku di Bogor.


Stop Ngoceh! Let’s review

Kalo mau dikategoriin, aku lebih enak nyebutin buku Jalan-jalan Bali dengan Panduan Wisata, yang merujuk ke lifestyle ataupun ya… diklaim Gagas sendiri buku Travelling, karena di sini mengungkap berbagai objek wisata yang menarik, lengkap dengan beberapa harga perjalanan dan juga akomodasi keren yang so complete.

Sesaat ngebaca halaman pertama, aku langsung kaget luar biasanya, hingga ngebuat aku menggelengkan kepala berkali-kali. Why? Karena buku ini sepertinya ditujukan untuk anak muda (nyaris bahasanya memakai bahasa yang dekat dengan dunia remaja. Emang ya gagas pinter banget ngombain nih buku dengan dunia teen. Teen it’s so amazing), tapi kembali lagi bahwa buku nonfksi untuk semua kalangan. Untuk penjelasan bahasanya, Maria dan Agung sengaja memilih bahasa bertutur, seolah-olah dua penulis ini mengajak kita mengobrol. Mungkin ini pengalaman pertamaku ngebaca buku nonfiksi yang seperti ini, memakai bahasa yang jauh dari kesan baku. Bisa jadi ini salah satu, kelebihan buku ini sehingga menempatkan Jalan-jalan Bali menjadi ‘beda’

Pada halaman-halaman awal, Maria Ekaristi dan Agung Bawantara akan mengajak kami mengenal Bali, dimulai dari bagaimana kita bisa nyampe ke tuh kota, yang dibagi melalui tiga jalur, udara, laut, dan darat. Kemudian memaparkan hal-hal umum seputar liburan di Bali.

Kelebihan berikutnya adalah objek wisatanya di susun sistematis. Maksudnya buku ini dipaparkan per kabupaten, mulai dari Badung, Denpasar, Gianyar, Bangli, Tabanan, Buleleng, Klungkung, Karangasem dan Jembrana. Trus mata kamu bakal disuguhkan dengan hasil foto yang menakjubkan. Keren-keran semua, pengin deh jadi fotografer suatu saat nanti

Masih kurang? Kayaknya nggak deh. Tapi tunggu dulu, Jalan-jalan Bali masih menawarkan bonus lain. Diantaranya wisata kuliner khas Bali – dijamin bakal ngebuat perut kamu keroncongan, tapi sayangnya kuliner dalam buku ini hanya muatin masakan tradisonal deh, nggak usah kecewa kalo kamu penggemar mancanegara, soalnya beberapa wisata kuliner khas Bali udah cukup kok, Untungnya kamu juga bisa dapetin tuh kuliner di warung-warung yang telah di susun lengkap di buku ini. Bonus yang nggak kalah menarik, yaitu Jalan-jalan Bali menampilkan tip dan trik liburan, olahraga air, wisata gunung, wisata pantai, wisata budaya yang dikupas habis. Beberapa wisata budaya dilengkapi dengan sejarahnya. Nggak ketinggalan kalender festival tahunan dan direktori yang amat lengkap. Direktorinya meliputi, akomodasi, tempat hiburan, salon & spa, tempat belanja, galeri seni, dan wisata petualangan.

Mau bonus lagi? Masih ada. Kulik-kulik deh tip dan triknya, ada cara ngedapetin tatto keren. Masih ada nggak ya bonusnya… ada dong! Informasi tentang musik dan pementasan tari bareng jadwalnya digelar asik di dalam buku ini. Gimana? Mau milikin nih buku?

Ngebaca latar belakang dua penulisnya pada halaman belakang, nggak salah lagi dua penulis ini emang megang banget deh kawasan Bali. Yang satunya wartawan (Agung Bawantara) dan satunya seseorang yang berkecimpung dengan dunia bisnis di Bali (Maria Ekaristi) sehingga nggak heran kalo Bali dikupas abis dalam setiap babnya. Nggak kayak aku sukanya dunia fiksi malah nyoba nulis dunia nonfiksi. Never mind, orang mau belajar adalah orang yang mencoba segalanya bukan?

Sayangnya beberapa foto di dalam buku ini menggunakan mode black & white aja. Menurut aku agak nanggung, lebih asik semua objek foto nampilin warnanya. Biar pool sekalian.


The last, keunggulan buku Jalan-Jalan Bali adalah, bahasa yang dipakai sangat dekat dengan dunia remaja, seakan penulis mengerti bahwa bukan fiksi saja yang bisa mengajak kita berbicara dan ngobrol tetapi buku nonfiksi juga bisa mengajak kita ngobrol bareng. Buku ini multifungsi… bingung? Mari diperjelas, maksudnya seperti yang bilang tadi di atas aku lebih enak masukin buku ini ke dalam satu kategori lain yaitu Panduan Wisata, jadi jatuhnya nih buku asik dibawa-bawa kemana-mana seperti membawa sebuah novel. Mungkin jenis bahasanya mirip dengan artikel-artikel di majalah remaja. Keunggulan yang lain, adalah Jalan-jalan Bali lumayan lengkap. Kurasa lengkapnya kelewatan, karena beberapa brosur dinas pariwisata aja nggak selengkap nih buku. Cocoknya Jalan-jalan Bali dijadiin referensi dinas pariwisata Indonesia.

Tunggu apalagi, buat yang sering travelling ke mana aja termasuk Bali, siap-siap, buku ini bakal membuka pandangan kamu terhadap Bali yang masih tersembunyi, untuk siap dijamah…

Bali? I wanna taste you…


15 June 2009

Japanese Nyeleneh #2#

Ngebut… Coz’ Pahlawan Kesiangan


Huff… akhirnya tiba juga di flat. Bakal gue tuntaskan kelelahan yang nyaris mematikan gerakan gue, yang menyerang persendian gue. Pokoknya gue bakal molor sepuasnya... Lantas saat mendapati bantal, segera badan gue banting dan merebah nyaman, guling gue lingkar dan terlelap dalam. Mungkin ornamen mendengkur nggak ketinggalan… (tapi jangan samain dengkuran gue dengan dengkuran itu si Babi… Cut Pat Kai…)

Zzzz…

Mata gue belum sampai terpejam sejam lebih, suara aneh udah lebih dulu menyaput telinga gue. Meski nggak sebising mesin pabrik tapi gue akui sedikit menganggu nyenyak tidur gue. Bantal gue singkirkan sementara dan setengah sempoyongan menuju balkon lantai empat.

Dari balkon lantai empat, nggak tampak keramaian seperti biasanya, hanya beberapa lelaki kekar berpakaian serbahitam dengan postur tinggi, wajah tegas, berkacamata hitam tebal. Kalo mau disamain mereka nyaris mirip beberapa agen rahasia luar negeri tapi versi Asia. Mereka sekitar enam orang. Berenam mereka kelihatan bingung dan melongok setiap sudut flat.

Nggak ada yang perlu dikhawatirin…

Gue hendak mengalihkan langkah – berlalu, tapi tunggu… gue melihat satu dari enam lelaki itu memasukan pistol ke dalam sakunya. Pistol? Senjata? Yang benar saja. Ini salah satu kenyataan yang baru gue lihat. Alah masa bodoh… bukan urusan gue!

Mending enakan tidur, dan lanjutin bermimpi indah. Kali aja bertemu Ayumi gue. Daripada mikirin hal nggak tunjrungan? Weleh… mungkin esok gue bakal ketemu dengan dia lagi. Di stasiun Ebisu… udah nggak sabar.

Gue segera masuk dan kembali merebah. Belum sampai tiga menit lebih, ponsel gue berdering nyaring. Panggilan masuk dari sahabat gue, si Hide. Hmmm datang lagi si penganggu lain. Kapan gue dapat istirahat? Dapat mimpi dengan indah. Kalo saja ada si Hide di depan gue saat ini, udah gue ketok dengan palu segede gajah. Biar mampus sekalian.

Eh gue mau maen ke flat lo, entar malam,” semprotnya lancar.

Gue menjauhkan ponsel dari telinga. Suaranya kelewat besar.

Ada apa?”

Mau pinjem motor lo…” Hide terkekeh.

Lo pikir gratisan… no…”

Gue punya tiket free nih, entar ke bioskop…”

Dari luar terdengar lagi bunyi aneh seperti tadi. Kali ini sedikit lebih nyaring. Nggak ayal menarik penasaran gue lagi. Tanpa aba-aba lain, gue melepas ponsel lantas membiarkan Hide ngobrol sendiri. Gue memperhatikan sekeliling. Yang gue dapati seperti tadi, hanya terlihat enam lelaki serbahitam tadi. Lelaki brewok diantara mereka, mengeluarkan pistol kembali.

Gue mulai memutar otak. Nggak mungkin kalo di sekitar flat aman, batin gue penasaran. Gue bisa mengenal, itu jenis pistol yang kerap dipakai mafia… atau agen rasahia. Nggak, kesimpulan terlampau cepat. Gue kembali menatap berkeliling.

Mendadak pandangan ini cepat memonitor gedung depan flat gue, sebuah toko aksesoris – yang ditutup ketika jam udah nyaris menunjukan pukul empat sore. Tampak seorang cewek menguntit dari balik toko. Pandangannya seolah takut memandangi enam lelaki serbahitam itu. Gerakannya pun penuh dengan kehati-hatian. Secara alamiah, gue menarik kesimpulan sendiri… enam lelaki serbahitam itu kelihatannya mencari… Yup, cewek itu.

Cewek itu perlu bantuan. Gue rasa ini darurat, tapi gue harus mulai dari mana? Alah… jangan lama berpikir!

Gue perlahan menuruni anak tangga, jalan gue sedikit pelan, hampir nggak kedengaran langkah kaki gue. Sial! Di anak tangga terakhir satu lelaki serbahitam menatap gue geram. Sumpah kali ini gue kagok. Saking takutnya menyaksikan reaksi mereka hingga kaki gue gemetaran. Gue lepas senyum ramah, biar menutupi ketakutan gue.

Mereka nggak menaruh curiga pada gue.

Gue melangkah jauh menuju toko aksesoris, dan membelok terarah tembok paling kiri. Kali ini reaksi Cewek itu takut setengah mati, tapi dia berusaha setenang mungkin. Cewek itu seperti baru saja bertemu hantu. Jalan-jalan di sini mirip lorong-lorong namun lebar. Gue melongok, memperhatikan jalan.

Ngapain lo!” katanya kasar saat erat gue memegang tangannya. Gue emang sengaja ingin meloloskannya.

Mau bawa lo kabur.”

Hei, lepasin. Gue bisa sendiri,” protesnya lagi lebih kuat.

Teriakannya tersebut, menarik dua lelaki itu – yang nyaris mendekati posisi kami. Keduanya mencari arah sumber suara. Sepertinya mereka mengenal suara cewek ini. Mampuslah kita… Gue mulai takut saat kaki lelaki mendekati arah toko paling kiri. Gue memundurkan langkah. Tanpa aba-aba lain, gue segera mencekal tangannya erat dan berancang kabur.

Gue menariknya mengenjot langkah – lari.

Dia di sana…” teriak dua lelaki tadi menunjuk. Kontan saja mengalihkan pandangan mereka semua. Gue rasa situasi makin darurat.

Waduh nggak ada jalan lain. Gue mesti terus memacu langkah sekencangnya. Gue sempat melihat ke belakang, satu lelaki lebih tinggi mengeluarkan pistolnya. Makin kulepas langkah seribu. Kini kami melewati pasar tradisional yang sangat rapi, mirip supermarket mini di Jakarta. Kami menyusuri lorong dengan napas yang sudah tersengal-sengal. Di luar dugaan, lelaki itu nge-shoot senjatanya. Untunglah kami cepat menghindar. Nggak ayal beberapa dagangan penjual tradisional melayang karena ketembak. Pokoknya yang hanya terlintas dipikiran gue, kabur dan kabur. Jangan sampai mereka mengeluarkan pistol-pistol itu kembali.

Kapok!

Usai setengah jam kami berlari-lari, gue menyandarkan diri di salah satu gedung pencakar langit – jauh dari flat gue. Nggak gue lihat lagi enam lelaki tadi, mungkin mereka udah kehilangan jejak kami. Gue perlahan menenangkan nada engah dari alur hidung. Harus gue akui tadi lari gue nggak ada bedanya dengan pertandingan maraton kelas dunia. Perlahan gue tersandar dan kelelahan setengah mati. Lari yang membawa sengsara. Gue melirik jam, udah nyaris pukul lima sore. Gue mendesah pasrah…

Lepasin… tangan lo ganggu tau!”

Ya ya ya… gue tau. Udah sukur gue tolongin,” gerutu gue.

Lo pamrih nih! Minta bayaran… Gue juga nggak butuh bantuan lo,” cetusnya jutek.

Gue angkat tangan, “Ya udah lo pilih jalan balik. Karena detik ini gue mau pergi, mau lepas dari lo.”

Benar banget…” cewek itu seakan meledek.

Gue nggak habis pikir, kenapa bisa ada tipe cewek kayak begini – emangnya ucapan terima kasih tuh mahal? Nggak usah mikirin orang lain, sedang yang dipikirin nggak respect sama kita kan? Gue meliriknya sekilas sembari angkat bahu. Lebih baik saat ini gue mencari jalan sendiri, toh dia nggak kenal ma gue. Begitupun gue. “Moga aja tuh enam cowok ngejar lo lagi, biar tambah asik hidup lo hari ini…” komen gue kesal.

Gue berlalu menyusuri lorong-lorong. Gedung-gedung tinggi menjulang nyaris menjadi parodi gedung berbaris yang megah. Manusia-manusia tampak sibuk sendiri. Salah satu jenis kota maju – masyarakatnya seperti dikejar sang waktu, beda banget saat gue di Jakarta. Beberapa orang di Osaka ini terlihat menggenggam buku. Mendadak perasaan gue ngerasain sesuatu. Sepertinya gue ada yang mengikuti. Beberapa kali gue berhenti dan menatap sekeliling – tentu saja memastikan kalo benar ada yang mengikuti. Mungkin gue yang kebawa aja dengan kejadian tadi. Sebelumnya harus gue akui bila pukulan enam lelaki tadi melahap wajah gue, mungkin saja gue bisa mati, apalagi mereka kekar banget. Bogem mentah? Nggak usah gue bayangin.

Gue boleh ikut lo?”

Gue tersentak kaget hingga tubuh gue miring empat puluh derajat. Cewek itu menolehkan parasnya pada gue. Kagok seketika menyerang gue. Maksudnya apaan nunjukin wajahnya lagi.

Lo ngikutin gue?”

Ya…” sahutnya memelas. “Saolnya gue takut…. Minimal hari ini gue ngerasa nyaman bareng lo.”

Aku menatap sinis, “Katanya…”

Hari ini aja, please…” mohonya pada gue.


***


Senja lambat-lambat menghampiri hari, sesaat lagi malam bareng jubah hitamnya bakal meneduhkan langit Osaka. Kami memilih duduk di taman kota. Dia menyodorkan burger pada gue. Dengan halus gue menolak. Beberapa temaram lampu yang mulai menyala mengalihkan pandangan gue. Indah banget. Kota yang maju, malam nggak kalah indahnya dengan siang.

Lo kenapa dikejar.”

Cewek itu diam dan nggak merespon pertanyaan gue.

Hubungan mereka dengan lo?”

Nggak, gue punya hal lain yang bisa gue ceritain daripada ngebahas lelaki-lelaki bodoh tadi. Nggak ada hubungannya dengan lo.”

Gue angkat bahu.

Lo terlihat lelah, lo perlu istirahat. Air mineral cocok untuk lo.”

Yup, tapi yakinlah gue nggak apa-apa. Gue bukan tipe cewek yang cepet dehidrasi atau tipe cewek yang pingsan hanya karena kelelahan. Gue bisa ngatasin hal sepeleh kayak gitu.”

Pandangan gue terus lurus. “Gue mau balik sekarang…”

Gue berdiri. Sejenak desir angin taman kota sangat menyejukan banget. Bertiup menyentuh kulit gue. Berada di Osaka ini memang menyenangkan buat gue. Apalagi keramahtamahannya. Tapi kejadian tadi membuat gue dongkol. Kalo jadi James Bond udah gue tembak balik enam lelaki tadi. Gue pukul hingga jadi bubur. Tuhan… pengin suatu saat jadi James… biar disangka keren. Ngayal!

Nggak, lo duluan aja…”

Bukannya lo mau ikut gue…”

Nggak, gue pikir lo punya kehidupan sendiri. Dan gue punya jalan sendiri.”

Take care…” seloroh gue melangkah.

Situasi yang berat, gue masih dalam banyak pertanyan dalam benak; kenapa hingga cewek itu dikejar. Ya barangkali masalah pribadi. Gue nggak harus tahu sekarang. Gue percaya setiap orang bakal menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan caranya sendiri. Gue nggak bisa bayangin bila gue turut campur masalahnya, mungkin hari-hari gue bakal dipenuhi dengan lari maraton. Dan ditembak kayak tadi.

Nama lo…” teriaknya dari kursi taman menghentikan langkah yang sudah jauh meninggalkan taman kota.

Gue, Yoga…”

Gue bakal seneng banget ketemu lo lagi…”

Seketika langkah gue berhenti. Dan perlahan pandangan gue memonitor tubuh semampai itu…


***


06 June 2009

B3: That Silent Summer


Tittle : That Silent Summer (Saat Kata-kata Tidaklah Cukup)

Penulis : Elaine Medline

Penerbit : Gramedia


Buku ini persisnya aku beli bersamaan dengan buku Lafaz Cinta. Jujur saat beli nih buku, aku nggak niat menjadikan That Silent Summer sebagai list hunt pertama dalam benak aku, tapi asli nggak tahu kenapa saat ngelirik sana-sini di toko buku, aku mentok pada buku ini. Mungkin udah jodoh kali ya…???


That Silent Summer memang ditujukan kepada pembaca dan penggemar Teenlit, tapi bedanya nih buku dengan Teenlit semacamnya adalah, buku ini kebanyakan menggunakan tata bahasa yang baku, jauh dari bahasa gaul yang kerap menghiasi Teenlit-teenlit Indonesia. Ceritanya dipaparkan sederhana melalui tokoh remaja, seorang gadis bernama Gabby G. Cooper yang sering di panggil Minnow beserta tiga tokoh lain; neneknya (Yanny), pamannya (Cliff) dan bibinya (Anna). Tokoh lain yang menghiasi Teenlit ini, adalah Montgomery Moore dan Stanley. Dan jelas bila kamu ingin berharap bahwa buku ini akan menghadirkan serangkaian beserta unek-unek tentang cinta yang mungkin ketika kamu baca, kamu akan mellow, maka itu salah besar. Cinta yang dihadirkan dalam novel ini lain sekali. Cinta di sini dipandang dengan pendekatan secara keluarga.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, namun mengisahkan tokoh lain, maksudnya penulis memakai Anna untuk mengisahkan tokoh Minnow. Cara penyajiannya pun beda, That Silent Summer seolah mengajak kamu mengobrol sehingga jangan bingung saat kadang-kadang Si Anna tadi menceritakan beberapa hal yang berulang-ulang.

Kisah Minnow berawal saat dia menghabiskan liburan panasnya ke desa bersama tiga keluarganya tadi. Remaja ini banyak belajar hal yang wajar untuk seusianya; membuat pai, membantu pamannya menyelesaikan puisi seratus halaman dan paling intens ketika Minnow belajar berenang di Danau Birch untuk menakhlukan pulau Piknik.

Untuk urusan Ending, cukup memuaskan walau aku yakin jika kamu baca nih buku, kamu bakal berharap lebih dari novel karya Elaine Medline. Tapi endingnya cukup mengesankan. Masalah nenek Minnow (Yanny) dengan ibunya (Marianne) menjadi sasaran utama pemilihan ending, dan kemudian di lanjutkan kisah cinta si penutur, Anna.

Info lagi nih, jujur aku suka penggambaran tentang loon, puisi, dayung ungu, gladiola oleh penulis.

Keunggulan That Silent Summer adalah tema yang diangkat terasa beda, dan sungguh cerita yang aku pikir sederhana ini, lumayan enak diangkat ke dalam novel. Jika kamu pembaca novel pemula maka saat membaca novel ini kamu nggak perlu memikirkan keruwetan bahasanya, sebab bahasa yang dipakai dalam novel ini cukup sederhana.