Available on bookstore

Available on bookstore

30 July 2009

B3: Samira dan Samir


Kisah memilukan tentang cinta dan penindasan di Afghanistan


Tittle : Samira dan Samir

Penulis : Siba Shakib

Penerbit : Alvabet


Aku bisa sampai baca buku ini, karena kebetulan. Kalo nggak salah aku niatnya ke perpus kampus buat baca bukunya NH. Dini yang judulnya Jepun Negerinya Hiroko, tapi kok saat mondar-mandir depan rak Sastra, aku kencantol ama nih buku. Desain cover-nya yang menarik dipadu dengan sinopsis-nya yang ditutur enak membuat aku langsung ingin ngebacanya.


Tepat sekali kalo novel dengan 22 bab ini ditujukan untuk semua kalangan, bahasanya yang gila… penuh dengan sastra membuat kamu mesti cerna baik-baik nih novel. Memangku nih buku sama halnya kamu membaca cerita serupa Laskar Pelangi. Muatan kalimat-kalimatnya sangat syarat dengan makna, hingga percakapannya pun nggak luput dari makna sastra.

Cerita nih novel mengisahkan kehidupan seorang komandan di negri Afghanistan yang hidup terbiasa dengan adat dan lingkungan sosialnya. Mendengar seluruh peraturan di masyarakatnya. Bergaris keturunan dari seorang anak pemimpin perang memaksa Pak Komandan harus menyadari bahwa, dia mesti memiliki seorang putra yang bakal meneruskan kepemimpinannya.

Semua dilema, kisah, perasaan dimulai dan digulirkan saat Pak Komandan tahu bahwa istrinya Daria, melahirkan seorang anak perempuan bukan lelaki. Untuk mengatasinya dia mendidik anaknya, Samira menjadi seorang anak komandan perang seperti lazimnya; mengajari berkuda, menembak, bermain buzkashi. Hingga Samira menjadi Samir-nya Pak Komandan.

Cerita yang menyedihkan ini, mewakili seorang anak Afghanistan yang dilema menentukan indentitasnya di negeri perang. Kamu nggak hanya disuguhin dengan bahasa yang indah namun kerumitan cerita yang kompleks, dimana dia harus menerima kenyataan kehilangan kakek dan ayahnya, tentang kehidupan yang harus dijalani saat mesti bertahan hidup, pindah dan menjadi tulang punggung keluarga. Gila menarik banget. Yang paling penting Samira harus mempertaruhkan hidupnya ketika dihadapkan untuk memilih Bashir atau Gol-Sar – kakak Bashir.

Pada bagian akhir anda ditawarkan sebuah ending yang dilematis, jawaban atas semua masalah yang membelenggunya sejak lahir hingga dia memilih menikah.

Satu hal saja yang pengin aku bilang: bahwa buku ini bukan lagi patut, tapi wajib dibaca!


Nah, untuk keunggulannya sendiri… Siba Shakib berhasil memaparkan tulisannya dengan menggunakan sastra yang enak banget. Pemilihan sudut pandangnya… luar biasa! Kamu bakal terheran-heran ketika membaca setiap bab-nya. Konflik yang terjadi antar tokohnya rumit namun sangat renyah dinikmati, apalagi penyelesaiannya. Pokoknya buku ini miris hingga di akhir lembarnya.


27 July 2009

Japanese Nyeleneh #3#

First Anugerah, kok Mala(m)h Nyemplung Musibah?


Ke mana aja lo.”

Seluruh indera penglihatan gue langsung memonitor tubuh tambun dengan perawakan kocak saat membuka pintu flat. Hide sedang melahap roti, sembari menguyah keenakan. Matanya membulat, seolah-olah sedang menghadapi dessert terlezat sedunia.

Eh, gue dari tadi nungguin lo.”

Gue… barusan keluar kok. Beberapa hal mesti gue urusin,” sahut gue lantas mendekati Hide. Gue mendeliknya perlahan, “gue liat dandanan lo rapi amat, necis… hmmm… Bau parfumnya menyengat. Kalo nyamuk lewat, pasti dah mati tuh nyamuk. Emang lo mau ngapel ke mana?”

Dodol! Kita mau nobar!”

Gue mendesah panjang, “Gue baru inget.”

Nyengir aja lo!”

Secepat kilat gue bersiap-siap. Nggak butuh sepuluh menit semua yang ada pada gue tampak rapi. Gue mutusin mengenakan blazer cokelat dengan celana jeans belel bareng sepatu kets, nggak ada spesial dari dandanan gue. Berdua kami melaju menuju bioskop Art Japanese. Beberapa film menarik perhatian kami. Satu film terbaru Robert Pattison, lumayan membuat gue penasaran.

Nggak usah nonton yang aneh-aneh,” protesnya saat gue putusin nonton film Robert Pattison.

Gue suka nonton… nih film.” Tunjuknya pada billboard mini Rowman Akitson.

Nyari film kayak gitu… kualitas tuh number 1.”

Kualitas? Sok tau. Mana ada film yang nggak berkualitas dijadiin sebuah karya. Nggak ada! Palingan lo aja tuh yang keenakan nyari film thriller. Sekali-kali nonton yang bisa ngebuat kita seneng. Ketawa, bukan bikin tegang, setres tau!”

Uh dasar tambun! Bisa saja nyari alasan. Terpaksa gue terima saja tawaran Hide. Lagian nggak sopan, dia yang nraktir. Tapi pasti tuh film nggak banyak pengunjung, percaya! Hari gini nonton film kayak begitu, ngebayangin wajahnya aja udah tua apalagi acting-nya?

Lumayan rame di studio satu. Rangkaian indera penglihatan gue menumpu pada satu sosok. Kurus tinggi semampai, matanya kelabu meneduhkan. Giginya rapat cantik. Wajahnya merona indah. Haiyyah? This is Ayumi? Gue ngeliat cewek menarik itu lagi, bukan hanya di kereta. Dia berjalan bersisian dengan seorang cewek mencari tempat duduk. Nyaris dirinya seanggun bidadari. Meski pakaiannya amat sederhana seenggaknya kutemukan dirinya di sini penuh pesona. Ini langka buat gue. Dia mirip putri-putri Jepang – yang kulitnya sehalus sutra, dan pesonanya seindah sakura. Kelewatan tuh pujian!

Buuuk! Nggak sadar kaki gue menabrak jejeran kursi. Saking menatapnya gue nggak sempat merhatiin jalan. Shit! Oh semua orang melempar tatapannya lantas tertawa lebar. Dapat ketebak? Saat ini malu menyerangku hingga ke ubun-ubun. Nggak apalah, minimal dengan melirik Ayumi gue bisa dapat tenang. Tapi makin lama, puluhan kepala makin asik pandangin gue.

Jangan bilang kalo si Ayumi juga, natap gue… malu! Batin gue gelisah.

Saat duduk gue mulai menatap sekeliling. Dengan sedikit gusar gue kelimpungan menelaah posisi Ayumi gue. Ampun… udah gue duga sebelumnya, tempat duduk kami berjauhan, posisi gue dengan Hide di ujung belakang kanan sedang dirinya di samping kiri.


***


Dua jarum di pergelangan tangan udah menunjuk angka 10 malam, larut banget. Gegas langkah gue segera menuju basement, mengambil motor. Jaket gue sematkan membaluti tubuh, sekedar mengusir desir angin yang meniup menusuk. Di luar dugaan Ayumi bersisian jalan bareng sahabatnya, melawan arah. Gue memperhatikan lekat.

Jangan bilang, ini kebetulan…” tukasnya heran. Lebih mengherankan lagi bagi gue, karena dia santai negur duluan. Seakan detik itu, waktu gue berhenti, lantas gue mematung sendiri sedang di sekitar gue keadaan berjalan normal. “Lo cowok di kereta itu kan?” sambungnya.

Kaget gue kini bertambah naik. No ini pasti ngayal lagi… diam-diam gue coba mencubit kulit ari gue untuk mastiin semuanya. Sial! Sakitnya bukan main. Ternyata ini emang bukan mimpi…

Dia meledak tawa, hingga gue kikuk…

Cowok itu emang gue...”

Gue mendeliknya sepuasnya beberapa saat.

Gue sering kok merhatiin lo.”

Kepala gue senang bukan main.

Gue juga…” sahut gue terkekeh.

Sebenarnya, gue udah perhatiin lo sejak dulu. Soalnya lo sering asik dengan laptop lo, mana mungkin nggak ada yang ngeliat lo. Wajah lo yang beda jauh dengan wajah warga Osaka maupun Jepang, pasti memaksa orang natapin lo,” jedahnya sebentar. “Satu hal lagi, tempat duduk lo itu, tempat duduk kesayangan gue, jauh sebelum lo dateng ke sini.”

Apa? Gue butuh diam dan menyadari sebentar…

Gue sering nemuin lo di kampus!” cecarnya lagi.

Kampus? Gue mengulangnya dalam hati. Sejak kapan dia dan gue satu kampus, Gue rasa kami nggak pernah sekampus. Nggak pernah ketemu apalagi ber-say hello. Bingung menyerang gue sesaat.

Kalian saling kenal? hei perteman indah kayak gini, kok gue nggak diajak,” potong Hide cepat saat datang menyalami kami. Penyakit anehnya kambuh tuh. “Kenalin gue Hide.” Hide mengedipkan mata kepada sahabat Ayumi itu, sembari menatap berbinar-binar seperti ngedapatin award.

Gue, Gyo dan ini Fashi…” dia ikut ngenalin sahabatnya.

Yago.” Gue menyambut uluran itu.

Lo pernah ngeliat gue di kampus?”

Yup! Gue anak hukum, mungkin lo nggak pernah ngeliat gue. Beberapa kali kita berpapasan kok. Tapi lo selalu terlihat buru-buru.”

Apa mungkin waktu gue berjalan seperti itu di kampus. Barangkali otak gue baru on di ketera api… atau gue hanya bisa ngerasain dekat, naluri dengannya di tempat itu, atau malah faktor selera kami yang sama; suka duduk di bangku paling pojok akhir yang ngebuat gue nyadar kalo dia tuh ada. Harus gue akui di kampus warganya banyak banget, sangat nggak mungkin bila gue mampu mengidentifikasi satu per satu mahasiswa. Apalagi didukung wajah orang-orang Jepang rada mirip; style, hingga fashion-nya. Kalo pake label satu per satu pasti mudah gue kenali, pikir apaan sih!

Dia bareng sahabatnya milih balik duluan. Sesaat baru gue sadar, gue mendekatinya tanpa bersusah payah. Datang nggak dijemput, pergi pengin gue anter, ngarep! Paling nggak sekarang gue mengenalnya, meski itu sebatas persahabatan. Tapi… (akh, nggak boleh ada tapi kali ini!) semoga malam ini nggak tergantikan. Gue melesatkan motor sekencangnya, sekali-kali Hide meledek sepanjang perjalanan balik, katanya gue nggak cocok ama Gyo. Seperti monyet ama tuannya. Si Hide tuh otaknya emang sedikit geser. Dasar panda….!


***


Kabut-kabut menyelimuti sepanjang flat hingga nyaris seluruh jalan yang kutempati di Osaka ini.

Ketukan kamar yang nyaring memaksa gue bangun dari tidur. Ha....… Siapa sih malam-malam begini bertandang… seingat gue, tidur gue tadi siang pun diganggu, mah ini? Gue tampak tergopoh-gopoh saat melebar pintu. Kalo aku punya kekuatan super, udah gue libas nih orang.

Gue butuh lo…”

Mata ini terbelalak nggak percaya, sebuah sosok dengan tegap berdiri, mengenakan jaket hitam tebal plus topi mendelik gue dengan tajam. Lagaknya seperti ingin menciduk gue…