Available on bookstore

Available on bookstore

29 August 2009

B3: Moonlight Waltz


Tittle : Moonlight Waltz
Penulis : Fenny Wong
Penerbit : GagasMedia

Pertama aku bakal jelasin dulu awal ketertarikan aku pada teenlit ini. Saat maen ke situs gagas di gagasmedia.net aku langsung kecantol pada sidebar gagas yang memampang buku-buku baru. Mata aku tertuju tajam pada buku yang penuh dengan latar putih (cover-nya ) ini, yang menempatkan satu piano dengan warna-warni not-nya. Covernya membawa kesan jauh dari cover teenlit-teenlit yang pernah ada. Penasaran aku mulai muncul saat aku baca tuh sinopsisnya. Wah, mesti dibaca nih! Pikir aku saat itu.

Sekadar tahu, buku ini telah aku rekomendasiin di awal bulan Agustus untuk di jadikan salah satu bacaan menarik bulan ini.

Ulasan buku dimulai!
Aku dapetin buku ini seperti buku-buku gagas lainnya. Mesti pesan pada kakakku yang tinggal di Bogor (biasa… dikotaku buku gagas minim banget!). Aku dikirimi novel ini, hari minggu kemarin tanggal 9 Agustus, dan karena kayaknya menarik kubaca habis pada hari itu juga tanpa menunggu besok atau hari lainnya. Wah saat buka lembaran-lembaran pertama kupikir ceritanya bakal sedikit rumit tapi… setelah bab II hingga beberapa bab berikutnya ceritanya nggak ribet. Bahkan aku harus katakan ceritanya cukup sederhana, tentang story; persahabatan, cinta, cita-cita–seperti cerita cinta yang udah bisa diterka deh. Tapi–buku ini menunjukan sudut pandang yang berbeda. Ada hal-hal yang perlu kamu tahu di balik cerita cinta yang kayaknya ‘klasik’ ini.

Kisah di dalam karya Fenny Wong ini dimulai ketika Arlin kepaksa mengikuti kemauan adiknya (Dora) yang sudah terlanjur membeli 2 tiket konser Brunhilde Zimmermann saat liburan kenaikan kelas. Di tempat konser Brunhilde Zimmermann dia bertemu teman satu angkatannya Aldo–yang kebetulan menjadi pianis pembuka. Perkenalan mereka di konser musik itu, membawa cerita tersendiri hingga keduanya solid dalam titik persahabatan.

Selama setahun menjalin persahabatan dengan Aldo, muncul Liora di antara mereka. Arlin menjadi sedikit jengah dengan kehadiraan Liora begitu saja, yang masuk kedalam kehidupan Aldo dengan mulus, sehingga rasanya posisi Arlin agak ‘tersingkir.’ Mereka terlibat cinta khas anak muda… pokoknya enak dibaca. Trus kamu nggak perlu melihat keruwetan cerita soalnya Fenny pintar banget mengolah kata-katanya, hingga konflik per konflik menjadi renyah untuk dibaca. Dan satu hal lagi ceritanya, begitu singkat dan nggak bertele-tele.

Sayangnya ada beberapa tulisan yang aku sendiri pun nggak mengerti; Pertama, pada halaman 149 dan dan 151, aku sempat baca berluang-ulang dua halaman itu hingga memaksa aku membaca dari awal lagi tuh novel, masalahnya dalam dua halaman itu nggak menjelaskan alasan yang jelas kenapa sampai seminggu ini Liora nggak masuk sekolah. (atau kemungkinan besar aku nggak jeli membacanya… semoga aku yang salah nilai deh.) Yang kedua, aku harus bolak-balik lembaran-lembaran Moonligt Waltz lagi untuk mengetahui udah berapa kali si Liora dan Aldo menjalin hubungan… untung aku baca ulang, jadi nggak pusing. Trus yang ketiga, ceritanya begitu to the point!

Pokoknya ‘Moonlight Waltz, simpel, ringan, enak, renyah seperti Popcorn, namun menyedihkan.

Bagian ending-nya meski nggak tajem bener, tapi cukup mengesankan. Sempat sih nggak nyangka ada endingnya kayak gini. Di situ juga kamu bisa tahu apa itu ‘Moonlight Waltz’…

Keunggulannya, Fenny mengangkat cerita sederhana dengan gaya penuturan yang berbeda. Ceritanya nggak seribet dibayangkan. Buat kamu penyuka buku yang ringan atau dapat sekali baca dalam sehari atau juga… yang suka dengan buku yang enak dibawa kemana aja, inilah novelnya. Nggak ribet, nggak perlu maksa otak lo ikut mikir namun endingnya seperti Kejutan. Untuk yang mau beli nih buku, coba deh baca dulu sinopsis-nya… ada tuh di gagasmedia.net

Salam Readmore…
Kita bakal ketemu lagi di buku yang lain. Ada rekomendasi buku yang mau dibahas? boleh kok email ke aku, sekarang lagi suka hunting novel dari segala genre!

27 August 2009

Recomand book of August

Setelah membolak-balik sekian situs, setelah membombardir sekian web yang memampang miliaran buku… berikut sejumlah buku yang pernah di rekomendasiin



Judul: Moonligth Waltz
Penulis: Fenny Wong
Penerbit: GagasMedia
***


Judul: Skenario Dunia Hijau dan Cerita-Cerita Lain
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Gramedia
***


Judul: Gorilove
Penulis:
Penerbit: Bukune

Dan yang berhasil aku review entar adalah bukunya Fenny Wong, Moonlight Waltz, terbitan Gagasmedia. Rencananya besok aku postingin. Ditunggu! Situ mau?

20 August 2009

Saat Ramadhan, Saat Menyambut Kota Mati [Ramadhan di Ujung Mataku]



Tak sulit menanyakan apa itu Ramadhan pada beberapa orang, sekalipun anak-anak. Mereka memiliki interprestasi sendiri-sendiri, bahkan beberapa jawaban memperlihatkan perbedaan. Terlepas dari perbedaan itu, jawaban yang begitu umum diketahui yaitu; Ramadhan adalah bulan ke 9 dalam kalender Hijriah, atau lebih umum lagi, adalah bulan dimana kaum muslim wajib menjalankan rukun islam ke 4 yaitu berpuasa. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183:

Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Banyak sekali hal-hal yang identik dengan Ramadhan. Tidak makan-minum, menahan hawa nafsu dan menjauhi segala perkara yang membatalkan puasa. Namun mengungkapkan Ramadhan tak semudah hal-hal indentik itu. Masih ada Beberapa hal yang perlu dijelaskan, tergantung dari mana arah kita memandang. Puasa pada Ramadhan sendiri intinya mengajarkan kita mengendalikan diri, disiplin melakukan ibadah dan merasakan makna Ramadhan.
Tapi lain bagiku, Ramadhan justru menghadirkan arti sendiri. Tentu saja, aku salah satu orang yang setuju dengan pernyataan yang begitu umum dalam kalimat-kalimat di atas. Namun pengalamanku yang tak sekalipun melewatkan Ramadhan di tempat lain memaksaku memiliki sudut pandang berbeda tentang Ramadhan. Ini bukan menyangkut makna nilai Ramadhan atau segala bentuk pencitraan Ramadhan.
Bagiku, Ramadhan adalah saat menyambut kota mati.
Selama ini keluargaku tinggal di salah satu kawasan di daerah Ambon, letaknya nyaris di ujung kota. Tak ada yang spesial dari kawasan kami. Tapi perlu diketahui, kawasan kami dipenuhi pelajar. Hampir seluruh kawasan ini menyediakan kos-kosan bagi pelajar. Berdekatan dengan sebuah Institut Islam Negeri membuat kawasan ini tak hanya sekadar ramai dengan para mahasiswa namun dengan beberapa kos-kosan dalam jumlah banyak. Banyak pendatang dari pulau-pulau sekitar Ambon yang meraih ilmu di kawasan kami. Mereka menempati kos-kosan itu seperti membentuk koloni baru. Meramaikan, memberi warna, mencerahkan daerah kami. Mereka lima kali lipat dari penghuni asli daerah kami.
Tak seperti kota-kota lain atau desa-desa tradisional lainnya yang ketika Ramadhan tiba, banyak sanak saudara datang dari penjuru daerah untuk melewatkan Ramadhan bersama seperti melawat. Di daerah ini, tidak sama sekali. Yang terjadi malah terbalik. Para mahasiswa–yang nyaris melebihi penduduk di sini memilih mudik. Mereka seperti dikomando, ketika seorang mudik, maka beberapa kawanan ikutan latah mudik. Yang makin parah, ada beberapa mahasiswa tersebut percaya, bahwa hal wajib Ramadhan lainnya yaitu melewatkan puasa hari pertama dengan orang tua.
Entah siapa yang menanamkan doktrin itu hingga menjadi tradisi sebagian mahasiswa. Apalagi kampus melonggarkan keinginan–maksudnya kebiasaan tradisi itu. Celakanya hal itu terjadi tiga hari sebelum hari pertama Ramadhan, itupun belum ditambah dengan agenda kampus yang kosong. Makin melonggarkan keadaan tersebut, jadi tidak mengherankan mahasiswa bakal koor mudik bersama meski tak teratur.
Kebiasaan itu berdampak sekali pada daerah kami. Kawasan yang awalnya begitu ramai kini harus menerima kalau daerah kami memang begini aslinya–sunyi dan lengang. Perlahan-lahan jumlah orang yang “berkeliaran” di daerah kami pun semakin memudar. Candaan yang biasanya terdengar dari kos-kosan mahasiswa seperti hilang tertelan angin. Belum lagi hari-hari menjelang Ied Fitri, daerah kami sepadan dengan negeri tak bertuan. Paling menyedihkan saat mengakui kenyataan bahwa kawasan kami persis di kaki gunung, makin memperparah keadaan. Aktifitas nyaris lumpuh. Membayangkan pulau tak berpenghuni sama halnya membayangkan kawasan kami saat Ramadhan. Pengalaman ini membuatku sendiri aneh, bukan keramaian dan kebersamaan yang hadir di depan mata saat Ramadhan tapi kesunyian…
Tak heran kalau Ramadhan bagi kami berarti ditinggal sebagian besar penghuni, dan melewatkan kesunyian selama sebulan, layaknya berdiam di kota mati. Itulah Ramadhan di ujung mataku.
Di balik itu semua ada hal menarik, sungkeman–jabat tangan permintaan maaf kami lakukan jauh sebelum Ied Fitri tiba. Biasanya kami lakukan saat para pemudik balik ke kampung halaman. Mereka berpamitan sembari meminta maaf. Namun saat-saat berada dalam titik kesunyian itu kami merasa lebih tenang beribadah, lebih kusyuk menjalani perintah Allah, bahkan kami sesekali ingin Ramadhan lamanya setahun. Agar kekusyukan tertanam dan berarkar di benak dan jiwa kami meski kesunyian larut berbulan-berbulan.
Aku percaya Allah memiliki cara dasyat bagi kaumnya untuk melewatkan Ramadhan. Mungkin dengan kesunyian daerah kami, kami dapat lebih tenang dan lebih dekat melaksanakan rukun islam yang ke 4 ini. Dekat dengan kesunyian bukan hal mustahil bagi jiwa untuk mengintropeksi diri akan segala dosa yang pernah dilakukan. Manusia terkadang butuh kesunyian untuk merefleksikan segala bentuk perbuatannya di dunia ataupun berkomunikasi dengan Allah SWT sebagai aplikasi ibadah. Seperti Rasulullah saat memilih menyendiri di Gua Hira ketika menerima wahyu.
Ramadhan dan Kesunyian, dua hal paling indah bagi kami. Mereka seakan bergandengan menjadikan kawasan kami seperti Kota Mati yang penuh Rahmat.

18 August 2009

Japanese Nyeleneh #5#

Kerumitan Menggegerkan Otak(-Otak) Kami

Gue menguap dan melanjutkan beberapa langkah dengan menunduk. Pagi benar gue harus tiba menyalami kampus–meski rasanya gue nggak suka sekali pekerjaan sebagai mahasiswa ini–maksud gue datang lebih pagi. Gue rasa, belum genap dua jam gue tidur setelah melewatkan malam terburuk gue bersama Mia. Tadi sempat gue berpikir, bahwa gue bisa rehat sejenak. Ternyata nggak! Nggak bisa. Satu harap yang mungkin paling bisa menyamarkan kelelahan ini; wajah Ayumi, semoga saja–
Gue yakin mata kuliah Basic Economic hari ini pun nggak banyak membuat gue tersenyum. Gue tampak lebih diam dan sesekali mengantuk di dalam ruangan. Mata ini rasanya ingin menutup, apalagi deru AC–yang sekilas mirip suara solo James Blunt dan hawa dinginnya membuat gue ingin pulas dalam tidur. Dosen Basic Ekonomi–Pak Kim menegur gue, karena molor di ruangan.
Pak Kim menjelaskan setumpuk teori. Bosan telinga gue mendengarkan beberapa teori para ahli termasuk, dari Adam Smith dan segala tetek-bengeknya, pusing. Satu, gue hanya ingin satu hal, yaitu gue ingin tidur. Bila perlu dengan dengkuran nyaring.
Terlepas beberapa jam dari kehidupan aneh gue besama Mia seperti keluar dari tahanan. Gue bakal memamfaatkan waktu ini. Nggak gue biarin waktu gue ini terlewati begitu saja. Usai rehat mata kuliah Basic Economic gue beralih keluar–maksud gue ingin pergi menuju fakultas hukum. Gue pingin mencari sosok Gyo. Katanya dia sekampus dengan gue mengambil jurusan hukum seperti yang pernah dikatakannya. Gue makin bergegas.
Langkah-langkah panjang gue melewati tangga besar ketika berada di fakultas hukum lalu menyortir beberapa ruangan. Sejujurnya gue hanya ingin menyapanya, seenggaknya kami bisa kenal lebih dekat lagi seperti semalam, saat gue dan dia di bioskop. Cukup lama gue menyortir beberapa ruangan hingga menjumpainya di sebuah ruang. Ruang terakhir di antara ruang kelas, dan satu bagian ruang administrasi. Gue mengamati dirinya sebentar dari luar. Sesaat keberanian gue menemuinya menciut begitu saja. Gue makin merapat pada dinding, sepintas gue telihat seperti cicak. Menatapnya lekat-lekat, ternyata dia masih mengobrol dengan Fashi, sahabatnya yang juga sempat dikenalkannya.
Gue tahu sudah lebih dari sepuluh menit di sini. Bahkan nggak sekalipun gue menghiraukan beberapa orang yang melintas. Meski mereka bakal menarik kesimpulan kalo gue menguntit, menguping dan bahkan aneh sekalipun, gue nggak peduli. Gue bukan seseorang yang aneh seperti itu. Entah kenapa sebuah skenario begitu saja terencana di otak gue.
Gue berniat bakal menunggunya di kereta saat pulang bareng ke Osaka.

***

“Naiklah…” suara itu seperti berteriak di kuping gue. Tubuh ini terperangkap ke dalam mobil. Gue duduk mengeluh, memandangi lelaki bertopi itu yang tadi mendorong gue masuk ke dalam mobilnya.
Pasti ini sedikit dari banyak ‘kerjaan’ si Mia lagi. Dia menyewa beberapa orang untuk menjemput paksa gue dari kampus. Karena dia tahu gue bakal menghilang beberapa saat. Untuk ukuran dektektif, apapun bisa diterka. Atau ini salah satu orang suruhan Kamici di Bar semalam. Mereka mengetahui keberadaan gue. Gue memberengut sebentar lantas menahan napas.
Gue terlanjur kesal, padahal sedianya gue berencana menunggu Gyo. Gue ingin dirinya, bukan lelaki bertopi nggak jelas ini.
“Siapa, lo.” Terang saja suara itu keluar menentangnya. Gue sudah nggak sabar untuk mencari tahu indentitas lelaki ini.
“Jangan coba-coaba memukulku dari belakang.” Ternyata dia menangkap gelagat gue yang hampir ingin menghantam kepalanya, lewat kaca spion. “Kamu ingin kita mati sia-sia dengan kecelakaan mobil? Masih ada banyak hal yang perlu lo pukul daripada diam-diam ingin membunuhku dari belakang. Bayangin kalo aku menghindar dan membanting setir nggak karuan. Kemungkinan paling besar adalah kita bakal kecelakaan.”
Gue membatalkan niat itu.
Seketika lelaki itu membuka topi. Rambutnya langsung tergerai panjang. Dan tersenyum sinis pada gue. Ampun… Mia. Gue seperti terbangun dari tidur panjang, dan kumis tipis itu? Dia ternyata melepas kumis palsu yang melekat itu. Dasar wanita tua setengah gila. Detektif kurang waras. Atau jangan-jangan dia adalah jenis cewek troublemaker. Darah gue terasa naik ke ubun-ubun. Ingin sekali gue mencincang dirinya sampai halus.
“Lo pikir, kapan gue istirahat? Gue tuh butuh udara segar, butuh ketenangan sesaat dan nggak ingin bersama lo setidaknya beberapa jam ke depan!”
“Gue nggak bodoh.”
Bodoh? Lo memang bodoh dan tolol, rutuk gue dalam hati.
“Apa lo lupa percakapan kita semalam? Kamu itu sudah terlibat ke dalam kerumitan ini.”
“Gue tahu, tapi menghindar beberapa jam kan boleh?”
“Sedikit waktu yang lo butuh, nggak akan gue beri! lo dalam langkah berbahaya saat ini.”
“Omong kosong.” Mata gue berpaling ke arah lain. “Cepat! Gue mau turun di sini saja. Entah dimanapun, asalkan jauh dari lo.”
“Kita bakal bertemu, seseorang.”
Mia kekueh berdebat. Dia merasa dirinya selau benar. Selalu benar dengan langkah yang salah ini. Tanpa mempedulikan kehidupan gue. Dia tuh robot? Dia tuh pelayan yang terus bekerja, dan tanpa sedikitpun merasa kelelahan? Nggak kan? Jujur gue terbelenggu, disuruh dan dimonitor kemanapun.
Gue membatu dengan sendirinya sebab Mia nggak lagi menjawab pertanyaan-pertanyaan gue. Cewek yang jauh terpaut usianya dengan gue ini sudah banyak menyusahkan meski baru dua hari. Gue tahu susah sekali membantah semua pendapat cewek ini, tapi bisakah dia mengerti sekali… saja. Gue butuh lepas barang sejam dua jam darinya. Gue punya kehidupan lain, gue punya Hide–si tambun, punya Gyo–Ayumi gue, memiliki kampus dan dosen-dosen gue. Nggak selamanya hanya Mia.
Akhirnya gue tahu, nggak pantas untuk mengeluh, karena gue yang memulai hal ini.

***

Di tengah perjalanan semua rencana itu berubah. Nggak tahu, tempat gue berpijak ini berada dimana sekarang. Yang bisa gue gambarkan tempat ini sunyi dan sejuk. Di sini hanya ada beberapa pohon besar, rindang dan meneduhkan. Beberapa tempat duduk yang sudah kelihatan reot dan bila kami merebah di atasnya, sudah pasti kursi panjang itu patah karena beberapa bagiannya sudah termakan rayap.
“Apa yang ingin lo lakuin lagi dengan membawa gue ke sini?” cetus gue lembut ketika memperhatikan sekeliling.
“Nggak ada. Lo bilang butuh udara segar? Ketenangan? Gue sudah membawa lo ke tempat terbaik. Di sini lo boleh menghirup udara segar sebanyak yang lo mau.”
Gue memandang wajahnya sekilas. Rupanya wanita itu mengerti apa yang gue butuh.
Gue berjalan menuju akar pohon paling besar. Akar pohon itu mirip ular dan tampak di atas permukaan tanah. Di situ gue terduduk dan merenung. Pikiran gue mengilas balik semuanya. Lantas diam-diam berusaha menyadarkan otak gue dengan kenyataan yang gue hadapi sekarang. Gue adalah orang yang diburu beberapa orang, dan lari bersama Mia–itu saja yang gue tahu saat ini. Tanpa mengetahui jelas tujuan semua yang kami lakukan. Mungkin Mia memiliki alasan yang lebih baik.
Mia hanya melipat tangan dan memperhatikan gue.
Semoga saja cewek ini berubah pikiran lagi… dan gue bisa lebih lama menghirup udara segar.
Gue terpejam dalam… memikirkan beberapa kejadian yang nggak pernah terjadi dalam hidup gue.
“Nggak usah lama mikir…” Mia menoyor gue. Kepala gue tergerak beberapa derajat dan kesal gue mencuat lagi. Gue sudah nggak tahan, saat mata terbuka.
Sekali saja Tuhan, biarkan dia nggak membuat gue dongkol!
Dia mulai menarik lengan gue sehingga gue terseok bangkit dan mengikuti langkahnya ke dalam mobil. Dia melajukan mobil dengan cepat dan melibas jalan hingga gue nggak tahu kemana arah mobil melaju sekarang. Yang gue tahu kami sudah berada di pusat kota, salah satu sudut kota Tokyo, di antara sekian gedung pencakar langit dan menepi di parkiran gedung paling tinggi. Gue mendesah gelisah saat secara otomatis otak gue menerka-nerka kejadian apa yang bakal gue hadapi nantinya.
Sebelum kami, turun dari mobil Mia mengenakan topi tadi dengan melipat rambut. Mia memasang kumis tipisnya tadi–yang gue rasa lebih jelek dari pada kumis palsunya Jojon–pelawak tanah air itu.
“Shit! Lo mau nyamar lagi? Kita bakalan dikejar? ditembak hari ini? Berkali-kali?” Gue meradang menemukannya bertingkah dengan penyamaran.
“Tenanglah, hari ini nggak ada tembakan, nggak ada lari-larian.”
“Gue nggak percaya!”
“Nggak usah cerewet.” Dia menarik gue, hingga gue terkesan mengikutinya.
Kami menuju pintu masuk gedung paling tinggi itu. Gue nggak tahu pasti gedung ini. Ternyata keamanan gedung ini berlapis, tapi tidak untuk kami. Di loby gedung dekat pintu masuk, Mia hanya perlu menunjukan kartu nama. Seorang penjaga mempersilahkan kami. Enteng sekali.
Sebuah lift berhasil kami tumpangi. Mia menekan angka enam pada tombol-tombol di lift. Gue berdebar. Semoga saja seperti janji Mia. Nggak bakalan ada tembakan hari ini. Nggak ada sesuatu yang mengerikan, minimal untuk beberapa hari ke depan, bukan hari ini saja.

***

Kami memasuki ruangan tertutup, seperti lorong. Namun lorong ini jauh dari kesan pengap. Hanya ada satu cahaya penerang yang terang sekali. Gue mengira sebelumnya kalo gedung ini nggak memiliki lorong, namum gue pikir untuk gedung pencakar langit hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Seharusnya gedung ini punya ruangan yang lebih leluasa untuk kami masuki bukan seperti lorong begini.
Semua itu terbantahkan ketika lorong tersebut mentok pada ruangan yang lebih luas. Ruangan itu hampir berbentuk elips dan luas luar biasa. Ini baru bisa dikatakan cocok banget dengan gedung khas Jepang. Ada satu meja kerja yang mengkilap, dibaliknya terletak kursi yang berposisi membelakangi. Gue dapat membaca tulisan di panel besar di dalam ruangan itu, tepat di dinding, meski memakai bahasa Jepang, gue bisa mengerti kalo ini gedung Badan Intelejen Asia.
Badan Intelejen Asia?
Oh, My God! Seserius ini?
Sejurus kemudian kursi tadi berputar–berposisi seperti selayaknya. Kursi itu menghadirkan sesosok lelaki dengan tampang tegas, tua khas Asia namun sepertinya masih menunjukan bahwa dia memiliki kekuatan.
“Kamu telah datang,” sambutnya.
Mia segera mengambil kursi di depan meja itu, dan memerintah gue duduk.
“Seperti janji kamu… apakah dia orang yang bakal dapat menjamin semuanya? Menjamin penyelidikan ini? Membantu semua proses ini berjalan?” sambung lelaki tua itu lagi sembari mendelik gue.
Mia mengangguk.
“That’s right. Kamu memang pintar melakukan hal-hal di luar kesanggupan kami,” pujinya pada Mia.
Gue hanya dapat mendengar pembicaraan mereka namun gue nggak tuli untuk nggak mengerti arah pembicaraan mereka. Obrolan mereka menjurus pada gue dengan bahasa Jepang yang fasih, lantas Mia memperkenalkan gue padanya. Nggak butuh menanyakan namanya, gue sudah bisa tahu bahwa lelaki tua itu adalah Komandan Jeung Azzawa. Dia pria yang paling dihormati di Badan Intelejen Asia ini. Apalagi papan kecil yang nggak kurang dari tiga puluh senti tipis di atas meja kerja mempertegas dirinya dalam sebuah identitas, Jendral Jeung Azzawa, Komandan Badan Intelejen Asia.
“Nggak perlu panjang lebar,” putusnya.
Sesaat semua penerangan padam dan sebuah layar di samping kami terlihat. Pak Komandan bakal menunjukan beberapa slide gambar.
Gambar pertama muncul. Terlihat seseorang pria bule dengan perawakan kusut. Berkaca mata tebal. Kerutan banyak di ujung-ujung mata. Lantas Pak komandan berbicara panjang lebar, “Itu gambar terakhir sebelum profesor Diego meninggal. Dia seorang ahli peneliti teknologi yang berhasil menciptakan sebuah teknologi baru. Maaf, Mia aku baru bisa menceritakannya sekarang. Profesor berhasil menciptakan sebuah alat yang bisa membaca pikiran makhluk hidup, termasuk hewan dan tumbuhan sekalipun.”
Gue terperangah, alat? Alat apa itu? Tanya gue dalam hati. Gue melirik Mia, nggak sedikitpun dia menoleh pada gue.
Slide gambar ke dua muncul. Sebuah alat dengan monitor kecil. Bentuknya kotak, lebih kecil dari pada ukuran ponsel saat ini. Ada dua kabel penghubung di antara ujung-ujung alat itu.
“Itulah alat yang diciptakan profesor Diego. Alat yang bakal membantu science dan pengetahuan manusia. Sayang, profesor belum sempat memberikan nama alat itu. Dua kabel itu berfungi untuk mengambil data di dalam objek makhluk hidup yang diteliti, data itu berupa hal-hal sedang, sudah dan akan dipikirkan objek. Kabel itu nantinya dimasukan ke dalam jaringan kulit objek yang akan diteliti. Sedang monitor berfungsi menjelaskan data dalam bentuk tulisan,” sambung Pak Komandan.
Gue takjub adakah alat seperti itu? Terobosan brilian menurut gue.
Nggak lama gambar ke tiga muncul. Seseorang pria yang berbalut tuxedo, bermata sipit dengan cerutunya yang berasap.
“Kamu pasti tahu, dia adalah Kamici, salah satu mantan ketua sayap kiri Yakuza, yang kini beroperasi untuk pengedaran narkoba jaringan Asia.”
“Aku tahu,” Mia mengangguk. “Dia salah satu target berat polisi saat ini. Namun sampai detik ini pun polisi masih nggak bisa menemukan bukti kalo Kamici adalah pengedar narkoba. Banyak kasus besar yang mengarah padanya, namun begitulah Kamici, dia lihai betul.”
“Dia, orang terakhir yang ditemukan sesaat profesor Diego meninggal di dalam labnya.”
Layar menunjukan gambar-gambar di lab profesor. Gambar-gambar yang memperlihatkan tubuh profesor tergeletak kaku, berikut sosok Kamici yang sempat ada di dekat jenazah profesor. “Foto-foto ini diambil dari beberapa kamera cctv. Sayang kamera itu rusak, sehingga gambarnya banyak yang terpotong-potong. Nggak banyak kejadian yang terekam.”
Pak Komandan memperlihatkan kembali alat itu, kali ini dengan gambar yang lebih jelas. “Profesor menciptakan alat itu hanya dua buah, satu untuk penelitian pemerintah dan satunya lagi dijadikan sebagai duplikat. Namun profesor menyadari banyak ilmuan yang mengincar alat itu. Mereka memiliki sejumlah niat nggak baik. Untunglah profesor nggak bodoh, dia menarik kembali alat itu dari pemerintah dan memusnahkannya. Banyak para ilmuan pemerintah yang mencegah tindakan profesor saat itu. Profesor nggak mau tujuan awal peciptaan alat tersebut disalahgunakan. Sedangkan alat satunya lagi hilang pada hari yang sama saat ditemukan mayat profesor di dalam lab.”
“Aku nggak menyangka bakal sepelik ini,” Mia masih bingung, begitupun yang terjadi dengan gue.
“Kamu pasti punya naluri untuk memperkirakan dalang dari semua ini.”
“Apakah benar semua itu Kamici yang melakukannya?”
“Entahlah, sekarang ini semua bukti yang berada tangan di Badan Intelejen, mengarah padanya.”
Beberapa slide berikutnya memperlihatkan kejadian-kejadian seputar kematian profesor. Gue masih nggak habis pikir dengan kenyataan ini.
“Banyak spekulasi yang terjadi di luar sana. Mereka hanya butuh kebenaran. Dan Badan Intelejen harus menjawabnya…” lelaki tua itu berputar di antara kami.

09 August 2009

B3: D’ Angel


Tittle : D’Angel
Penulis : Luna Torashyngu
Penerbit : Gramedia

Ngomongin teenlit lagi, seru nih. Dunia teen emang so perfect. To the point, Novel D’Angel aku beli sekitar setahun lalu, bulannya aku agak lupa, yang pasti di atas Juli. Kalo nggak salah belinya dua, yang satunya lagi teenlit dengan judul New Age (tapi di sini aku nggak bakal ngebahas New Age, mungkin untuk postingan berikutnya)

Terhormat banget saat aku dapatin nih buku, aku pikir biasanya teenlit ceritanya nggak jauh-jauh dari cinta – masih sama kupikir demikian saat ngebaca nih novel di halaman-halaman pertama. Nyatanya pemahaman itu terbantahkan kemudian, kenapa? Akan aku perjelas di bawah. Karena ada yang pengin aku sampein dulu. Buku ini sebenarnya telah diterbitkan duluan oleh sebuah penerbit teenlit juga yaitu penerbit Cinta – sepupunya Mizan atau Mizan Fantasi dengan judul Sweet Angel # 1: The Pigeon.

Buku ini mengisahkan sebuah cerita sederhana di awal dan rumit di belakang. Why? Anda akan dibawa seolah masuk sebuah cerita dengan musik mellow dan pertengahan sampai akhir anda akan ngerock! Maksud aku, buku ini awalnya mengisahkan warna dunia remaja tapi akan penuh dengan action di pertengahan cerita hingga akhir. Pantaslah bahwa D’Angel tampil dengan gaya yang beda untuk seorang penulis Indonesia. Sebuah novel action remaja? Tentu saja!
Luna Torashyngu mengisahkan dalam buku ini tentang seorang cewek SMA – Fika, dengan segudang kelebihan dan belakangan dia tahu kelebihannya itu karena dia bukan seorang manusia, tapi Geneoid – manusia hasil rekayasa DNA oleh seorang profesor. Kehidupannya berubah terbalik saat merayakan hari jadiannya dengan cowok populer sekolah – Reza, dia diincar oleh geneoid jahat.
Awalnya dia sendiri heran mengapa sampai hidupnya diburu oleh para genoid jahat. Untungnya dia ditemani seorang cowok Los Angel yang membantu Fika mengungkap semua teka-teki dalam hidupnya. Nggak kalah tanggung penulis melibatkan CIA, OPM dalam buku ini. Luar biasa? Tentu saja untuk penulis Indonesia aku akui sebuah terobosan yang menarik, kalo saja penikmat buku di Indonesia seperti di Barat, mungkin buku ini laris manis.
Untuk setting-nya megang banget deh! Setting-nya banyak amat nggak kecuali San Diego-As, Harbour Front-Singapura. Penulisnya sadis, sempat berpikir untuk nelurin buku kayak begini.

Sayangnya, buku ini trilogi, jadi kamu mesti baca lanjutan duanya lagi, D’Angel: Rose dan D’Angel: Princess. Biar bisa mengartikan sebuah tanda tanya dalam mimpi si tokoh utama ini… satu hal lagi dalam teenlit ini kamu jangan bingung saat menemukan sebuah awal paragraf baru yang nyatain ‘satu menit sebelumnya…’ atau sejenisnya karna gue pikir itu agak rancuh dengan alur majunya sih, (itu menurut pribadi gue aja kok… bukan generalisasi!)
Terlepas dari semua itu, harus gue akui, penulisnya luar biasa imajinatif.

Ending yang dipilih penulis cukup hebat, karena bakal memaksa kita tuk baca lanjutan trilogi lainnya.

The last, aku akan beberin keunggulan D’Angel. Pertama teenlit ini termasuk hadir dengan jenis yang super berbeda untuk teenlit yang ditulis oleh seorang penulis Indonesia, sebuah action remaja? Bayangin aja sendiri. Ceritanya menawarkan penuh action khas untuk pembaca, sukses banget! Kedua teenlit ini menggunakan setting beragam hingga nggak kelihatan monoton alias itu-itu melulu. Ketiga bahasa penulis sangat mudah dipahami, nggak seperti tulisan-tulisan Andrea Hirata di Laskar Pelangi-nya, yang super berat, untuk pembaca pemula. Keempat, yang kurasa amat penting, penulis berhasil ngebuat pembaca penasaran, penasaran itu terdiri dari dua hal, satu: apa arti dari mimpi-mimpi Fika (si Tokoh Utama) selama ini, dan yang kedua adalah, bagaimana dengan nasib musuh besarnya, Jendral Rastaji – yang nggak sempat dibunuhnya.

Wuih, buat penggemar buku action, nggak perlu kok jauh-jauh nyari buku sejenis dari penulis luar, cintai tulisan dalam negeri, meski intriknya nggak rumit tapi action-nya megang.

07 August 2009

Japanese Nyeleneh #4#

Akhirnya, D(M)ia membongkar otak gue

Kabut-kabut menyelimuti sepanjang flat hingga nyaris seluruh jalan yang gue tempati di Osaka ini.
Ketukan kamar yang nyaring memaksa gue bangun dari tidur. Ha....… Siapa sih malam-malam begini bertandang… seingat gue, tidur gue tadi siang pun diganggu, mah ini? Gue tampak tergopoh-gopoh saat melebar pintu. Kalo gue punya kekuatan super, udah gue libas nih orang.
“Gue butuh lo…”
Mata ini terbelalak nggak percaya, sebuah sosok dengan tegap berdiri, mengenakan jaket hitam tebal plus topi mendelik gue dengan tajam. Lagaknya seperti ingin menciduk gue…
Tangan kekarnya secepat berkas cahaya menarik pergelangan gue begitu kasar. Gue ketarik, terseret begitu saja. Tanpa peduli kamar gue terbuka atau tertutup, dia memaksa gue hingga melewati lantai dasar. Gue sempat terseok dan nyaris terjungkal sekian kali. Untung kuda-kuda gue kuat. Usai mengusai diri, akhirnya gue bisa juga menghembuskan napas lega.
Keadaan sekitar flat sunyi. Pekat dengan kegelapan. Emang nih orang, kurang ajar bener. Siapapun di dunia ini, nggak pengin sekalipun ditarik kayak kambing dan nggak bisa menikmati malamnya sendiri. Perlu diberikan mata kuliah moral nih.
Sosok itu melepas topinya. Meski agak gelap, gue dapat menangkap garis-garis wajahnya. Gue kini tahu siapa dia. Dia wanita yang tadi siang, yang gue tolong. Nggak Mungkin! Terpaksa gue segera memundurkan langkah. Gue nggak mau berurusan dengan satu hal pun dengan cewek ini. Pasti menyesatkan gue nantinya. Tanpa sadar tangan gue dicekal. Kuat sekali. Rupanya dia lihai benar memperhatikan gelagat gue.
Gue jedah sebentar, menenangkan diri dalam diam. Nggak perlu ada yang ditgueti, ini hanya sebuah kejadian biasa. Dan nggak akan terulang sebuah kejadian seperti siang tadi. Lari, kekejar, tembakan senjata, alah… itu hanya mimpi buruk tadi siang, gue membatin.
“Nggak perlu khawatir, gue hanya butuh lo kok.” Omongannya enteng, seperti nggak pernah terjadi kejadian apapun.
“Buat apa?”
“Nggak usah bertanya sepanik itu.”
“Gimana bisa, lo udah bikin tidur gue nggak nyenyak. Dan ini udah ke dua kalinya. Gue nggak mau bakal terjadi kejadian ini untuk ke tiga kali. Bisa-bisa gue mati karena kekurangan tidur. Masih mending insomnia. Jelas karena penyakit. Mah ini karena lo. Nggak bakal deh. Lo liat sekarang jalanan sunyi, cuman lo doang yang berkeliaran, jangan-jangan lo nggak punya rumah ya? Pengin numpang tidur di flat gue.”
“Jadi cowok nggak usah bawel. Gue tau, nggak lazim berkeliaran di jalanan untuk ukuran kota seindah ini.”
“Gue perlu tau apa yang bakal lo lguein.”
Gue nggak tahu apa yang terjadi dan nggak ingin menduga-duga. Diam-diam dia menggenggam kedua pangkal lengan gue, mendiamkan diri gue layaknya seorang robot, menegak menghadap gue, menatap gue dengan rangkaian indera penglihatannya, tajam. Saat-saat seperti ini, gue ingat kemiripan tingkahnya seperti Hide. Hanya bisa diam dan melototin serial teve, serius dan diam, nggak bakal concern dengan sekeliling. Padahal yang disaksikan film kartun. Doraemon lagi! Dia mulai melepas ikat rambut. Menggoyang-goyang kepala hingga rambutnya melayang kesana-kemari. Dia pikir gue bakal memaafkannya hanya karena dia memperagakan adegan iklan sampo? Nggak akan. Rambutnya terlepas menjuntai ke bawah, gue pikir indah untuk ukuran sampo murahan. Sigap tangannya mulai membuka resleting jaket hingga memperlihatkan sebuah gaun hijau muda, anggun sepertinya. Semoga pemikiran gue benar-benar tepat. Begitupun dengan celana hitam pekat ketat yang membalutinya.
Gue sempat bergidik, dan berpikiran yang bukan-bukan. Untunglah semua spekulasi negatif yang nyaris di pikiran hilang dengan apa yang dikenakannya di balik pakaian serbahitam itu. Lo dapet menduga-duga kalo misalkan nggak ada gaun hijau muda tadi. Gaun hijau muda itu lumayan cantik, begitu berpadu dengan sosok yang memukau kayak dirinya. Perlahan dia memutari tubuh gue, jalannya mirip Miss. Universe lantas menghembuskan napasnya di telinga gue.
“Kita ke Bar…”
“Bar?”
Telinga gue segera berdiri.
“Yup, di sana kita bakal disco bareng…”
“Dengan begini?” tunjuk gue pada pakaian yang gue kenain.
“Nggak lah, dengan seperti ini lo mirip badut di dalam Bar,” komennya lalu meninggalkan gue beberapa langkah.

***

“Apa lo yakin ngasih gue pakaian ini?” Gue melirik sekali lagi baju gue saat di depan Bar. Gue mirip seorang pemain sinetron, meski wajah gue emang terlihat baby-face (walah… bukan, babi-face kali!), dia memberikan sebuah baju lengan pendek berkerah. Sesaat gue perhatikan lagi t-shirt gue, tertampang jelas, tulisan waiter. Pelayan?
“Kamu kelihatan cocok, nggak usah ragu. Lo keren.”
“Keren?”
“Sangat. Setidaknya lo nggak seperti badut.” Tangannya menarik gue dengan cepat. Seperti menarik anak kecil. Untung gue nggak diberi lolipop. Kalo nggak, gue udah nggak ada bedanya dengan anak kecil yang ditarik dan dirayu dengan lolipop.
“Tunggu, nama lo?”
Tercetus sebuah pertanyaan yang entah apa gue lontarin.
“Gue?” tunjuknya pada dirinya sendiri. “Gue, panggil gue Mia.”
Kami memasuki bar. Dari depan pintu, bunyi keras menyambut kami. Nyaring namun berirama. Sinar lampu dengan seribu cahaya berkeliaran di sana-sini. Beberapa orang terlihat asik menikmati musik, menggeleng-geleng kepala seenaknya, berjingkrak, goyang nggak karuan, nggak peduli beberapa orang melihat mereka. Gue mulai senang ternyata Mia mengajak gue ke tempat terbaik seperti ini.
Asoy…
Setengah jam di dalam ruangan surga ini, gue tangkap mata Mia celingak-celinguk. Kami mendapati satu tempat duduk dekat meja pelayan. Seorang pelayan melihat gue dengan tengik. Sepertinya dia mencurigai gue. Berkali-kali Mia mengingatkan agar tetap tenang. Jangan tunjukan perasaan takut atau lainnya. “Lo dan dia sama-sama pelayan di sini. Dia nggak berhak untuk nanya indentitas lo. Kalo kepaksa bilang aja, lo pelayan baru.”
Tindakan bodoh apa yang kini Mia berikan pada gue.
“Please. Lo tahan ini.” Mia menyodorkan gue sebuah kotak mini.
“Apaan…?”
Dia berbisik, “Camcoder mini. Lo terus tahan seperti itu, jangan gerakin tangan lo.” Nyaris hanya sebesar korek api, camcoder itu. Gue terbelalak. Ada camcoder sekecil ini. Alah… Jepang punya segalanya. Untuk urusan tekhnologi, Jepang nomor satu. Barangkali sekecil semut pun bisa dijadikan sebagai kamera. Mia menyuruh gue untuk mempertahankan posisi gue, tangan gue. Boong mana ada kamera ginian, begitu saja pikiran itu masuk menyalip semua pikiran awal gue.
“Tunggu, di sini. Gue bakal kembali.”
Seribu rasa nggak beres, berpadu dengan pikiran menduga-duga bercampur tapi musik di Bar ini menyamarkan perasaan itu. Gue masih memegang korek api itu sambil menggeleng-mendengarkan musik.
Beberapa orang hanya duduk dan mabuk, sementara itu beberapa lelaki bertampang seram memperhatikan korek api gue.
Setengah jam gue mulai merasa jengah, ternyata dari dalam ruangan khusus tepat di lantai atas, dekat tangga, Mia meloncat turun. Langsung saja menjadi pusat perhatian semua orang. Ada kekaguman sesaat dari orang-orang di Bar. Jujur gue takjub. Seseorang berbadan kekar mengacungkan pistol dan menembaknya membabi-buta. Meski amburadul namun bisa gue taksir sasaran tembakan itu menuju Mia. Sesaat semua pengunjung berhamburan, terkadang jeritan cewek mengaum nyaris di setiap sudut Bar, ada juga yang mirip dengan suara nenek sihir. Kalo bukan nenek lampir pasti nenek gerondong tuh. Mereka seperti dikejar trantib di lampu merah Jakarta.
Mia menunduk. Sesaat sebuah tembakan nyaris mengenainya. Semua yang ada di dalam Bar kacau balau. Gue panik luar biasa. Beberapa lelaki seram yang sedari tadi menggerakan matanya ke korek api gue ini langsung berdiri. Mereka melihat gue dengan curiga. Gue bersikap santai namun mereka nggak tahu bahwa gue gawat banget dalam hati. Mia mencekal lengan gue dan berlari keluar. Sesaat Gue dengar tiga tembakan mengarah tubuh kami. Pistol itu berasap dan ganas. Kami menunduk dan membelok pintu keluar. Nggak ada jalan lain. Semua di sini merupakan gedung tinggi, nggak ada lorong. Sekali kita melarikan diri, pasti kita ketembak.
Mia mulai meraih tembok. Dan dengan cepat merangkak naik gedung Bar seperti laba-laba. Gue mengikutinya, meski untuk pertama kali, sebagai cowok gue harus melakukannya. Terpaksa gue lakukan kalo nggak ingin mati konyol.
Kami berhati-hati karena nyaris nggak ada panel yang lebar untuk kami berpijak di tembok Bar. Lelaki tadi bareng beberapa lelaki kekar terlihat sudah berada di Bar. Pistol mereka tetap terancung. Menjulur seperti ular ganas. Untunglah saat mata mereka menjejal ke atas, memperhatikan gedung-gedung termasuk Bar, tubuh kami sudah berada di atas genteng. Gue sempat terjatuh ke bawah, karena sepatu gue terlalu licin digunakan berjalan di genteng. Berapa puluh meter kami sekarang berada dari permukaan tanah? Gue juga nggak tahu. Yang pasti begitu tinggi.
Mia dan gue memperhatikan mereka dari genteng. Mereka terlihat kelimpungan. Ada garis menyesal dari raut-raut mereka. Pria yang paling besar membuang ludah kecewa. Untunglah ide gila Mia memanjat tembok berhasil. Bisa bayangin kalo gue mati hanya karena satu peluru?
Untuk sementara kami bisa menghindar.
Perlahan gue menghembuskan napas lega…

***

Gue membuang pandang sekilas pada jam di pergelangan tangan gue. Ternyata sudah menunjukan pukul tiga pagi. Gue dan Mia memutuskan jalan, menyusuri malam, gue nggak tahu jalan mana yang telah kita lewati. Bahkan dan mungkin lebih jauh dari jarak Bar tadi dengan flat gue. Kami kini memasuki lift dan menyelinap ke sebuah kamar apartemen mewah.
Gue segera merebah di sofa.
“Lo harus ngejelasin semua ini, semua yang terjadi pada gue, lo dan tingkah lo yang di luar kepala,” gue nggak punya cukup kesabaran untuk mengorek semua yang terjadi, hari ini. Hanya menjadi orang bodoh ketika gue hanya diam, tanpa sedikit pun mencari tahu.
“Oke tenanglah.” Ternyata dia mulai luluh karena gue desak. “Gue adalah seorang dektektif, sekaligus anggota agen rahasia negara. Kami menyelediki kasus besar. Ini tentang konspirasi sebuah kematian,” sambungnya.
Mia berlalu ke ruangan lain, sepertinya dia menuju dapur.
“Cerita boong lo, nggak bakal gue telan,” kata gue separoh teriak.
“Lo terlalu keras kepala.” Mia kembali ke ruang tengah lantas memberikan gue segelas teh hangat. “Gue nggak pernah main-main. Yang gue omongin tadi benar adanya.
“Lo udah gila… memasukan gue ke dalam kegiatan ini?”
“Gue juga nggak berencana seperti itu. Ini sudah terlanjur. Lo terlibat di dalamnya karena sempat menolong gue. Mau nggak mau mereka juga bakalan tahu bahwa kamu bagian dari gue. Meski itu nggak benar.”
Gue makin nggak ngerti. “Lalu kenapa tadi lo masuk ke dalam. Ruangan itu, di dalam Bar dan keluar dengan ditembak.”
“Ini ada hubungannya dengan kejadian tadi siang. Tadi siang gue masuk ke ruangan kamici di markasnya, karena dia adalah satu-satunya tersangka pembunuhan professor Diego. Tapi hasilnya gue ketahuan. Pas tadipun begitu gue sebenarnya pengin masuk ke salah satu ruangan Bar itu, tempat dimana biasanya Kamici berada. Dan hasilnya tetap sama, gue ketahuan. Beberapa petugas di dalamnya ternyata mencurigai gue. Padahal gue sempat melewati dua petugas di pintu terakhir. Ternyata keamanannya berlapis.”
“Gue nggak percaya ini…”
“Sudahlah.”
“Gue perlu tahu lebih.”
“Gue tadi terpaksa menyamar dengan menggunakan gaun. Mereka nggak pernah melihat gue menggunakan gaun, karena selama ini pakaian gue tertutup. Gue nggak ingin ketahuan kaki-tangan kamici yang pasti sudah melacak jejak gue. Berjalan masuk dengan lo di dalam Bar itu sedikit tersamarkan karena wajah lo beda banget dengan orang kebanyakan di Osaka ini. Apalagi dengan seorang pelayan. Gue melakukannya karena nggak mau mengambil resiko.”
“Siapa professor Diego?” tanya gue penasaran.
Mia bungkam, sepuluh menit kami dalam kediaman. “Tidurlah gue bakal menjelaskan semuanya nanti. Perlu cukup banyak waktu, untuk semua itu.” Mia pergi dan meninggalkan gue di sofa tanpa menyambung kalimatnya itu. Gue seperti terperangkap. Anjrit! Kenapa kehidupan gue dirubah hanya sehari?
“Ceritain semuanya, ceritain apa adanya. Dan jangan tutupin satu hal kecil pun dari gue.”
Mia menatap sinis.
“Ceritain! Gue beri lo sejuta dollar,” keluh gue kesal.
“Diamlah. Entar lo terima 5 juta dolar dari gue!”
Hus.. jawabannya menyulutkan kedongkolan gue. Ternyata di nggak lebih baik dari siapa pun.