Available on bookstore

Available on bookstore

21 December 2009

B3: Curhat Setan


Karena Berdosa Membuatmu Selalu Bertanya

Tittle : Curhat Setan
Penulis : Fahd Djibran
Penerbit : GagasMedia

Bila aku pergi, kita berada di dunia kita masing-masing. Aku hidup di duniaku, kau hidup di duniamu. Tapi, percayalah, sebenarnya, aku selalu bersama denganmu. Hanya mungkin kita tak melihat bulan yang sama dari balkon yang sama (halaman 5, Pergi—Curhat Setan).
Sebuah curhat yang membuat aku merenung sebanyak apa kesalahanku. Memaksaku untuk merefleksi diri. Aku merasa inilah diriku—dalam curhatan yang nggak lebih dari empat kalimat—yang paling dalam ketika aku berada dalam posisi yang sama, dengan mengungkapkan hal yang serupa untuk orang-orang yang aku cintai bila aku, pergi. Inilah awal ketika aku, merasa yakin bahwa; aku benar-benar jatuh cinta dengan Setan—maksudku Curhat Setan. Kamu bahkan mengeluarkan air mata untuk merenung dan berkata Curhat Setan adalah Anugerah—setidaknya sama sepertiku.

Seperti Fahd Djibran, bahwa curhat adalah seni melepaskan sesuatu yang sebelumnya terkurung dalam “rumah kerang” diri sendiri untuk menemukan temannya diluar sana, akupun demikian, aku akan melepaskan semua hal yang kucurhatkan (ku-reveiw-kan) selama ini persis dengan beberapa fiksi dan nonfiksi yang telah ku-review sebelumnya. Dan kamu menikmati curhat yang mampu menembus kata tulus di sini.

Buku ini, menarik perhatian saat aku membaca beberapa curhatan GagasMedia tentang Curhat Setan, di twitter-nya beberapa minggu lalu hingga penasaran membuatku bermain di website-nya GagasMedia, dan mantap membuatku berkata: “Buku ini adalah Emas bagiku.” Nilai yang kini jauh melambung tinggi.

Huf, saat berhadapan dengan buku ini yang didominasi cover putih, dan aksen kecil merah di tepi-tepi buku yang cenderung identik dengan dunia “Itu” membuat kamu berkata “wah”, ini sebuah ide yang edan benar, hanya cuma desain cover bukunya saja!!!

Di awal, Curhat Setan akan menawarkan sebuah pertanyaan rumit yang dibalut dengan sebuah kisah sederhana: Pertanyaan untuk K. Selanjutnya tulisan dalam curhat ini akan menggiringmu, pada pertanyaan tentang perpisahan, kisah, dilema cinta, keputusasaan, takdir, ironi sekelilingmu, diri, dosa bahkan impian, kesalahan, nafsu, kejujuran, batas dan semua hal yang selama ini nggak terjangkau untuk dipirkirkan. Kejutan lain dalam Curhat Setan yaitu semua hal-hal itu dibalut secara sederhana dengan bahasa curhat yang dalam, mudah dipahami, pendek dan bernilai.

Aku terkesima saat mendapati setiap lembar Curhat Setan, ada makna dalam setiap lembarnya. Lagi-lagi harus aku katakan bahwa aku benar-benar jatuh cinta (lagi) kepada seorang Gita Romadhona, yang kali ini berkolaborasi dengan Windy Ariestanty dan Fahd Djibran, dalam menggabungkan ide kata, dan kalimat yang begitu kusukai di setiap lembar, enak, bermakna, sangat bernilai bahkan hal kedua yang kusukai dalam curhat buku ini karena mampu menyentuh lubuk hati siapa saja (menurutku), adalah curhat (kalimat): Terima kasih dan Maaf, dua kata ajaib yang membuat dunia selalu terasa sebagai semesta yang lebih lapang, danau yang lebih jernih, dan jalan yang lebih jauh. Oh, adakah kolabari paling nikmat dari Mbak Gita. Kalian boleh berkata aku terlalu memuja Gita Romadhona, ya aku nggak berbohong, karena itulah aku, aku memang amat cinta pada buku-buku hasil editor-nya.Terlepas dari itu, pokoknya setiap lembar Curhat Setan terselip makna yang tersirat, kamu mampu menangkap seratus makna atau bahkan lebih dalam lembar-lembar Curhat Setan yang disediakan Fahd Djibran.

Buku ini pun menyediakan kamu sejumput cinta. Cinta yang begitu kuat, ketika dihadapkan ke dalam sebuah kisah yang tidak hanya menggantung pada tokoh Zira dalam Curhat Setan, tetapi juga diriku: Dengan menggunakan sisa-sisa tenaga, aku menulis. Hanya itu yang kubisa. Setidaknya, itu yang kulakukan.

Meski terlalu pendek, buku ini mampu menawarkan kamu tentang sebuah pemikiran, bahwa sekarang kamu telah melakukan yang terbaik atau tidak, ada refleski yang telah kamu lakukan selama ini, dan apakah cinta itu seperti lagu wajib di sekolah dasar dulu. Lagu yang tak meminta kemampuan apa-apa, sederhana. Lagu yang tak meminta dirinya dinyanyikan, itu saja.

Baca Curhat Setan dan Fahd Djibran bakal memberimu sebuah pertanyaan yang akan menuntunmu mencari jawaban, makna kehidupanmu. Sebuah keunggulan buku yang luar biasa. Beda, pendek, lebih dari ringan, namun syarat akan nilai, bahkan jauh lebih dari kata “spesial”. Aku nggak bisa memastikan yang pasti buku ini, “Jauh lebih dari kata Spesial.”

Dengan membaca keseluruhan Curhat Setan, aku mengerti bahwa curhat adalah makna terpenting dari perasaan yang terlalu sukar diungkapkan.

Soal ending? Manis dan menggertarkan, karena Terima kasih dan Maaf membuatku merenung. Aku bahkan nyaris menderu dalam dada kemudian menahan rasa gemeruh yang tiba-tiba menyadari bahwa dua kata yang ditawarkan diakhir Curhat Setan—Terima Kasih dan Maaf—adalah dua kata ajaib.

Hmm… sebuah buku yang sangat luar biasa kan? Curhat Setan, aku jatuh cinta!

Dan semua kelebihan-kelebihan Curhat Setan memaksaku memberikan “Tiga Hal” yang kupelajari dari buku ini. Pertama, keputusasaan adalah momen refleski kita untuk memikirkan semua hal yang telah terlewat, titik jenuh itu membuat kita berpikir… kita sekarang berada dimana. Kedua, curhat sama halnya dengan cinta, didominasi perasaan—perasaan mendalam. Ketiga, bahwa pilihan, menunggu, menyemangati, janji, cinta, harapan, kesalahan, kebenaran, jarak, kisah menjadi pisau untuk kita bertanya, dosakah kita selama ini?


Temukan Curhat Setan dalam dirimu, temukan hal positif lain dalam pemikiranmu.

09 December 2009

Hari Anti Korupsi: Demo atau Aksi Damai

Ngeri juga ngeliat News Trans7: Demo Anti Korupsi di Makassar, banyak bentroknya. Sebuah penyampaian aspirasi yang mestinya berjalan baik, berubah mengerikan.

Sebelumnya gue udah baca headline demo terkait korupsi di twitternya BBC_Indonesia, katanya diperkirakan di Jakarta sendiri kurang lebih 3 juta orang turun aksi. Saat nonton news pun, ternyata di Jakarta aksinya cukup aman. Hal ini berarti mematahkan opini Pak SBY yang udah panik duluan. Gitu dong, kalo demo. Jangan anarkis.

Kalau di kota gue (Ambon) demonya lumayan damai, meski gue nggak setuju mereka menduduki World Piece Gong--sebuah monumen situs dunia yang membanggakan di Kota gue.

Tapi dari semua demo, lebih indah aksi damai deh, misalnya dengan pembagian selebaran anti korupsi, atau semacamnya daripada bakar-bakaran, hina-hinaan, atau membeberkan aib, meski sebenarnya demo dengan anarkis bisa jadi alternatif (tergantung sikon).

07 December 2009

Afirmasi (di antara Kenyataan & Impian)

Thanks bwt temen2 yang slalu mengunjungi blog ini... Kalian award terbaik gue.
Wah, setelah disentil teman2 dng pertanyaan semacam ini, "kapan sih punya karya atw kapan sih nerbitin No...?" karena hobi review buku orang (baik fiksi atw nonfiksi), akhirnya keputusanku untuk menulis, bangkit lagi. Sebenarnya otak gue udah tekor duluan, soalnya naskah gue yg ketolak hmmm... Udah banyak, sejak SMA (klo naskah novel udah sekitar 3, & yang novel terakhir gue kirim pertengahan tahun ini belum kedengeran nasibnya. Tapi gue percaya bakal terbit kok! [ngarep banget!]). Nah, support dari temen2 blogger, anak2 di komunitas MBC, temen2 kuliah, membuatku mulai menulis lagi sebulan ini di samping menekuni hobiku membaca novel, menulis jurnalistik di pelatihan, kuliah dan ngeblog.
Sekarang sih, Alhamdulillah tulisan gue udah masuk bab empat, & semoga akhir January 2010 udah rampung (ngayal bener! Nggak apa2, kan nggak dilarang, bukankah itu juga afirmasi?). Makanya itu buat temen2 yg udah pada nunggu karya gue, sabar ya kalo lama... Semoga dng review2 yg gue buat makin membuat gue pinter dalam merangkai kata, kisah, alur cerita & semuanya di dalam novel project baruku!
Aku juga pengin ngucapin trims banget buat Fenny Wong (penulis novel Moonlight Waltz) yg udah ngajarin bahwa usaha harus dibarengi dengan doa dalam melakukan semua hal. Thank U juga pada orang2 hebat (Christian Simamora &semua kru gagasmedia) yg nyempatin mampir dan komen di blog aku. I love U all

aku udah bikin afirmasi nih, mohon doanya, biar tulisanku cepet selesai,,, biar bisa dikirim. [tapi stuju nggak, gue punya karya?].