Available on bookstore

Available on bookstore

27 March 2011

Waktu Bukan Penipu



____“Haruskah aku mengirim pesan padanya? Oh, harus!” gumulku dalam hati. Bukankah dia masih membalas pesan dan menerima teleponku? Meski kuakui tak sesering dulu. Tapi…, kenapa belakangan ini, dia seolah masabodo akan pesan-pesanku, tak menggubris panggilan selulerku barang semenit atau yang paling parah; menolak semua ajakanku. Apakah dirinya tengah berada di tahap ‘berubah’ dalam simbiosis yang dinamakan hubungan?
Waktu yang kami lalui terlalu banyak dan aku sungguh tidak sanggup.____

***

Narasi di atas sedikit banyak pernah kita dengar, bahkan bisa jadi pernah kita alami sendiri. Ya! Manusia memang selalu berpeluang mengalami kisah narasi demikian, tentu saja dengan kejadian yang berbeda-beda.
Kita berbagi sama, berkasih-kasihan, bahkan kalau ada seribu makna khias yang dapat menggambarkan arti ‘menjalin hubungan’ maka akan bertambah definisi merajut hubungan.
Awalnya, pertemuan, kemudian perkenalan, lalu serentetan siklus hubungan akan terjadi seperti yang telah kauketahui—pendekatan—kemudian seterusnya hingga menuju titik komitmen. Sungguh mendebarkan dan mungkin kurasa menjadi momen-momen cantik super takterlupakan dalam kisah hidup kita.
Berita buruknya, ternyata, hidup kita tak menetap di tahap komitmen saja! Kita terus berpacu jalan melanjutkan siklus hubungan meski suka atau tidak. Mungkin kita akan terus mempertahankan keadaan dalam tahap komitmen tadi, atau malah perlahan semua keadaan di tahap komitmen tadi meluntur perlahan. Pegang atau terlepas!
Barangkali benar apa kalimat, “Waktu selalu membuktikan semua hal” Bukankah waktu selama ini tak pernah menipu? Waktu kerap menunjukan pada diri kita, memperlihatkan secara jelas walau bertahap, bahwa apa yang kita lakukan dan rasakan akan statis atau berubah. Waktu bagai penjelas eksternal terhadap rentetan-rentetan kisah yang kita lakoni di dunia ini.
Dengan memejami mata, merasakan penuh dan dalam pada setiap waktu yang kita lalui, boleh jadi kita sedikit mampu memaknai beberapa hubungan—entah apa pun itu—kita berada dalam keadaan (rasa maupun laku) statis memegang komitmen atau berubah.



*26 Maret 2011—aku ragu padamu karena waktu seolah menunjukan kau tengah berubah. Aku tetap berharap seluruh pikiranku terhadapmu saat ini salah besar dan kau tiba-tiba muncul dan mematahkan keraguanku. Untuk “R”*

9 komentar:

waktu terus berjalan... dan seiring berjalannya waktu, akan membuat manusia berubah... karena itulah hidup...

Iya, waktu akan
Terus berputar tanpa bisa kita tahan..

waktu tentu yang menjawab, asal kita tetap berpedoman pada relnya, ndak ada masalah pastinya... heehhe

Oya mas, aku dilink duuunnnkkk, he
linknya masnya udah saya pajang di linkfren sayah, thanks sebelumnya yaa...

waktu juga yang membuat semua jadi seperti ini, rasakan dan nikmati saja perjalalan waktu dan perjalanan sikap kita terhadap sikap-sikap kita dahulu

Time is running out. Saya lari kemana, waktu lari kemana, pokoknya lari-lari aja deh itu waktu.

Hahaha.. thank's for visiting my psycholoonycal journey.

May you return to read another entry :D

waktu berubah dan kita berubah dalam waktu :)

waktu memang tidak pernah bisa menunggu, tapi kita yang harus mengiringinya, waktu memang bukan penipu tapi kita yang selalu berusaha menipu waktu...
salam kenal...

time is money

eeeeehhh halah ngaco dah komenku

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...