Available on bookstore

Available on bookstore

14 July 2011

Bollywood & Sindrom Chayya-chayya

Jujur belakangan ini, aku lagi 'sedikit suka' film-film India. Entahlah, kenapa tiba-tiba saja aku terserang sindrom Briptu Norman, Sang Chayya-chayya. Atau barangkali mutu bollywood sekarang lebih baik.

Ya, zaman Kuch Kuch Hota Hai kini tentu terganti dengan My Name is Khan. Mulai dari setting, penokohan, alur cerita, hingga konflik. Mungkin yang tak tergantikan adalah pemilihan para tokoh utama. Para produser seperti Karan Johar pun selalu terjebak dalam memainkan aktor-aktris yang itu-itu saja. Oh, atau karena pertimbangan komersial sehingga Karan betah melakukanya. Sharukh Khan, Kajol, Pretty Zinta, Rani M, Saif Ali K selalu jadi target berikut dengan Hirtikh Roshan dan Kareena Kapoor. Mereka tampilan sukses membintangi film-film Karan Johar.

Salah satu, film Karan Johar-Kabhi Alvida Naa Kehna merupakan salah satu film terbaik India yang mampu mendulang sukses-besar dan merajai beberapa penghargaan selain My Name Is Khan. Bahkan Kabhi Alvida Naa Kehna menjadi salah satu inspirasiku menulis Curhat Sang Presiden. Ya, begitulah Bolly, cerita romantis mereka kerap menjadi racun bagi penikmatnya.

Jadi tak salah kalau anggota POLRI si Norman betah berjoget-joget di dalam pos-sekadar menggeser sedikit tugas kerjanya. Bravo untuk Norman. Sedang aku? Mungkin baru belakangan ini terserang sindrom Chayya-chayya.

Bolly oh bolly.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

0 komentar:

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...