Available on bookstore

Available on bookstore

16 September 2011

Bila Pengemis Membentuk Komunitas Online

Kali ini postingan saya, masih berkutat dengan buku best seller Rhenald Kasal, Cracking Zone. Hmmm, lagi-lagi saya 'kepincut' dengan paragraf pembuka pada bagian kedua, yang bukan saja membuat saya mengakui kenyataan isi tulisan, namun mampu membuat saya meledak tawa.

Apakah itu? Saya rasa anda bisa menilai sendiri, setelah saya mengutipnya.

Buku: Cracking Zone (Bagaimana Memetakan Perubahan di Abad 21 & Keluar Dari Perangkap Comfort Zone)
Penulis: Rhenald Kasal
Bagian: 02
Halaman: 64
Paragraf: 1

--Sebuah perubahan belum dapat dikatakan terjadi sebelum ia menyentuh aspek perilaku. Bagian ini menunjukan bahwa perilaku itu adalah riil. Revolusi digital yang berlangsung perlahan-lahan telah mencapai puncaknya di Indonesia pada tahun 2008-2012, ditandai dengan penetrasi mobile digital secara besar-besaran. Ia menjadikan alat komunikasi bersifat personal, sementara catatan pribadi (diary) justru menjadi publik. Ia membentuk generasi yang Asri (asyik sibuk sendiri), cenderung narsis, multi tasking, dan parsitipatif. Mereka memilih bahasa sendiri. Bayangkan apa jadinya bila kaum duafa bertranformasi membentuk pengemis online--

Mungkin sama seperti saya, anda juga akan terbahak, paling tidak tersenyum lalu membayangkan, apa jadinya bila kalimat terakhir benar-benar terjadi.

Sebuah pengakuan diri supernarsis, menurut saya.


-----
Powered by Telkomsel BlackBerry®

5 komentar:

pengemis online? wah jadinya mungkin kayak rumahzakat atau apa ya.. ada domain dan ada rekeningnya.. -.-

@yogyakarta: makasih, sudah mengunjungi blog saya.

@ayu: rumah zakat? Bisa jadi, tapi kalau dijadikan sebagai ajang narsis? Akan banyak orang-orang menyorot label 'pengemis' dalam komunitas online mereka

hahaha, kayaknya tuch pengemis berdasi..:D

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...