Available on bookstore

Available on bookstore

07 August 2012

Curhat Sang Presiden On Air

Nanti bila ada yang sumringah mungkin itu saya atau bahkan sepanjang malam saya akanmenyemat senyum.  Barangkali itu dapat diartikan sederhana dengan kata ‘bahagia’. Kata tersebut mungkin pas atas perasaan yang melanda. Tapi kumohon jangan men-judge apa yang kurasakan dengan istilah ‘terlalu lebay’—bagiku itu istilah yang tak enak di indera pendengaran.

Oke bagaimana tidak, semalam pertama kali novel perdana saya Curhat Sang Presiden on air di radio secara live. Meski waktu agak molor beberapa menit dari jadwal yang ditentukan, akhirnya proses radio talkshow itu berjalan baik selama 60 menit. 

Sebenarnya saya menjadi agak linglung untuk memulai membahasnya.  ‘Dari mana awalnya’ itu menjadi masalah serius, atau barangkali lebih afdol jika saya membocorkan terlebih dahulu lokasi on air. On air perdana Curhat Sang Presiden ini di station RRI Pro 2, frekuensi 98,4 FM Ambon tanggal 6 Agustus 2012 jam 20.00 WIT dalam acara Pro 2 Resensi—sebuah acara yang sebenarnya saya juga baru tahu setelah seminggu dipanggil menjadi narasumber.

Berhubung penyiarnya merupakan adik tingkat saya, jadi talkshow ini serupa dengan menukar curhat-curhat pribadi antar dua manusia. Toh, dalam acara tersebut kecanggungan hampir tidak melanda saya. Hanya saja memang saya akui ada beberapa fokus yang hilang saat menjawab, barangkali faktor umur, hehehehehe.
Acara berlangsung dalam beberapa segmen.  Ya, lumrahlah seperti biasa, saya menyapa pendengar di rumah, dan sang penyiar—sebut dia Yathy (sebuah nama dengan lafalan huruf kebarat-baratan) memperkenalkan curriculum vitae saya. Saat itu saya rasa segmen pertama berjalan amat lama hampir setengah jam. Banyak dialog saya dengan Yathy, menanyakan isi novel Curhat Sang Presiden sendiri, mengungkap makna di balik cover novel, bagaimana perasaan saat menulis novel ini, seberapa gregetnya menulis cerita ini, proses penerbitan dan nama saya juga sempat dibahas. Segmen pertama yang sangat berdebar-debar adalah ketika Yathy menanyakan isi novel ini.

“Novel ini berbicara tentang dua tokoh utama yang sama-sama mengalami kejadian buruk dengan pasangan masing-masing—yang menjalin hubungan maya dan nyata bersama tanpa saling tahu. Mereka bertahan menaklukan perasaan luka dengan cara mereka yang berbalur jalan takdir,” begitulah kira-kira kujawab.
Segmen pertama berakhir lewat sebuah lantunan manis dari Marcell dengan hits remake Takan Terganti. Saat suara Marcell membahana seisi studio, saya melihat Yathy tersipu-sipu. Mungkin dia tahu seberapa dalam lagu ini yang merupakan track song yang saya gunakan dalam novel Curhat Sang Presiden. Bahkan saya juga menemukan beberapa kali senyum plus antusias Yathy dengan ucapan, “Setiap wanita wajib memiliki buku ini (Curhat Sang Presiden).”

Segmen kedua juga berlangsung lama, hampir dua puluh menitan.  Saya ditanyakan inspirasi menulis saya, kebiasaan menulis saya, dan kesibukan saya akhir-akhir ini. Masalah kesibukan saya akhir-akhir ini adalah jawaban paling panjang yang mungkin saja jawab dalam deretan pertanyaan segmen kedua, “Kesibukan saya belakangan ini, karena kebetulan baru selesai wisuda (kuliah) saya mengurusi ijazah dan sedang sibuk-sibuknya menyelesaikan manuskrip novel kedua saya yang judulnya ‘dirahasikan’, kini novelnya masih dalam proses editing. Jika ingin tahu kesibukan saya tentang mengedit novel kedua saya atau sekadar melihat petikan-petikan kalimat dalam novel kedua ini, silahkan dapat bocorannya lewat twitter saya di @elloaris. Di sana hal-ikhwal novel terbaru saya dibahas,” kira-kira begitu jawaban saya.

Kalau tak saya ingat, segmen kedua ini juga ditanyakan tentang apakah saya pernah mengikuti kursus menulis atau memiliki sebuah komunitas buku.  Saya pernah mengikuti kursus menulis gratis dan masalah komunitas buku saya belum mengikuti, sempat sih punya rencana bikin, tapi belum ada kata sepakat dari teman-teman lain. Untuk saat ini saya masih bergabung di sebuah komunitas blog, Arumbai—Blogger Maluku.

Segmen kedua seorang penelpon—namanya, Ari—menanyakan motivasi menulis saya apakah dari diri sendiri atau orang lain. Jujur pertanyaan ini membuat saya jauh menyelam ke tahun-tahun lalu. Pertanyaan ini adalah sebuah cermin yang kini saya gunakan kemana-mana. Awal menulis saya dimulai bahkan bukan dari tekad sendiri, awal memulai proses menulis saya ketika saya terserang influence dari teman SMA saya. Teman saya itu suka menulis kisah cintanya dalam bentuk cerpen, dan kerap menunjukannya kepada saya. Dari situlah saya jadi ikut-ikutan membuat  cerita ‘iseng’, bahkan waktu SMA itu sempat saya mengasah kemampuan menulis lewat sebuah novel dengan judul ‘My Dear Black’ yang gagal terbit. Hehehehe sebuah pengalaman mengesankan bagi saya. Kembali ke pertanyaan inti, untuk masalah motivasi memang saya akui pada awalnya saya terkena influence dari sahabat SMA saya, lalu seiring waktu hingga menginjak kuliah sekitar tahun 2008 saya menyukai dunia tulis-menulis, malah kegiatan ini kujadikan sebagai aktifitas sehari-hari. Ketika orang menjadikan makan sebuah aktifitas paling sering selama sehari, maka saya membalikannya: menulis saya buat lebih dari sekadar makan.

Segmen kedua ditutup dengan lagu yang juga menjadi track song novel Curhat Sang Presiden, sebuah lagu manis dari D’Masiv - Rindu Setengah Mati, lalu kembali saya mendengar Yathy mengatakan novel Curhat Sang Presiden ini wajib dimiliki wanita.

Pada segmen terakhir yang berlangsung cepat, beberapa pertanyaan sederhana muncul seperti kiat-kiat menulis, ringkasan cerita novel, dan pesan untuk pembaca. Dalam segmen ini ada satu penelepon yang menanyakan kendala saat menulis. “Ya, kendala saya paling mood. Saya orangnya agak mood-moodan. Ada saat dimana saya dapat mengerjakan sepuluh halaman narasi dengan hanya sehari, ada juga saat dimana saya hanya bisa menulis satu halaman perhari bahkan tidak sama sekali.”

Menjelang  acara Pro 2 Resensi berakhir, seorang penelpon mendapat satu buah buku Curhat Sang Presiden karena berhasil menjawab pertanyaan yang diberikan Yathy—tentunya yang berhubungan dengan novel Curhat Sang Presiden. Menutup acara saya dimintai mengucapkan terimakasih kepada teman-teman saya yang turut andil dalam menyelesaikan novel ini. Pokoknya banyak yang saya berikan ucapan, termasuk nama sang penyiar. Dia kemudian tersenyum lagi setelah saya mengucapkan namanya.

Kisah on air perdana Curhat Sang Presiden kurang lebih demikian, dulu saya sempat di undang juga untuk on air novel namun kemudian saya tolak dengan alasan sederhana—namun tak harus kita membahasnya disini kan? Kemungkinan ada beberapa bagian yang sempat tak tertulis pada kisah on air ini, begitulah manusia cepat lupa bahkan untuk sebuah kejadian yang belum 24 jam berlangsung. Manusia tak memiliki memori sehebat Tuhan. Sayangnya, saya tak dapat menampilkan semua dialog dan pertanyaan/jawaban secara lengkap—kupikir ini akan memperpanjang tulisan ini. Saya tidak sedang membuat novel bukan?
 Terakhir, thanks tak terhingga untuk sang penyiar Yathy, dan RRI Pro 2 Ambon serta jajarannya, teman-teman yang telah membantu menyukseskan acara ini, Upe Salasa, Rifky Santiago dan Cindy Rery. Big hug buat kalian semua.

31 July 2012

Skripsi dan Sejuta Pengorbanan.

Hmm, akhirnya bisa juga menyapa kembali kawan-kawan melalui diary online ini. Kali ini isinya curhat--maaf!

Dengan kerja keras, akhirnya saya berhasil juga menyelesaikan studi akhir 'skripsi' yang kurang lebih saya tuntaskan selama 10 bulan. Inilah tugas yang paling menyita waktu dan paling menguras dompet. Setelah melalui tahap 3 kali sidang akhirnya skripsi saya diterima (dengan perbaikan tentunya), Yaaaa, meski sidang terakhir saya, diri ini dibantai oleh penguji dua (yang sebenarnya penguji pengganti--lantaran penguji asli sementara mudik). Jujur saya masih agak kesal dengan penguji dua karena sumpah perbaikannya dari beliau kayak 'bangun rumah'--banyak detail yang harus diperhatikan.

Tapi ya Alhamdulillah, skripsi saya "Analisis Teks Media dalam Penggunaan Narasumber Anonim pada Media Cetak Spektrum Maluku" diterima dalam sidang terakhir. Kalau mau dipikir-pikir skripsi ini, yang membuat saya sementara rehat blogging dan mengurangi kegiatan berburu novel. Karena kegiatan ini pula, sehingga selama 10 bulan hanya 1 novel yang sempat saya baca, itupun belum saya tamatkan, sebuah novel Dee Lestari - Partikel. Tak apalah, toh mengerjakan skripsi juga kan harus berhadapan dengan buku, ya walau fiksi dan nonfiksi itu berbeda. Satu lagi, dalam sela-sela pembuatan skripsi saya juga terseok-seok menyelesaikan manuskrip novel kedua.

Usai sidang terakhir saya merasa seperti terbang melayang dari gedung 100 lantai. Beban serasa hilang dari pundak. Pokoknya seperti ketika kita menikmati sejuta red velvet. Segalanya terbayar impas akan banyak pengorbanan selama ini.

Di akhir tulisan ini, saya ingin mengucapkan semilyar terimakasih buat Ketua Jurusan saya yang sederhana itu, teman-teman yang selalu mendengar keluh kesahku dalam menyelesaikan studi dan juga beberapa akun twitter seperti dewan pers, Farid Gaban dan Uni Lubis yang sempat saya ganggu dan special thanks untuk Andreas Harsono yang meluangkan waktu dalam tanya jawab singkat via twitter.

Sumber foto » http://hestiagustini.wordpress.com

24 June 2012

Dari Hati untuk Akademi Berbagi

Sebenarnya butuh menyeret bahu untuk menulis cerita ini. Karena saya masih dilanda capek yang mematikan sebagian tubuh.
Saat kemarin mengisi akademi berbagi kota ambon, jujur tak ada hal lain, yang bisa saya ucapkan, selain terimakasih kepada Bang Bur, Bang Al dan Indam. Karena merekalah yang membuat saya untuk kali pertama mengaku diri di depan umum sebagai penulis. Juga pertemuan saya dengan pengisi acara yang sama Bang Munawir Borut--penulis Sang Hafiz dari Timur.
Dalam acara tersebut diawali dengan perkenalan yang singkat dan paparan saya bersama bang Munawir yang juga tak kalah singkat. Jujur yang menarik perhatian adalah betapa kocaknya peserta dengan joke-joke masing-masing. Dan itu berkali-kali terjadi dalam sesi pertanyaan. Di luar dugaan sebenarnya. Barangkali cara Akademi Berbagi memang begitu sesuai tagline 'berbagi bikin happy'.
Sebenarnya saya pribadi sih, orang yang jarang 'ngomong' di publik dan cenderung diam dalam pertemuan-pertemuan. Dan kemarin merupakan kejadian unpredictable dimana grogi saya dipertaruhkan--antara siap berbagi atau menahan grogi yang sehebat halilintar. Tapi kalau dilihat masalah teknis penerbit jujur saya kurang sebegitu detail memahami, bahkan tak seluas apa yang disampaikan bang Munawir, bahkan dia tahu ISBN, surat kontrak penulis dan segala hal tetek-bengek soal penerbit, bahkan kisah-kisah para penulis. Dan betapa kecilnya saya di hadapan Bang Munawir yang sebegitu luas mengenal penerbit. Saya acungkan jempol buat penulis Sang Hafiz dari Timur ini. Yang saya tahu hanya soal menulis. Titik, tak lebih dari itu. Saya kemarin juga ikut belajar dari bang Munawir sendiri.
Penulis juga manusia, kadang mengalami hal-hal sosial dimana tak sesempurna Malaikat. Kadang saya sendiri berpikir, sudah nyamankah saya menjadi penulis? Atau sudahkah saya menjadi apa yang terlanjur dilabeli orang sebagai 'penulis' pada saya. Beberapa menit mungkin saya akan menemukan jawabannya namun menit berikutnya saya adalah bagian yang hilang dalam dua pertanyaan tadi.
Mungkin seiring waktu jawaban akan menghampiri saya, dan namun gejolak tadi lebih keras. Saya lebih ingin dikenal tanpa label penulis, namun ini dunia nyata, yang menuntut kita menghadapi hal-hal realitas termasuk apa yang saya lakukan di akademi berbagi.
Buat peserta yang hadir---yang sebagian saya lupa namanya, terima kasih atas kehadirannya. Mungkin lain waktu saya akan mengingat nama kalian satu per satu. Atau silahkan rajin-rajinlah menyapa saya via akun twitter @elloaris agar silaturahmi seindah tujuannya. Saya tak sepintar orang pikir dan saya adalah pribadi sederhana yang tak akan pernah mati belajar. Bukankah seharusnya manusia demikian kan?
Bila boleh mencatut kalimat Aan Mansyur--penulis buku, bahwa saya ingin berteman dengan kalian seperti kesetiaan Nobita pada Doraemon, tanpa pernah mempermasalahkan baju biru yang selalu digunakan Doraemon.
Oke, sebagian tulangku hampir teriak minta istirahat. Cukup ya sobat.
Regards
@elloaris

19 June 2012

Jawaban Dikecewakan Orang Lain

'Pernahkah kalian menjalin relasi atau hubungan?' Ini adalah pertanyaan hampir bisa dijawab semua orang, lantaran kita adalah pelaku utama dalam sosial (baca: makhluk sosial). Banyak yang akan terjadi dalam proses hubungan itu, entah bersama rekan kerja, teman atau bahkan pacar--dimana akan ada yang namanya tahap-tahapan seperti pertemuan, perkenalan, relasi hubungan, konflik dan seterusnya seperti yang kita ketahui dalam Ilmu Sosiologi.

Nah, untuk pertanyaan pernakah dikecewakan oleh orang yang merupakan relasi (entah dalam bentuk apa pun), pastilah setiap orang memilikinya. Dalam akun twitter saya @elloaris (www.twitter.com/elloaris) dengan inti pertanyaan sejenis saya mengajukannya. Berikut bentuk kalimat yang saya gunakan dengan menggunakan tagar #shareyuk: "Dear tweeps, apa yang pertama kalian lakukan saat dikecewakan orang lain? #shareyuk"

Beberapa jawaban pun meluncur menuju mention saya, sekian tweet telah saya edit, dengan tagar #DikecewakanOrang, diantaranya:
-#DikecewakanOrang rt @Jagoans: dongkol, tapi kontrol #shareyuk
-#DikecewakanOrang @hujanbulanmei: nangis biasanya,baru mikir knp setelah puas nangis :) #shareyuk
-#DikecewakanOrang @yinyinayiin: Sabar dan senyum ☺ #shareyuk
-#DikecewakanOrang @EnglishClub_5: Dalem hati pasti gondok, tapi tetap tersenyum di depan orang itu. #shareyuk
-#DikecewakanOrang @justncup: Say "GUDBYE" #shareyuk
-#DikecewakanOrang @azismalik: Memaafkannya :) #shareyuk
-#DikecewakanOrang @ChoemAhMadeu: Ngomel dalam hati! :D #shareyuk

Dan beberapa yang tak sempat saya edit dengan pertanyaan yang sama di antaranya,
-@depipipiot: Minta penjelasan
-@febry_w: Doain
-@akudonad: curhat ditwitter sambil kayang
-@Veedeeas: Menghela nafas panjang.
-@Risma_Henecia: marah marah dulu terus abis itu lupa
-@PupungPundens: Termenung. Berpikir knpa bsa gtu.
-@aaditiyo: bunuh..!

Berarti beragam orang, banyak pula hal pertama yang dilakukan bila dikecewakan orang lain. Intinya adalah jangan memupuk dendam. Tetaplah berbuat baik kepada orang lain (termasuk dia yang mengecewakan kita). Tuhan tahu mana orang-orang yang tepat di samping kita. Percayalah.

Best Regards,
@elloaris

29 March 2012

Tips Menjaga Mood Menulis

Kadang sulit menjaga mood. Parahnya ketika tulisan telah sampai di cerita konflik yang penting. Kita hadapkan untuk terus menulis atau berdamai dengan mood yang berubah-ubah.

Mood seringkali seperti musim hujan—tak terprediksi.

Dear sahabat blogger, saya pernah mengalami masalah dengan mood saat sedang dalam sebuah cerita yang penting penulisan fiksi.

Oke, di bawah ini tips yang mungkin dan barangkali cocok untuk menjaga mood saat menulis;
1. Perbiasakan menenangkan pikiran sebelum menulis. Tarik napas buang perlahan. Lakukan beberapa kali. Merileks dengan pikiran yang tenang.
2. Bagi yang suka musik dapat mendengarkan lagu yang disukai selama menulis, agar tetap semangat.
3. Fokus menulis, dalam artian pikiran tak terganggu dengan pekerjaan lain—misalnya tak mengingat suatu pekerjaan yang anda lakukan setelah menulis seperti mandi, jemput pacar, ke mall, nonton bioskop, dll.
4. Pilihlah waktu-waktu terbaik dimana anda merasa itulah timing yang pas dalam menulis. Ini membantu agar kualitas tulisanmu menjadi bagus. Tak baik hampir setiap waktu dihabiskan tuk menulis.
5. Upayakan untuk selalu mencari lokasi/spot menarik sebagai tempat menulis, jika dibutuhkan.
6. Jangan sekali-kali menulis dalam keadaan lelah, jika itu tak dapat dihindari maka selalu tuk nyamankan pikiran sebelum menulis.

Barangkali demikian tips singkat 'menjaga mood menulis' yang bisa saya bagikan.

—————
Salam,
@elloaris

25 February 2012

Sajak Malam

Entah apa yang kemudian langsung membuatku jadi candu terhadap sajak. Mungkin aku terserang penyakit sajak?--entahlah. Namun demikian membuatku nyaman, lalu tersadar dalam diri--mungkin seperti mereka orang-orang hebat yang selalu tertawa penuh makna dengan mengatakan 'aku seperti terlahir kembali' setelah bersajak.

Awalnya bermain-main. Lalu menjadi keseringan hingga seperti konsumsi makan malam yang mustahil kutinggalkan. Sajak di tengah malam rupanya menggodaku, berkali-kali dan itu terlalu sering. Aku jadi ketagihan.

Kalian tahu sajak kan? Itulah yang memenuhi linikala ku (@elloaris) hampir setiap malam. Di sana kutuangkan rasa, cinta, warna dengan kata apa saja yang kurasa merefleksikan isi pikiran dan perasaan.

Maka kini aku mencintai diriku sebagai Mr. SajakMalam, meski demikian agak berlebihan.

--

Candu? Itu bukan negatif bagiku. Itu serupa lolipop di saat usaiku tujuh tahun. Demikian itu juga kusebut cinta dalam dunia merah jambu ~ Ello Aristhosiyoga

17 January 2012

Dilamun Rindu

Aku bernyanyi
Di kala malam datang, hujan melebur lewat atap berdenting
Di kala malam menari, udara berputar dan membentuk halimun

Aku kegigilan
Saat kau merampas kedekatan kita dan pergi sejenak
Saat kau bilang sakit dalam badanmu dan lupa mengatakan aku penyembuhmu

Aku dilanda mau
Saat rindu mencekam dan kau tak mampu mengobati
Saat aku membutuhkan dan kau lari untuk waktu yang tak dapat kita prediksi

Aku merasa bangga menulis ini dan dilamun hati yang menggebu ketika kau tak di sisi. Kita adalah bagian yang tak terdefinisi, terlacak, teradar seperti pahlawan yang bergerilya.

--
Puisi untuk cinta