Available on bookstore

Available on bookstore

24 June 2012

Dari Hati untuk Akademi Berbagi

Sebenarnya butuh menyeret bahu untuk menulis cerita ini. Karena saya masih dilanda capek yang mematikan sebagian tubuh.
Saat kemarin mengisi akademi berbagi kota ambon, jujur tak ada hal lain, yang bisa saya ucapkan, selain terimakasih kepada Bang Bur, Bang Al dan Indam. Karena merekalah yang membuat saya untuk kali pertama mengaku diri di depan umum sebagai penulis. Juga pertemuan saya dengan pengisi acara yang sama Bang Munawir Borut--penulis Sang Hafiz dari Timur.
Dalam acara tersebut diawali dengan perkenalan yang singkat dan paparan saya bersama bang Munawir yang juga tak kalah singkat. Jujur yang menarik perhatian adalah betapa kocaknya peserta dengan joke-joke masing-masing. Dan itu berkali-kali terjadi dalam sesi pertanyaan. Di luar dugaan sebenarnya. Barangkali cara Akademi Berbagi memang begitu sesuai tagline 'berbagi bikin happy'.
Sebenarnya saya pribadi sih, orang yang jarang 'ngomong' di publik dan cenderung diam dalam pertemuan-pertemuan. Dan kemarin merupakan kejadian unpredictable dimana grogi saya dipertaruhkan--antara siap berbagi atau menahan grogi yang sehebat halilintar. Tapi kalau dilihat masalah teknis penerbit jujur saya kurang sebegitu detail memahami, bahkan tak seluas apa yang disampaikan bang Munawir, bahkan dia tahu ISBN, surat kontrak penulis dan segala hal tetek-bengek soal penerbit, bahkan kisah-kisah para penulis. Dan betapa kecilnya saya di hadapan Bang Munawir yang sebegitu luas mengenal penerbit. Saya acungkan jempol buat penulis Sang Hafiz dari Timur ini. Yang saya tahu hanya soal menulis. Titik, tak lebih dari itu. Saya kemarin juga ikut belajar dari bang Munawir sendiri.
Penulis juga manusia, kadang mengalami hal-hal sosial dimana tak sesempurna Malaikat. Kadang saya sendiri berpikir, sudah nyamankah saya menjadi penulis? Atau sudahkah saya menjadi apa yang terlanjur dilabeli orang sebagai 'penulis' pada saya. Beberapa menit mungkin saya akan menemukan jawabannya namun menit berikutnya saya adalah bagian yang hilang dalam dua pertanyaan tadi.
Mungkin seiring waktu jawaban akan menghampiri saya, dan namun gejolak tadi lebih keras. Saya lebih ingin dikenal tanpa label penulis, namun ini dunia nyata, yang menuntut kita menghadapi hal-hal realitas termasuk apa yang saya lakukan di akademi berbagi.
Buat peserta yang hadir---yang sebagian saya lupa namanya, terima kasih atas kehadirannya. Mungkin lain waktu saya akan mengingat nama kalian satu per satu. Atau silahkan rajin-rajinlah menyapa saya via akun twitter @elloaris agar silaturahmi seindah tujuannya. Saya tak sepintar orang pikir dan saya adalah pribadi sederhana yang tak akan pernah mati belajar. Bukankah seharusnya manusia demikian kan?
Bila boleh mencatut kalimat Aan Mansyur--penulis buku, bahwa saya ingin berteman dengan kalian seperti kesetiaan Nobita pada Doraemon, tanpa pernah mempermasalahkan baju biru yang selalu digunakan Doraemon.
Oke, sebagian tulangku hampir teriak minta istirahat. Cukup ya sobat.
Regards
@elloaris

14 komentar:

wah tak hanya militer dan Fantasy, ternyata Berbagi juga ada akademinya. semoga mbah dukun bisa sekolah akademi berbagi. keep posting gan

makasih bang artikelnya menarik
salam kenal
aneka rupa

Ikut menyimak artikelnya gan :-)

Salam,

@mbah dukun: iya dong berbagi juga ada akademinya.

thanks for the share...nice story

Cerita yang menarik dan berkesan pastinya.

Akademi berbagi? Istilah keren :-)

Salam,

sukses buat blog dan thanks atas infonya sob.

KUNJUNGAN BALIK GAN, SAMBIL BACA-BACA POSTING YANG KEREN-KEREN DI BLOG AGAN,.. MATUR SUWUN GAN,...

Salam Go Blog dari Mahasiswa Go Blog Mas Bro

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...