Available on bookstore

Available on bookstore

03 December 2016

Film Review Mohenjo Daro | Kapoor & Sons


Film: Mohenjo Daro
Cast: Hrithik Roshan, Pooja Hedge
Directed: Ashutosh Gowariker


Kali ini aku mau nge-post salah satu film Hindi yang diperankan oleh Hrithik Roshan. Judulnya Mohenjo Daro. Awalnya kepengin nonton film ini karena cast-nya Hrithik. Jujur awal nonton aku lumayan exciting soalnya setting-nya masa lalu—berlatar belakang kerajaan.

Tapi e tapi, setelah setengah jam menonton lumayan bikin kecewa sih, di luar ekspektasi. Jalan cerita film ini bermula dari Sarman (Hrithik Roshan) yang hijrah dari desa Amri ke kota Mohenjo Daro. Sebagai pedagang dia melihat banyak ketidakadilan yang dibuat oleh raja di kota Mohenjo Daro. Di sini pula dia terlibat cinta dengan seorang gadis bernama Chaani (Pooja Hedge). Chaani sendiri merupakan anak pendeta yang dijodohkan dengan Moonja (pangeran Mohenjo Daro).

Untuk ukuran film epik, Mohenjo Daro bagiku kurang gereget. Kisah kepahlawan yang diangkat kurang terasa. Harusnya ada action-nya bikin penonton merasa film ini wajib ditonton. Tapi yang aku salut adalah setting-nya yang memang luar bisa keren.

Untuk rate aku kasih nilai 2,4 dari 5 bintang untuk film ini. Maaf ya, buat penggemar Hrithik Roshan.

Film: Kapoor & Sons
Cast: Rishi Kapoor, Sidharth Malhotra, Fawad Khan, Alia Bhatt
Directed: Shakun Batra

Nah untuk film Kapoor & Sons lumayan baguslah menurut aku. Film yang ber-genre drama komedi ini cukup membuat kita mengerti arti keluarga. Bahkan lebih dari itu Kapoor & Sons secara tidak langsung mengajarkan penonton untuk bagaimana menghargai orang-orang yang tinggal seatap. Film ini diperankan oleh tiga pemeran bollywood muda; Sidharth Malhotra, Fawad Khan, Alia Bhatt.

Kapoor & Sons dimulai ketika dua kakak beradik Arjun (Sidharth Malhotra) dan Rahul (Fawad Khan) yang harus kembali ke India lantaran kakek mereka sakit. Ternyata sekembalinya mereka, Arjun dan Rahul mendapati kenyataan kalau orangtua mereka sudah pisah ranjang. Masalah semakin pelik ketika muncul Tia Malik (Alia Bhatt), yang menjadi sumber masalah cinta antara Arjun dan Rahul. Untuk konflik keluarga cerita Kapoor & Sons lumayan bagus. Konflik-konflik itu dimulai dari Rahul yang mencuri ide cerita Arjun untuk novel best seller-nya, pengakuan Rahul menjadi seorang gay dan perselingkuhan ayahnya dengan musuh istrinya.

Jujur yang aku suka dalam film ini adalah, bagaimana sang penulis cerita meramu konflik yang segitu banyak namun dalam visual digambarkan sangat sederhana oleh sang sutradara. Musiknya juga lumayan enak sepanjang film. Dan satu lagi adegan yang aku suka adalah adegan dimana kakek mereka (Rishi Kapoor) yang selalu pura-pura meninggal ketika merasa diabaikan.

Buat kamu yang mungkin ingin memilih film keluarga, kayaknya Kapoor & Sons bisa menjadi alternatif untuk kamu. Untuk penilaian aku kasih 2,9 dari 5 bintang untuk film ini.

28 October 2016

Amnesia di Wattpad

Hei, sahabat blogger, kali ini aku mau nge-post soal cerita aku di wattpad, judulnya Amnesia. Tapi sebelumnya mau cerita dulu soal awal kenal wattpad.
Sebenarnya sih aku nggak sengaja kenal wattpad, pas cuti kerja kemarin awal Oktober. Waktu itu lagi proses penyembuhan sih, soalnya lagi sakit. Main-main twitter-lah aku, eh nggak sengaja baca timeline salah satu penerbit yang nge-post novel hasil jutaan pembaca di wattpad. Penasaran, akhirnya aku googling. Ternyata e ternyata, wattpad ini semacam perpustakaan dimana kita bisa membaca banyak judul fiksi dan nonfiksi, sekaligus bisa nulis buku kita di sini dan dibaca banyak orang.
Aku sih termasuk orang yang telat mengetahui wattpad. Padahal aplikasi ini sudah ada kapan taon di playstore! Nah, buat yang ingin tahu tentang wattpad silakan baca via wikipedia ya?
Nah, di wattpad sendiri aku menulis cerita berjudul “Amnesia”. Yang ingin tahu sinopsisnya boleh dong ya aku post di sini:


Suatu masa, saat melupakan menjadi takdir yang tak kau sukai
***
Adil tak pernah tahu, bahwa cinta akan menyapanya secepat itu. Tapi yang dia yakini, bahwa perempuan bernama Lintang bukanlah belahan jiwanya. Ayesha-lah wanita yang dia tunggu. Sayang, ketika tragedi kecelakaan menghilangkan ingatannya, Lintang menjadi sosok dewi yang ingin dia dinikahi.
Tapi apa daya, cinta selalu menemukan rumahnya untuk pulang. Dan hati selalu tahu, rasa manakah yang harus dipercaya. Adil menjadi dilema setelah ingatannya kembali. Siapakah yang akan dia pilih. Ayesha atau Lintang. Demi nama takdir, Adil bersumpah, tak akan pernah jatuh cinta lagi.

Untuk detail ceritanya, kamu bisa baca-baca via wattpad, sekaligus follow akun saya @elloaris

Regards,
@elloaris

20 October 2016

Film Review Singkat Everything About Her & Dishoom


Film: Everything About Her
Cast: Vilma Santos, Angel Locsin, Xian Lim
Directed: Joyce E. Bernal

Nah, kali ini aku pengin cerita dikit tentang film Everything About Her. Awalnya sih gak sengaja browsing-browsing film yang ingin ditonton. Waktu itu penginnya sih nonton film Thailand. Eh akhirnya pindah haluan ke film Filipina. Trus nemu film ini, yang katanya masuk list number #2 high grossing tahun ini. Trus lihat trailernya, eh kepincut.
Film ini sendiri bercerita tentang kesuksesan seorang wanita yang memimpin sebuah perusahaan. Saat berada di atas, dia divonis dokter mengidap kanker. Wanita sukses ini diperankan Vilma Santos (Vivian Rabaya). Dokter akhirnya menyarankan agar dia didampingi suster pribadi yang siap menjaganya 24 jam. Suster ini diperankan oleh Angel Locsin (Jayca Domingo)—gadis sederhana yang butuh uang. Film ini sendiri ber-genre drama komedi.
Untuk komedi filmnya cukup memuaskan, tapi masih kurang. Yang paling jempol tuh karakter Vivian yang keras harus bertabrakan dengan karakter Jayca yang tidak mau tahu. Hubungan pasien dan suster ini benar-benar membuat kamu geregetan.
Segalanya makin rumit, ketika anak Vivian yang diperankan oleh Xian Lim (Albert), datang sebagai partner bisnis diperusahaan ibunya sendiri. Vivian yang keras kepala dan merasa paling di atas harus melawan keegoisan ketika menghadapi Albert. Nah, uniknya Jayca jatuh cinta kepada Albert secara perlahan, saking sering bertemunya.
Film ini sendiri memberikan kita satu pelajaran penting, bahwa kesuksesan tak akan pernah bisa membeli kebahagiaan. Hubungan ibu dan anak pun diceritakan cukup baik dengan masalah-masalah mereka.
Untuk rate, aku kasih nilai 2,5 dari 5 bintang. Soalnya filmnya sih sendiri tidak begitu membuatku jatuh cinta, meski ending-nya dikit bikin mewek. Keseluruhan cerita mirip FTV-FTV Indonesia.

Film: Dishoom
Cast: John Abraham, Varun Dhawan, Jacquline Fernandez
Directed: Rohit Dhawan

Nah film Dishom ini, baru aku tonton semalam. Filmya lucu, bikin ngakak. Aslinya sih film ini ber-genre action-adventure tapi diselipin komedi kayaknya. Dishoom sendiri diperankan oleh John Abraham yang memerankan tokoh Kabir Shergill—seorang anggota polisi. Misinya yaitu mencari jejak Viraj Sharma—seorang atlet kriket yang diculik.
Dalam misinya Kabir dibantu oleh Varun Dhawan yang memerankan tokoh Junaid Ansari, dan seorang gadis pencuri yang diperankan Jacquline Fernandez (Ishika).
Dishoom sendiri ber-setting di Dubai—dan gilaaak view-nya asik. Sayang aku masih keganggu dengan peran Varun Dhawan. Jujur dia gak cocok memerankan lelaki yang agak “bodoh” dengan badan sekekar itu. Ini mirip dengan perannya di film Dilwale. Tapi yang bikin senang tuh adanya Jacquline yang berpartisipasi dalam film ini, meski porsinya sedikit tapi aku cukup puas. Jacquline sendiri mencuri perhatian aku saat dia main film Kick bareng Salman Khan, dan makin ke sini, makin banyak film yang dia perankan.
Dishoom sendiri beralur campuran, maju + mundur. Jadi kamu harus memperhatikan detailnya. Dan kurasa film ini lebih bagus dari film Fan milik Shahrukh Khan yang rilis April lalu. Untuk rate aku beri 2,9 dari 5 bintang.

02 October 2016

Secuil tentang Film Neerja, Train to Busan, Sultan




Hei, ketemu lagi..., kita! Sebenarnya aku nggak tahu mau bikin apa, jadinya aku memilih nge-blog. Aku memang lagi cuti dari kantor 10 hari, dikarenakan kesehatanku memang memburuk sebulan lebih terakhir ini. Bayangin, selama sebulan lebih aku sakitnya 3 kali, dengan sakit yang sama, dan jedah sembuhnya hanya seminggu. Ya, demi masa penyembuhan, aku memutuskan rehat dari aktifitas kantor, meski sejujurnya ketika mengetik tulisan ini, kesehatan aku belum pulih 100%.


Nah, selama sakit, aku menonton 3 film berbeda. Dimulai dari Neerja. Neerja adalah film Hindi yang diangkat dari kisah nyata penyelamatan yang dilakukan oleh Neerja Bhanot, seorang pramugari cantik  pesawat Pan Nam Airways Flight 73 dalam penerbangan dari Mumbai ke Franfkrut, Jerman, yang dibajak sejumlah teroris ketika sampai di Karachi, Pakistan. Filmnya menurutku beda dengan Hindi-Hindi lain, bikin kamu merinding, bikin emosi, dan pastinya alurnya bikin kamu tegang. Apalagi pas adegan dimana beberapa pramugari harus menyembunyikan paspor Amerika. Kesadisan para teroris kadang membuat kamu jadi kesal sendiri, tapi apa daya, kamu adalah penonton yang hanya bisa menyaksikan tanpa bisa berbuat apa-apa. Tapi entah kenapa saat menonton Neerja, aku mendadak merasa menjadi salah satu penumpang Pan Nam Airways, dengan segala ketakutan mereka. Untuk penilaian kurasa 4,5 bintang adalah rate yang pas untuk keseluruhan film ini. Film ini dibintangi oleh: Sonam Kapoor, Shabana Azmi dan Shekhar Ravjiani.

Sementara untuk film kedua yang aku tonton adalah, Train to Busan. Film Korea, ini, bergenre zombie action thriller. Cerita awalnya cukup sederhana—tentang seorang ayah yang mengantar anaknya menuju Busan demi bertemu ibu kandungnya. Sayang saat perjalanan, sebuah wabah terjadi. Wabah itu merubah manusia yang terinfeksi menjadi zombie yang menyeramkan. Dalam perjalanan inilah, sang Ayah benar-benar menjadi pahlawan, dia melakukan segala hal demi melindungi anaknya dari zombie yang mengancam. Tegang, iyah. Sedih, lumayan, sebab kamu mungkin sudah menonton banyak film tentang seorang ayah yang berjuang demi anaknya. Namun Train to Busan menghadirkan kisah lain tentang ayah dan pengorbanannya, dengan cara yang tak biasa. Film ini diperankan oleh aktor papan atas Korea Gong Yoo, Ma Dong-seok dan Jung Yu-mi. Untuk rate aku kasih 3,2 bintang untuk film ini.

Dan yang terakhir, film yang kutonton adalah Sultan. Film ini bercerita tentang pasangan atlet gulat yang sama-sama berjuang demi prestasi. Sayangnya Sultan—sang tokoh utama, mengorbankan keluarganya demi prestasi dan pujian orang-orang. Bagian paling kusuka dalam film ini, adalah kegigihan Sultan demi membangun Bank Darah, sampai akhirnya ia mempertaruhkan nyawa demi mewujudkannya. Bagiku jujur, film ini tidak terlalu istimewa, tapi anehnya film ini menjadi salah satu film dengan highest-grossing all the time di India, bersanding dengan film PK, Dilwale, Baahubali, Chennai Express dan 3 Idiots. Film ini dibintangi Salman Khan dan Anushka Sharma. Untuk rate, aku kasih 2,7 dari 5 bintang. Maaf ya buat penggemar Salman Khan.

Yang pasti, dari film-film ini, ada satu benang merah yang sama, yaitu kepahlawanan dan perjuangan. Neerja menjadi pahlawan dan berjuang untuk penumpang Pan Nam. Sementara tokoh sang Ayah dalam Train to Busan menjadi pahlawan dan berjuang untuk anak dan penumpang kereta. Sementara Sultan menjadi pahlawan, sekaligus pejuang untuk istri dan anak mereka yang telah tiada. Tapi, dari kegitanya, aku recommend film Neerja untuk kamu tonton.

***
Nah film yang sudah masuk waiting list dan pengin aku tonton selanjutnya adalah Everything About Her dan Barcelona: a Love Untold. 2 film dari Filipina yang katanya sedang happening di sana. Dan semoga dua film ini bukanlah film yang kutonton saat aku sakit ke 4 dan sakit yang ke 5. Doain aku biar cepat sembuh yaaaa!

See you next post!

05 July 2016

Selamat Idul Fitri 1437 Hijriah





Selamat Idul Fitri 1437 Hijriah, 1 Syawal 1437 Hijriah

Kehidupan adalah pohon yang kau tanam, air dan unsur hara (bisa jadi) amal dan perbuatan. Tinggal memilih, kau ingin berbuah dan bersemi di musim mana? Semoga di lebaran ini, syawal adalah waktu yang baik untuk memanen hasilnya. 

Buat teman-teman pengunjung blog ini:
Mohon maaf, jika ada salah-salah kata atau perbuatan saya, yang sengaja maupun tak sengaja.
Mudah-mudahan, kita semua bisa menjadi orang-orang tegar yang bisa mudah memaafkan orang lain

20 February 2016

Jasa Book Reviewer

Hai teman-teman penulis, yang sudah menerbitkan buku atau novel—yang mayor maupun indi, aku mengadakan jasa review buku, dengan tajuk “Book Reviewer”. Kebetulan memang aku senang me-review buku-buku penulis tanah air dalam #BilikBukaBuku yang sering aku posting ke dalam blog ini.
Buat teman-teman yang pengin, silakan kirim bukumu yang sudah terbit ke:

Jln. Tarmidzi Taher – Lrg. Aspun,
Kebun Cengkeh, Batu merah Atas
Ambon, 97128
Tlp. 081267605238
Atas nama: Ello Aris

Ingin tanya-tanya lebih lanjut, langsung aja ke twitter aku ya di @elloaris. Hasil review-nya juga nanti aku posting di twitter, facebook dan juga instagram. Ditunggu ya, teman-teman!

Salam,
Ello Aris

13 February 2016

Film Review: Tamasha

Film: Tamasha
Cast: Ranbir Kapoor, Deepika Padukone
Directed: Imtiaz Ali

Yeay, kali ini mau nge-post lagi salah satu film Hindi. Dan filmnya ini baru aku nonton sekitar 3 hari lalu. Judulnya Tamasha. Film ini direkomendasikan oleh Yathy, teman siaran aku. Dari trailer-nya di youtube, kelihatan menarik, tapi benarkah demikian? Let’s kita review saja.

Tamasha sendiri diperankan dua mega bintang Bollywood, Ranbir Kapoor dan Deepika Padukone. Di sini Ranbir Kapoor berperan sebagai Ved Vardhan Sahni, sementara Deepika Padukone berperan sebagai Tara Maheswari. Cerita ini, dimulai dari Ved kecil (yang diperankan Yas Sehgal) yang suka sekali dengan dongeng. Saking tergila-gilanya, Ved bahkan senantiasa membayar seorang bapak tua untuk mendongeng apa saja, agar dia bisa puas. Dari sinilah terbentuk kepribadian Ranbir yang benar-benar di luar pikiran anak-anak biasa. Penuh imajinatif, gaya bicara yang blakblakkan, serta bertingkah seperti pemain opera.

Sekian tahun kemudian, ketika dewasa, saat liburan ke Corsica (Prancis), Ved tak sengaja bertemu Tara. Saat itu Tara harus menelepon ke India karena paspor dan visanya hilang. Ved memberikan bantuan kepada Tara. Uniknya mereka berkenalan dengan nama lain. Ved mengaku namanya Don, dan Tara mengaku nama Mona Darling. Dari perkenalan itu, mereka merasa klop, apalagi Ved benar-benar pria yang penuh imajinatif, spontan, tahu banyak hal tentang dongeng, cerita, dan hikayat. Sifatnya yang seperti pemain opera membuat Tara jatuh hati.

Sayang, setelah menghabiskan waktu bersama, keduanya harus berpisah. Tara harus kembali ke Kalkota. Setelah beberapa tahun, Tara pindah ke Delhi. Di Delhi dia bertemu dengan Ved. Tapi kenyataan buruk menimpa Tara. Ved yang selama ini dikenal Tara di Corsica, berbeda dengan Ved yang ada di Delhi. Ved yang sekarang adalah pria kantoran biasa, kesehariannya datar, tidak punya rasa humor dan benar-benar garing. Tidak seperti apa yang ditemui di Corsica. Hal inilah yang membuat Tara menolak ajakan menikah dari Ved dan membuat Ved harus kembali ke Shimla. Di kampung halamannya, Ved membuat perhitungan dengan ayahnya. Ved merasa aturan ayahnyalah yang menjadi penyebab, dia harus mengubur sifat aslinya yang spontan, imajinatif, blakblakan.

Eksekusi ending-nya, memang tak mengecewakan tapi kurang gereget, meski pada akhirnya cita-cita Ved terwujud. Terlepas dari itu, sebenarnya, menurut aku filmnya sih oke, dan ide cerita di luar film drama romantis sejenis. Tapi agaknya Imtiaz Ali, sedikit membuat film ini agak monoton dan sunyi yang ‘tidak enak’. Aku pakai tanpa petik, karena ada beberapa film dengan scene-scene sunyi yang enak dijadikan jalan cerita. Aku suka bagian-bagian ketika di Corsica, acting Ranbir dan Deepika benar-benar hidup, liar, gila dan berkembang. Sayangnya ketika berpindah ke scene-scene di India karakter mereka benar-benar berubah, terutama Ranbir. Tapi memang begitulah cerita yang diskenariokan.

Untuk setting, aku suka di Corsica dan Shimla—sebab yang pernah aku bilang, untuk film aku kurang suka setting perkotaan, bosan! Jadi dalam fim ini, Corsica dan Shimla akan memanjakan matamu dengan pemandangan laut, gunung, dan rumah-rumah khas daerah setempat. Sementara musiknya cukup enak. Aku suka lagu Mohit Chauhan, judulnya Matargashti. Scene-nya Ranbir dan Deepika di Corsica. Keren—berasa terbawa ke dalam film Barfi.

Secara keseluruhan aku beri nilai 2,7 dari 5 Bintang untuk film ini. Karena jujur, aku agak kecewa dengan ceritanya yang datar, meski ide Imtiaz Ali menghadirkan karakter Ved yang spontan dan imajinatif memang luar biasa, tapi selebihnya kurang gereget, padahal acting Ranbir maupun Deepika juara sangat! Nah ini ada lirik keren dari soundtrack  Tamasha—yang kurasa mewakili karakter Ved yang menjadi sentral cerita:

Majulah ke depan, curahkanlah isi hatimu.


Jalur impianmu

09 February 2016

Film Review: Bajrangi Bhaijaan & Prem Ratan Dhan Payo

Film: Bajrangi Bhaijaan
Cast: Salman Khan, Kareena Kapoor, Harshaali Malhotra, Nawazuddin Siddiqui
Directed: Kabir Khan

Akhirnya, aku bisa kembali me-review film hindi, setelah bulan lalu me-review Dilwale. Jujur aja nih, aku adalah salah satu penggemar film Bollywood. Sudah hampir tiga tahun maniak film Hindi—sejak keracunan Chennai Express (walau dari zaman SD sudah suka sama jenis film ini, wkwkwkw).

Nah kali ini, aku coba review salah satu film Bollywood yang rilis tahun lalu, tepatnya 17 Juli 2015. Ya, aku baru sempat nontonnya Januari lalu, setelah direkomendasikan dari si film maker Rifky Husain. Film ini berjudul Bajrangi Bhaijaan. Dan sumpah, film ini menjadi film 2015 yang menguras empati sekaligus bikin sedih saking tersentuhnya. Tidak kehitung berapa kali aku meneteskan air mata sepanjang menonton film ini.

Cerita Bajrangi Bhaijaan sendiri dimulai dari hilangnya Shahida atau Munni yang diperankan Harshaali Malhotra, di perbatasan India – Pakistan. Shahida (Munni) sendiri dibawa ibunya dari Pakistan ke Delhi-India untuk berobat karena Shahida bisu. Sayang, saat ingin kembali ke Pakistan, Shahida terpisah dengan ibunya di perbatasan. Tinggalah Shahida terlantar sendirian di India. Pawan Kumar yang diperankan Salman Khan tak sengaja bertemu dengan Shahida setelah melakukan sebuah perayaan dalam agama Hindu. Pawan lantas memberikannya, makan dan minum karena kasihan.

Jalan cerita mulai berubah ketika Shahida diam-diam mengikuti Pawan kemanapun dia pergi. Alhasil, dengan terpaksa Pawan membawa Shahida ke rumah tunangannya. Pawan sendiri memang tinggal di rumah calon istrinya Rasika yang diperankan Kareena Kapoor. Masalah muncul ketika Shahida yang ternyata seorang muslim, sangat bertentangan dengan ayah Rasika yang seorang penganut Hindu. Karena tak ada kompromi dari ayah Rasika dan juga karena rasa humanis, Pawan yang taat pada agamanya, bertekad mengantar pulang Shahida (Munni) ke Pakistan. Dalam perjalanan inilah Salman Khan melewati terjangan rintang yang berliku. Kamu yang menonton di bagian ini, mungkin akan gereget, antuasias sekaligus bercucuran air mata.

Jujur film ber-genre Indian comedy-drama ini, adalah salah satu film India terbaik yang pernah aku tonton. Kabir Khan memang sengaja mengangkat cerita yang berlatar belakang kedua negara yang sempat berkonflik ke dalam sebuah cerita yang manis. Antara India dan Pakistan, Hindu dan Islam. Apalagi film ini dirilis pada tanggal 17 Juli bertepatan dengan Idul Fitri 2015. Sebuah toleransi yang baik ketika Kabir Khan ingin menghadirkan sebuah cerita indah dalam merayakan Idul Fitri di tengah-tengah mayoritas Hindu di India. Ada banyak adegan yang aku suka dalam film ini, terutama ketika Pawan sudah berhasil membawa Shahida ke perbatasan melewati Pakistan, juga pada bagian-bagian mendekati ending cerita yang melibatkan emosi dan antusias. Sementara untuk ending-nya meski sederhana, tapi luar biasa, K. V. Vijayendra Prasad sebagai penulis cerita dan Kabir Khan, sudah memikirkan setting dan situasi yang mewakili Pakistan dan India. Satu hal yang bisa kita ambil dari Bajrangi Bhaijaan adalah sisi humanisnya, apalagi kalau kita lihat, di zaman sekarang ini, kepedulian semakin surut dari sifat manusia modern. Sementara Bajrangi Bhaijaan benar-benar membawa kita merenung, betapa berharganya mengulurkan tangan kepada orang lain.

Untuk acting, Salman begitu apik bermain sebagai Pawan. Namun bagiku sifatnya yang tidak bisa berbohong, terlihat kurang realistis. Sementara Kareena Kapoor agaknya memang diberi porsi yang sedikit, terlihat sekali dari scene-scene-nya. Tak heran jika nanti kamu beranggapan kalau Kareena kurang meng-explore kemampuannya. Tapi…, semua terbayar dengan ceritanya yang luar biasa. Karakter yang paling aku suka, ya tentu karakter Harshaali Malhotra. Menjadi bocah bisu, dia seperti memberikan energi untuk orang-orang di sekitarnya.

Untuk urusan setting, aku suka setting di Pakistan—terutama ketika Salman Khan harus bersembunyi dari kejaran polisi Pakistan. View desa-nya cantik. Ini mengingatkan aku dengan setting Chennai Express, atau mungkin karena akhir-akhir ini aku memang lagi senang nonton film yang setting-nya pedesaan, (tempat terpencil) atau pegunungan—sebenarnya sih efek jenuh dengan kota. Sedangkan untuk musik, rata-ratalah, sebab Bajrangi Bhaijaan sendiri bukanlah film romantis yang mengharuskan full musik seperti film-film Bollywood kebanyakan.

Secara pribadi, aku sangat suka dengan film ini. Pokoknya buat kamu yang belum nonton, film ini aku rekomendasikan sebagai film yang patut kamu nonton. 100% recommended. Sekadar tips juga, selalu siapkan tisu jika kamu menonton film ini. Untuk itu, aku beri nilai 4,5 dari 5 Bintang untuk film ini. Mendekati sempurna kan? Mungkin inilah penggalan lirik dalam salah satu lagu film ini, yang barangkali bisa mewakili kisah Pawan dan Shahida:

Sejak kita bertemu, tujuanku jadi mudah. Karena aku jantungnya dan kau detaknya

***

Nah ada satu lagi film Salman Khan yang baru aku tonton semalam, aku ringkas ya.

Judul: Prem Ratan Dhan Payo
Cast: Salman Khan, Sonam Kapoor, Neil Nitin Mukesh
Directed: Sooraj R. Barjatya

Jujur bagiku, film Prem Ratan Dhan Payo, kurang gereget, meski film ini aku perkirakan menghabiskan banyak uang dalam pembuatannya. Sebab gilaaak, banyak set yang mewah dan melibatkan banyak penari dalam penggarapan adegan lagunya. Prem Ratan Dhan Payo sendiri bercerita tentang keluarga kerajaan di zaman modern, yang saling memperebutkan tahta dan harta. Jujur, ceritanya ala-ala dongeng—dimana ada seorang pria biasa, yang wajahnya mirip dengan pangeran—dan ide cerita seperti ini sudah bisa ditebak plotnya. Tapi di India sendiri, Prem Ratan Dhan Payo termasuk 10 film populis 2015 di India. Di sini, Salman berperan ganda sebagai Prem Dilwale dan juga berperan sebagai Yuraj Vijay Singh (Pangeran Pritampur). Sementara acting Sonam Kapoor, menurutku agak jelek—mungkin perannya sebagai putri Maithili membuatnya kaku. Bicaranya harus ditahan, gaya jalannya diatur, dan penuh perhitungan. Aku sih, lebih suka peran Sonam Kapoor dalam film Khoobsurat yang juga bertema kerajaan.

Tapi buat kamu yang ingin kembali mengenang masa-masa film India yang menghadirkan full tarian dan musik, mungkin film ini akan mengobati rasa kerinduan kamu akan film Bollywood zaman 90an hingga 2000an awal. Setting-nya kece badai sih ya, dan itu tadi kayaknya film ini memakan budget yang amat luar biasa banyak. Soalnya set-set kerajaannya wuidiiih indah bener! Untuk film Prem Ratan Dhan Payo, aku kasi 2,7 dari 5 Bintang.