Available on bookstore

Available on bookstore

13 January 2016

B3: Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi

“Kau percaya masa depan masih memiliki kita?”
“Akan selalu ada kita. Aku percaya.”

Judul: Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi
Penulis: M.Aan Masnyur
Penerbit: GagasMedia

Hoaaah, setelah sekian lama nggak ngeblog, akhirnya aku bisa juga meluangakan waktu menyentuh blog ini. Dan lebih surprise-nya lagi bisa sharing buku-buku yang pernah kubaca, dalam postingan Bilik Buka Buku yang sudah lama mati suri—hampir dua tahun lebih. Bukan karena stok bacaan gak ada, tapi sibuk ngantor dan siaran. Oke, stop curhat, dan mari kita mulai review.

Aku mendapatkan novel Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi dari kakak aku yang tinggal di Bogor, tahun lalu (2015), tepatnya beberapa minggu setelah buku ini resmi rilis di toko-toko buku. Jujur, saat melihat cover novel Aan, aku lebih suka cover-nya Kukila atau Melihat Api Bekerja. Cover Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi terlalu datar dan pengin dibikin kayak lukisan, tapi tak seelok gambar-gambar yang ada dalam Melihat Api Bekerja. Tapi lupakan cover buku, toh isinya buku ini lebih jadi poin penting untuk dibahas.

Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi, berkisah tentang Jiwa Matajang dan Nanti Kinan. Awal novel ini, menceritakan bagaimana patah hatinya Jiwa yang kehilangan Nanti setelah wanita pujaannya itu menikah dengan lelaki kaya tapi mandul, Wisran. Bab-bab selanjutnya, kita diajak untuk mundur, menyesap kisah cinta Jiwa dan Nanti. Ada bagian yang paling kubenci dalam tokoh Jiwa. Dia adalah jenis pria yang gampang jatuh cinta kepada perempuan—meskipun itu manusiawi, tapi menuliskannya dan akhirnya diketahui Nanti seolah mengatakan, “Nanti, kau bukan satu-satunya cinta matiku!”. Sementara salah satu tokoh yang paling kusukai adalah, tokoh Ibu Jiwa. Dia seperti ensiklopedia nasihat yang punya perbendaharaan kata—yang ketika keluar, selalu memikat. Salah satu kalimat yang kusukai adalah: sering kali ada kesedihan yang terlampau besar sehingga cuma rahasia yang mampu menampungnya atau satu-satunya kesialan manusia adalah menjadi dewasa. Masa kecil, seburuk apa pun, tetaplah keajaiban. Sementara, yang bikin ganggu dalam novel ini adalah kisah masa kecil Jiwa (terhitung dari lahiran), jujur saat baca, aku merasa sedang memegang buku supranatural. Jomplang dengan kisah cinta yang dicurhatkan dalam keseluruhan isi novel ini.

Dalam Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi, Aan menulis dengan sudut pandang Jiwa dan Nanti. Jiwa akan berbicara panjang lebar dalam narasi-narasinya, sementara Nanti akan bertugas sebagai penegas, pengoreksi serta penambah cerita dalam catatan kaki. Jujur aku kurang suka Nanti, yang kerap nimbrung dengan catatan-catatannya. Bikin kita kadang lupa cerita sebenarnya. Walau memang gaya Aan ini termasuk cara penulisan yang keluar dari kelaziman. Untuk kamu yang suka dengan puisi-puisi Aan, Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi bisa menjadi salah satu pilihan kamu. Bagiku setiap narasinya adalah puisi atau bisa dikatakan, novel Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi adalah kumpulan-kumpulan puisi-puisi yang dinovelkan. Pilihan katanya keren, sederhana, mengena dan bikin kamu semakin yakin, kalau Aan Mansyur adalah salah satu penulis yang bisa menyulap sekaligus menyulam kata menjadi sebuah bangunan indah. Satu lagi, ada persamaan antara tokoh Jiwa dengan Aan Mansyur, mereka sama-sama seorang pustakawan dan suka menulis puisi. Ataukah Jiwa ini adalah benar-benar sosok Aan yang sengaja difiksikan?

Untuk penilaian aku akan memberikan 2,7 dari 5 bintang. Sebab novel tidak begitu istimewa, tapi sangat baik untuk kamu yang ingin melihat puisi-puisi Aan bercerita dengan cara yang lain. Sebagai penutup, aku akan kembali menuliskan salah satu quote dalam Lelaki Terakhir Yang Menangis di Bumi:

Jika kehidupan adalah buku, memaafkan diri sendiri adalah cara terbaik untuk menyuntingnya.

1 komentar:

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...