Available on bookstore

Available on bookstore

04 February 2016

Bilik Buka Buku: Hujan

Kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa mengentikannya

Judul: Hujan
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia

Hai sahabat blogger, akhirnya aku bisa nge-post Bilik Buka Buku yang kedua tahun ini. Kali ini aku mau review salah satu novel yang terbit akhir Januari 2016 kemarin. Judulnya Hujan, karya Tere Liye—salah satu novelis yang melahirkan novel-novel laris.

Nah, aku sendiri memperoleh novel ini dengan cara pre-order di situs toko online gramedia. Lebih memilih beli online, karena cepat dan tidak buang tenaga juga sih, harus putar-putar toko offline. Lagian dapat potongan harga, tapi harusnya kalau pre-order, ada bagusnya ditandatangani oleh penulisnya sih—ya, sekedar saran aja buat gramedia dan Tere Liye.

Kita bedah dulu ya, dari sisi covernya. Novel Hujan sendiri menghadirkan gambar rintikan hujan atau titik air dengan warna biru pudar—yang memang menggambarkan hujan. Tapi bagi saya ini agak mengecewakan. Untuk sebuah cover dari judul yang tampak marketable ini, sangat datar, malah mirip gambar buku cerita anak. Kenapa tidak menggunakan gambar asli—foto hujan misalnya. Itu lebih terkesan hidup dan suasana romantisnya mungkin bisa saja akan terasa.

Awalnya aku pikir dengan judul Hujan ini—cerita di dalamnya, akan menghadirkan banyak plot-plot sentimental atau membawa orang-orang merasakan banyak kisah romantis—apalagi blurb-nya cukup simple dan ‘menjual’ kata-kata yang setidaknya bikin calon pembeli akan langsung jatuh hati. Tapi… tidak begitu kenyataannya, jadi mari kita mulai me-review novel Hujan ini.

Cerita Hujan dimulai ketika seorang gadis bernama Lail yang harus bertemu Elijah, seorang petugas medis untuk menghapus ingatannya terhadap hujan. Kenapa Hujan? Sebab menurut Lail banyak kejadian-kejadian penting dalam hidupnya banyak berhubungan dengan Hujan—termasuk hubungannya dengan Esok. Novel ini, menggunakan alur maju dan mundur, sehingga ketika awal membaca kita akan langsung ke setting tahun 2050.

Di tahun 2050 inilah, Lail mulai menceritakan kronologis kisah dalam hidupnya kepada Elijah, sebelum petugas medis itu benar-benar memutuskan untuk menghapus semua kenangan pasiennya tentang Hujan. Maka pembaca akan dibawa mundur dengan cerita-cerita Lail, dimulai dari tahun 2042, ketika dia harus menuju sekolah bersama ibunya. Jika kamu pernah menonton film Slumdog Millionaire, kira-kira begitulah alur dalam novel ini.

Ditahun 2042, ketika bencana letusan gunung berapi, yang memporak-porandakan seluruh dunia, Lail diselamatkan oleh seorang pria bernama Esok (Soke Bahtera). Pria inilah yang kemudian membantu Lail melewati hidupnya sebagai yatim piatu akibat bencana besar tersebut. Awal-awal bab dalam novel Hujan memang cukup membuatku terkejut. Harus kuakui, bahwa aku cukup kagum dengan isi cerita—dimana Tere Liye benar-benar melakukan riset tentang bencana gunung berapi dan cukup pintar memikirkan seperti apa nanti tahun 2042, mulai dari teknologinya, perubahan transportasinya dan pembangunannya, ya meski belum tentu akan sebagus itu perubahan di tahun 2042 jika kita masih bertahan hidup hingga tahun 2042. Selain itu, bab-bab awal ada nilai penting yang dihadirkan oleh Tere Liye, yaitu Empati. Bagaimana kita bersikap untuk bisa menolong dan bermanfaat untuk orang lain, serta peka terhadap orang di sekeliling. Ini sungguh-sungguh menyentuh, apalagi sosok Esok benar-benar seperti pahlawan dari negeri ‘antah-berantah’

Cerita-cerita selanjutnya, pembaca akan digiring dengan kisah Lail dan Esok yang menjalani hari-harinya di penampungan, kemudian di panti asuhan, dan kemudian mereka berpisah, lantaran Esok diadopsi oleh walikota karena kepintarannya. Jika kamu jenis pembaca yang mungkin mencari adegan-adegan romantis dalam novel yang terlanjur menjual cinta dalam blurb-nya, mungkin Hujan tidak banyak menghadirkan hal tersebut—tapi itu terbayar ketika kamu menikmati setiap cerita Tere Liye tentang kebersamaan Lail dan Esok di atas sepeda merah atau bagaimana mereka menuju lubang tangga kereta kapsul.

Untuk karakter Lail aku cukup suka, dia pemberani, mau menerima perpisahan dan tidak pernah menuntut. Sementara jujur, untuk Esok atau Soke Bahtera yang digambarkan cukup sempurna dalam novel ini, aku kurang suka, karena memang aku adalah jenis pembaca yang tidak terlalu suka dengan penggambaran karakter yang sempurna dalam sebuah novel. Seperti dongeng jatuhnya. Dan untuk sosok pembantu utama seperti Maryam, bagiku ini yang kelihatan riil. Kribo dan jerawatan. Aku suka. Dan seharusnya seperti ini, tidak melulu seorang tokoh digambarkan punya fisik dan karakter sempurna.

Untuk narasinya, memang tidak bisa diragukan, Tere Liye benar-benar juara dalam novel ini. Latar belakang cerita yang sepintas lewat isinya terasa berat, benar-benar bisa dibikin renyah oleh Tere, sehingga aku pribadi sangat-sangat suka. Kita seperti berada di situasi yang digambarkan oleh Tere Liye dalam Hujan. Bahkan satu minggu setelah membaca novel ini, aku masih merasa seperti berada di tahun sepanjang 2042 sampai 2050, merasakan letusan, ketegangan dan petualangan-petualangan Lail. Jarang-jarang aku meraskan demikian saat baca novel. Sayangnya, Tere Liye kurang menjelaskan sisi filosofis hujan—yang mungkin saja berbeda di kacamatanya.  Aku sih awalnya mengira akan ada banyak makna-makna hujan yang akan dijelaskan menggunakan narasi-narasi cantik di dalam novel ini, apalagi kalian tahu kan? Di luar sana, ada banyak penulis yang memuja hujan dalam cerita-cerita mereka.

Lalu bagaimana dengan ending-nya? Cukup mengejutkan sebab Lail tetap memilih untuk menghapus Hujan agar benar-benar melupakan sosok Esok.

Untuk penilaian, aku beri nilai 3,9 dari 5 bintang untuk novel yang cukup luar biasa ini. Segar secara ide, setting yang ajib (meski tak menyebutkan nama tempat), dan riset yang oke. Sebagai penutup aku beri quote lucu dari novel ini yang lumayan mengena di hati


Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita

8 komentar:

bukannya Lail sudah memeluk kenangan tersebut? dan garis merah seketika berubah menjadi garis biru? dan saat itu juga tidak ada yang bisa dihapus oleh alat itu. Saat Esok datang ke tempat itu juga Lail masih mengingatnya.

bukannya Lail sudah memeluk kenangan tersebut? dan garis merah seketika berubah menjadi garis biru? dan saat itu juga tidak ada yang bisa dihapus oleh alat itu. Saat Esok datang ke tempat itu juga Lail masih mengingatnya.

bukannya Lail sudah memeluk kenangan tersebut? dan garis merah seketika berubah menjadi garis biru? dan saat itu juga tidak ada yang bisa dihapus oleh alat itu. Saat Esok datang ke tempat itu juga Lail masih mengingatnya.

Bagus Bgt novelnya. Ini pertama kalinya saya baca karyanya Tere Liye

Suka dengan novel ini, banyak quotes indahnya :)


Admin, if not okay please remove!

Our facebook group “selfless” is spending this month spreading awareness on prostate cancer & research with a custom t-shirt design. Purchase proceeds will go to cancer.org, as listed on the shirt and shirt design.

www.teespring.com/prostate-cancer-research

Endingnya lail memeluk semua kenangan bersama esok -_-

Post a Comment

Orang Keren Pasti Komentar...